Dancing Out Loud

 Oleh: R. Eko Wahono

Suara tubuh membuka hati. Begitu, tema yang diusung panitia World Dance Day 2014 yang ke 8 berlangsung pada 29 April 2014 di Surakarta mendatang. Dengan menghadirkan nara sumber : (1) Direktur Pembinaan dan Perfilman, Direktorat Kebudayaan, Kemendikbud RI, (2) Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik, Kemen Parekraf RI, (3) Wakil Walikota Surakarta (3) Pimpinan Peserta WWD 2014 dari Singapura (4) Mustakim Biawan dari NTB.

Dalam ‘World Dance Day 2014’  akan didukung kelompok seni dari 33 provinsi di Indonesia, Perguruan Tinggi Seni dan Perguruan Tinggi yang memiliki program atau jurusan seni di Indonesia hingga peserta dari luar negeri seperti : Belanda, Bulgaria, Swedia, Singapura, Malaysia, Brunai, Jepang, Taiwan, Korea, Australia, Inggris, Amerika, India, Amerika Latin. Keseluruhan peserta akan luruh dalam gelar “Solo 24 Jam Menari”.

Musbiawan
Musbiawan

Hal menarik dari event Internasional tersebut adalah melibatkan nara sumber Mustakim Biawan. Tokoh yang dikenal bukan saja sebagai mantan Kepala Taman Budaya Provinsi NTB era 90an, mantan Ketua Dewan Kesenian Daerah NTB (99), melainkan sebagai pelaku kesenian khususnya, pencipta lagu dan naskah drama radio. Selain itu, beliau cukup dikenal sebagai pembicara baik di tingkat lokal maupun nasional.

Mustakim Biawan atau lebih akrab disebut Musbiawan lahir di kampung Motong, Kecamatan Utan/Rhe, Kabupaten Sumbawa pada 26 Juli 1940. Meski berlatar jurusan Ilmu Pasti (BI) sejenis Matematika, namun naluri berkesenian yang kental mengalir dalam darah dagingnya. Tidak banyak memang republik ini melahirkan sosok seperti Musbiawan.

Ia dikenal vokal dan sangat disiplin terhadap waktu. Sebagai contoh, ia melanggar aturan protokoler gubernur yang saat itu seharusnya membuka sebuah acara kesenian di gedung teater tertutup Taman Budaya NTB. Namun, sosok yang ditunggu tak kunjung tiba. Penonton mulai gelisah. Lalu ia putuskan agar MC segera memulai acara tanpa harus menunggu kehadiran seorang gubernur. Tentu saja tindakan tersebut dianggap “gila” oleh sebagian pejabat setingkat eselonnya. “Seorang pejabat harus memberi contoh yang baik pada rakyatnya,” tegas Musbiawan.

Musbiawan2
Musbiawan

Kecintaannya pada dunia seni ia tunjukkan tidak saja sewaktu menjabat sebagai Kepala Taman Budaya Provinsi NTB. Seperti lazimnya seorang pejabat, setelah pensiun tak pernah menampakkan batang hidungnya. Berbeda dengan yang dilakukan seorang Musbiawan. Sesekali, dengan berjalan kaki dari rumahnya, ia coba menyempatkan waktu untuk duduk-duduk di warung pak Zakaria (warung di pojokan Taman Budaya NTB).

Tentu saja, kecakapan dan keseriusannya dalam dunia seni pertunjukan tak lepas dari binaan selama ia berada di Padepokan Seni Bagong Kusudiardjo, Yogya (era 70an). Tak heran jika ia diundang sebagai pembicara di Seminar Seni Kawasan Timur Indonesia di Kelimutu Flores (MSPI-Ford Foundation), Musyawarah Dewan Kesenian di Medan (1995), Seminar Seni Pertunjukan Seni I di STSI Solo 1998 (Ford Foundation), Temu Teater di Yogya (1999), Temu Ilmiah Internasional MSPI – Tirtagangga-Bali (1999), Kongres Kebudayaan Nasional V di Bukit Tinggi (2003) dan sebaginya. (Biro NTB/gr)

Foto: R. Eko Wahono

TINGGALKAN KOMENTAR