Foto: Lakon Datok Syah Bandar Lakon Teater Bangsawan Pakpong Medan

MEDAN – Teater Bangsawan, kelompok teater ini pernah tumbuh subur di kawasan Sumatera Timur ditahun 18-an. Cukup lama teater tradisi Melayu ini tak ditampilkan. Selain itu, grup teaterbangsawan punah sudah tidak ada lagi. Yang paling terkenal grup teater bangsawan Indera Ratu punsudah tak berjejak lagi.

Foto: Poster lakon teater bangsawan ‘Datok Syah Bandar’ oleh Pakpong Medan (ist)

Adalah kelompok Pakpong Medan, sebuah komunitas pencinta dan praktisi Ronggeng Deli, kembaliteater dengan konsep teater bangsawan. Menurut Reto Ayumi, salah satu seniman tari Melayu yang juga salah satu pendiri Kelompok Pakpong Medan mengatakan, pementasan bergaya teater bangsawan ini terakhir di tampil tahun 2007 di Solo dalam acara Pertemuan Taman Budaya Se-Indonesia.

“Cukup lama konsep tonil bangsawan tidak ditampilkan. Teater bangsawan atau tonil ditahun 18-an cukup populer di Sumatera Timur. Sejalan dengan perjalanan waktu, tak ada lagi grup toni bangsawan,” kata Retno Ayumi yang juga seorang kreografer ini, Selasa (23/5/2017).

Alasan itulah, membuat Kelompok Pakpong kembali menampilkan konsep Teater Bangsawan ke atas panggung yang digelar di Taman Budaya Sumatera Utara, Kamis (18/5/2017) lalu. Cerita yang ditampilkan yakni, ‘Datok Syah Bandar’ yang didukung oleh Amir Arsyad Nasution, Syahrial, Iwan Amri, Winarto Kartupat, Datuk Amad, Rubino, Jamal Arkodion dan Aseng.

“Kami juga dengan cerita lain akan tampil di Jakarta. Tapi masih dirumuskan cerita dan waktunya,” kata Rento.

DATOK SYAH BANDAR

Pementasaan yang kocak dan intelek menjadi daya pikat ‘Datok Syah Bandar’ yang dibalut dengan irama khas Melayu. Pentas Dibuka dengan alunan musik segar di bawah komando Syarial. Di pentas sudah ada, Kundan (Junaidi) dan Datok Syah Bandar (Munir Nasution).

Datok Syah Bandar meminta Kundan agar memanggil para saudagar ikan yang sudah menunggak membayar pajak. Kedua tokoh ini sudah sempat membuat pentas menjadi kocak dengan segala letupan guyon mereka ala Bang-Sawan versi Kumpulan Pakpong Medan ini.

Kemudian Kundan memanggil 3 Saudagar satu persatu. Pertama masuklah, Saudagar Ikan Teri (Ahmad). Saudagar Ikan Teri berperan sebagai orang Suku Tamil. Dia beralasan tak bisa bayar pajak lantaran tengah membangun mushala.

Foto: Lakon teater bangsawan ‘Datok Syah Bandar’ oleh Pakpong Medan (ist)

Dengan karakter yang kuat, membuat penonton yang memenuhi Gedung Utama Taman Budaya Sumut di Medan, pun pada Kamis (18/5/2017) terpingkel. Betapa tidak, Ahmad yang sudah lama tak bermain teateritu mampu memukau penonton dengan permainannya cukup berkarater.

Kemudian ada juga Juragan Ikan Tongkol diperankan Jali Kendi. Juragan Ikan Tongkol juga tak mampu membayar pajak, lantaran tengah kecantol dengan seorang janda dari kampung seberang dan hendak kawin lagi.

Adegan ini jug atak kalah lucunya sehingga sepanjang permainan, perut penonton pun dikocok habis dengan permainan joke demi joke serta tingkah yang mereka yang komedi.

Ketiga, Saudagar Samad (AyUb Badrin). Samad datang dengan menangis histeris., sehingga membuat Datuk Syah Bandar kebingungan. Samad mengatakan tak mampu membayar pajak lantaran ikan dilaut mereka dicuri oleh nalayan dari negeri tetangga.

Akhirnya, Datuk Syah Bandar pun merasa hiba kepada ketiganya dan memberi waktu untuk membayar pajak mereka seminggu kemudian.

Tetapi setelah seminggu ketiga juragan ini tak ada yang membayar. Sehingga Kundan mendatangi rumah Samad. Tetapi Kundan tak berani keras lantaran, Samad punya anak gadis bernama Leha.

Cerita makin seru lantaran Datuk Syah Bandar curiga pada Kundan dan membuntutinya. Datuk Syah Bandar marah besar pada Saudagar Samad. Dia membentak-bentak Samad yang nyaris mati ketakutan.

Untunglah Limah (Anna) anak Saudagar Samad keluar. Begitu dilihatnya Limah, Datuk Syah Bandar langsung berubah sikap 180 derajat. Dia malah membebaskan hutang pajak Saudagar Samad.

Sepanjang pementasan berlangsung nyaris penonton tak berhenti tertawa. Cerita ditutup, dengan sabung ayam dan ronggeng. Kejutan, ternyata Limah, istri Datuk Syah Bandar di dalam kurungan ayam. Dia pun mengejar datuk dengan pentungan. (aba/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR