Topeng Malangan (alshafa)

Topeng Malangan karya Maria dan Djoko Rendy ini akan dipamerkan di Eropa  dan akan dibawa oleh Indonedia Kerja (INAKER)

MALANG – Penggiat Topeng Malangan Maria Carmela kini sibuk denhan persiapan kegiatannya yang akan tampil pada dua negara Jerman dan Pranis.

Perempuan yang akrab disapa Maria, cukup lama telah bergelut dalam Seni Topeng Malangan, dimana saat ini mendapatkan tawaran kerjasama dan pesanan dari seorang budayawan Prancis.

“Saat diminta mengirimkan jenis-jenis topeng yang kita miliki oleh seniman Prancis. Kita bisa menyanggupinya,” kata Carmela, Minggu (5//3/2017).

Kedai Seni Malangan milik Maria yang berada di Pujisari (Pusat Kerajinan Kendedes Singosari), Kabupaten Malang ini memiliki banyak guratan karakter Topeng, disertai identitas melalui penamaan setiap peraga dalam Topeng Malangan yang ada di kebudayaan Singosari.

“Dari sekain banyak yang dipesan seniman asal Prancis, ratusan karakter Topeng Malangan yang bisa kita sediakannya,” katanya.

Memproses semua pesanan dari luar negeri ini,  kini Maria Carmela sedang menyiapkan sedikitnya 40 karakter topeng yang nantinya akan dikirim ke Prancis. Dalam memproduksi Topeng Malangan, Maria juga dibantu Djoko Rendy, yang terbilang piawai dalam membikin Topeng Malangan.

Maria Carmela (alshafa)

“Topeng Malangan ini, semuanya memiliki nama. Tapi, soal nama ibu (Maria-red) yangb lebih paham. Kita ini ibarat sepasang sayap burung merpati yang saling menguatkan,” beber Djoko Rendy.

Topeng Malangan karya Maria dan Djoko Rendy ini akan dipamerkan di Eropa  dan akan dibawa oleh Indonedia Kerja (INAKER). “Teman yang nantinya akan mempublikasikan hasil karya kita ini. Sebab, dia juga pelaku bisnis eksportir handycraft ke Eropa” ucap Djoko Rendy yang juga sebagai penggerak INAKER Kabupaten Malang.

Maria dan Djoko dalam mempersiapkan Topeng Malangan yang dibuatnya mempergunakan dari berbagai bahan. Diantaranya, dari logam, semen dan kayu. Maria juga Maria juga memiliki keahlian dalam memahami watak dan karakter setiap topeng malangan yang ada di bumi Singhasari.

“Topeng-topeng ini kan memiliki watak dan karakter, sehingga setiap bentuk dan warna wajah nya berbeda beda. Setiap topeng memiliki peranan masing-masing dalam watak penokohan.” ucap Maria yang juga konsultan perpustakaan di Yayasan Carmel Kota Malang ini.

Maria Carmela menambahkan, dengan melakukan kegiatan ini maka bisa jadikan sarana untuk melestarikan peninggalan leluhur.

“Melalui budaya, kita bisa merangkul semua pegiat kebudayaan. Saya bercita- cita bisa terakomodir para pegiat seni dan budaya dalam satu wadah, yaitu Budaya Seni dan Ekonomi Kreatif,” tutup perempuan pustakawan yang juga menjabat di APPISI Jawa Timur (Asosiasi Pekerja Profesi Informasi Sekolah Infonesia) ini. (alshafa/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR