Foto: Taman Budaya Kaltim

DENGAN alasan tidan memiliki anggaran, maka untuk meningkatkan dan menjalankan program yang sudah direncanakan baik, dua tahun terakhir Taman Budaya  Kalimantan Timur jalan di tempat ‘Mati suri’. Cukup memilukan memang, tapi begitulah kondisinya.

Foto: Taman Budaya Kaltim
Foto: Taman Budaya Kaltim

“Bagaimana menjalankan program yang sudah terencana dengan baik, dana penunjangnya tidak ada. Kita sudah mengusulkan pada pemerintah, melalui Dinas Parawisata tapi kenyataanya nihil,” ujar HM. Guntur Kepala UPTD Taman Budaya Kaltim, Kamis (10/3/2016)

Taman budaya sebagai tempat kreatif untuk para seniman dan budayawan, akhirnya malu sendiri, jika ada tamu yang ingin mendapatkan referensi seputar budaya Kalimantan Timur. Kaltim sangat kaya dengan berbagai budaya, misalnya Budaya pesisir, Keraton dan pedalaman, di daerah lain tidak punya semacam ini.

“Bagaimana kita akan mengembangkan budaya pedalaman misalnya, dananya saja tidak ada,” kata Guntur.

Guntur menegaskan, semestinya semua referensi tersedia di Taman Budaya, hasil penelitian dari berbagai etnis di Kaltim mestinya di bukukan baik dalam bentuk Ebook maupun CD. Tapi kenyataannya tidak satu pun hasil dari penelitian tersebut ada di Taman Budaya.

Taman budaya sendiri tidak punya referensi makna dari ukiran dayak, apa lagi menyangkut tatok Dayak Kenyah dan lainnya. “Konon tatok ini tidak sembarangan karena orang tertentu saja yang boleh memakainya, tataok ini khusus para bangsawan Dayak Kenyah,” ujar Amran staf peneliti khusus etnis Dayak Modang.

Guntur berharap tahun ini ada anggaran turun ke instansi yang dia pimpin, sambil menunkkan maket pengembangan Taman Budaya kedepan. Konsep sudah ada tapi bagaimana lagi, Kaltim kaya tapi perhatian pemerinta tentan kebudayaan minim. (Fajar Fahrudin/gf)

TINGGALKAN KOMENTAR