Foto: Suparjo (60 thn) sedang mengecat Topeng gaya Majapahit di bengkel yang juga merupakan tempat tinggalnya. ( Eka Wahyudi)

*Oleh Mohammad Nasai

MALANG – Obor Seni Wayang Topeng Malang masih ada di tangan Mbah Suparjo. Api obor itu masih terus menyala, jika saja padam, bukan tidak mungkin akan kehilangan Topeng Jabung untuk selamanya. Topeng Jabung adalah salah satu dari sekian banyak seni topeng yang kini usianya lebih dari satu abad.

Pemegang obor harus segera ada yang menerima estafet, jika tidak generasi milenial mendatang bukan tidak mungkian, tidak lagi menemukan kesenian khas Malang Raya ini. Seni topeng itu harus dipertahankan, dirawat dan ditumbuhkembangkan. Kini, murid-murid Sang Maestro Topeng Jabung ini telah siap menerima estafet itu.

Dalam perjalananya, Seni Wayang Topeng Malang, telah menjadi seni tradisi yang begitu di agungkan, dalam sejarahnya kesenian ini adalah kesenian para Raja. Di Masa lalu kesenian ini begitu memikat para pejabat dan bupati, hingga puluhan grup topeng tersebar di Malang Raya, terutama Wilayah Kabupaten.

Topeng Jabung adalah salah satu, topeng yang telah berumur lebih satu abad. Topeng Jabung merupakan salah satu generasi Topeng yang dahulunya bersumber pada empu topeng Polowijen, yaitu Tjondro Suwono atau Mbah Reni. Reni tak lain adalah empu wayang topeng dan juru sungging yang terkenal pada masa itu (kisaran tahun 1800an – 1938).

Dari Anak turun Mbah Reni Polowijen inilah kesenian menyebar, Topeng Jabung, Wangkal (Tumpang), Senggreng (Sumber pucung), Selilir (Wagir), Kalisurak (Lawang), dan dari daerah – daerah ini kesenian topeng kian berkembang dan menyebar hingga 30-an grup topeng di Malang Raya.

Garis keturunan Mbah Reni yang hingga kini masih bisa di lacak adalah Topeng Jabung. Dari anak Mbah Reni yang bernama Beji Ruminten. Setelah Beji Ruminten wafat kesenian topeng di estafetkan kepada putranya yang bernama Kangsen.

Kesenian Topeng makin berkembang di tangan Kangsen, terlebih ketika dirinya menjadi kepala desa Jabung (menjabat hingga tahun 1992). Seni Topeng Jabung semakin banyak di kenal dan kian tersohor, dan mencapai puncak kejayaannya. Dan beberapa kali tampil di hadapan kepala negara.

Salah satu sumbangsih topeng jabung adalah yang hingga kini bisa di nikmati oleh masyarakat Jabung adalah perbaikan jalan dan pengaspalan jalan raya dari pasar pakis hingga desa mantren jabung. Capaian itu ketika Topeng Jabung dalam kepemimpinan Kangsen.

Para sepuh topeng mengisahkan bahwa saat itu awalnya pemerintah era Bupati Soewignyo akan mendirikan gedung pertunjukan seni tradisi termasuk topeng jabung di taman wisata mendit.

Namun, sepuh topeng kala itu lebih memilih diperbaikinya jalan raya pakis Jabung, dan permintaan itupun di kabulkan pemerintahan saat itu.

Sepeninggal Kangsen di tahun 1992, tampuk kepemimpinan Kesenian Topeng Jabung di pegang oleh Mbah Giran, dan setelah Mbah Giran berpulang, kepemimpinan Topeng Jabung dipegang Mbah Suparjo hingga saat ini.

Sebagai generasi darah biru Mbah Reni (empu topeng dari Polowijen) Hingga kini, Suparjo terus menguri dan melanjutkan seni Topeng Jabung terus eksis. Meskipun di umur yang sudah di atas 60 dan kesehatan Suparjo mulai berkurang karena asam urat yang di deritanya. Suparjo masih terus berkarya, mengukir topeng topeng, di samping rumahnya di desa Argosari, dirinya kerap menerima tamu tamu ataupun anak muridnya yang belajar menatah atau sekedar bertanya.

Suparjo, mantan kamituo Jabung ini, seakan terus berjuang demi kejayaan dan keberlangsungan Topeng Jabung, kesenian yang menjadi kebanggaan masyarakat dan perjuangan leluhurnya.

Buah ketulusannya dalam keteguhan memegang kesenian Topeng Jabung karyanya banyak di apresiasi dan di koleksi hingga luar negeri. Serta di tahun 2016, Kementrian Hukum dan Ham juga telah memberikan sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk karyanya.

Topeng Jabung, kini geliatnya semakin menyebar, terutama pergerakan muda mudi Jabung serta laku para muridnya. Generasi muda Jabung sangat antusias dalam menyebar dan menggeliatkan kesenian Topeng di tiap kesempatan.

Meskipun begitu, Suparjo sang maestro topeng Jabung seakan tidak tersentuh oleh pemangku kebijakan di wilayahnya sendiri. Sang maestro itu tetap bergerak dan mewedar keilmuaanya pada siapapun yang datang ke rumahnya.

Kerinduan akan suasana kabar geliat Topeng Jabung, seakan menjadi impian semata bagi dirinya yang tidak bisa sambang ke teman seniman Jabung karena kondisi kesehatannya.

Keadaan itu terlihat dari tiap perjumpaan dengan siapa saja yang dirinya selalu bertanya kabar teman-teman seperjuangnya. Suparjo istikomah dengan kesabaran untuk terus berbuat bagi Topeng Jabung. Suparjo namamu begitu besar dan mulia dimata banyak orang, namun tidak terdengar di telinga penguasa.

*Mohammad Nasai, fotografer, jurnalis seni, 0856 4669 4641

Mbah Suparjo meski dalam keadaan sulit berjalan karena asam urat yg di deritanya, beliau terus berkarya dengan topeng topeng gaya jabung. Foto oleh Eka Wahyudi

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here