Foto: Seniman Melayu Deli (ist)

Semboyan ‘takkan melayu hilang di bumi’ itu hanya buah bibir saja. Jika seniman, masyarakat Melayu dan pemerintah diam saja dan tak ikut ambil peran dalam pelestarian budaya dan kesenian Melayu

JAKARTA – Kian terpinggirkannya budaya dan kesenian Melayu membikin seniman dan pencinta budaya dan seni Melayu menggelar ‘Malam Seribu Gendang’ yang akan digelar, di Anjungan Sumut TMII, jakarta, pukul 19.00 WIB, Jumat (12/5/2017) mendatang.

‘Malam Seribu Gendang’ diprakarsai oleh seniman Melayu yang sering berkesenian di Anjungan Sumut TMII ¬†Jakarta dan Taman Budaya Sumatera Utara, Medan lahir karena keprihatinan atas kian punahnya kesenian Melayu utamanya penabuh gedang.

“Tak bisa tidak, perginya seorang maestro seni tradisi dengan virtuoso yang tak tertandingi, Bang Icik Gendang (H. Zulkifli Lubis-red) telah menjadi ikhwal yang amat serius bagi para sahabat seniman di Anjungan Sumut. Juga para sahabat di Taman Budaya Sumut di Medan yang senantiasa berkomitmen melestarikan budaya Melayu,” kata Kepala Anjungan Sumut TMII, Tatan Daniel, Selasa (12/5/2017).

Tatan mengatakan, ‘Malam Seribu Gendang’ adalah sebuah simbolis bentuk kesedihan dan keprihatinan seniman Melayu yang kini kian terpuruk untuk segera bisa bangkit kembali seperti era tahun 50-an.

“Semboyan ‘takkan melayu hilang di bumi’ itu hanya buah bibir saja. Jika seniman, masyarakat Melayu dan pemerintah diam saja dan tak ikut ambil peran dalam pelestarian budaya dan kesenian Melayu. Sebab, sejak meninggalnya Bang Icik Gedang salah satu mastero gedang Melayu Deli, kini maestro gendang Pak Pong tinggal satu orang yakni, Ahiruddin. Usianya kini pun sudah 70-an,” ucap Tatan.

Yang paling memperihatinkan, lanjut Tatan, Sang Maestro Gendang Pak Pong Pak Khairuddin itu kini sudah tidak memiliki gendang lagi. Sebab, semua gendangnya sudah dijual. Sebagai seorang seniman, Pak Ahiruddin perlu hidup, sehingga semua gendang sang mastero sudah berpidah tangan.

Foto: Seniman Gendang Melayu Alm Bang Icik dan Makyal. (ist)

“Pak Khairuddin ¬†terpaksa menjual semua gendangnya untuk modal menjual bensin di depan rumahnya di Batangkuis, Deli Serdang, Sumatra Utara. Hati siapa yang tak miris mendengar cerita itu. Alangkah sayangnya, jika sang maestro gendang yang tinggal satu-satunya itu, tidak sempat mewariskan ilmunya kepada generasi muda,” paparnya dengan prihatin.

Untuk itulah perhelatan seni ‘Malam Seribu Gendang’ dan doa untuk alm. Bang Icik digelar. Para seniman dengan swadaya khidmad bersiap, mengerahkan segenap fikiran, rasa, dan daya kreatif yang tidak main-main. Mendudukkan dukacita sebagai proses katarsis untuk menjemput semangat. Ini soal rasa kehilangan, penghomatan, dan cara merawat kebudayaan dan spirit untuk mewarisi yang tersisa.

‘Malam Seribu Gedang’ juga akan disambut di Taman Budaya Sumut di Medan, juga di Riau dan dibelahan bumi lainnya dengan memukul gendang dengan waktu yang bersamaan bertanda untuk menjembut semangat.

“Seluruh seniman gendang atau perkusi semoga hadir pada ‘Malam Seribu Gendang’ ya itu seniman gendang Bali, gendang Jawa, Gendang Minang dan Gendang yang ada di bumi nusantara untuk bersama memainkan gedang pada malam itu,” katanya.

Yang tak kalah pentingnya, Seniman yang ada di Taman Budaya Sumatra Utara, pada hari yang sama, Jumat (9/5/2017) akan memberikan gendang baru buat sang mastero gendang Ahiruddin sebagai simbolis agar memberikan ilmunya kepada generasi muda.

“Nanti di Taman Budaya Sumatra Utara di Medan, di hari yang sama akan ada pemberikan gendang baru kepadanya. Dengan meminta agar mau mengajari ilmu gendang Melayu kepada genersi muda, meski di usia senjanya,” kata sambil menatap jauh ke depan. (gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR