Foto: Tommy F. Awuy dalam diskusi Lake Toba Film Festival. (ist)

MEDAN – Lake Toba Film Festival yang digagas Rumah Karya Indonesia lahir sebagai media apresiasi baru dan tampil sebagai media penyambung untuk menyampaikan pesan-pesan kaum yang termajinalkan ( terpinggirkan, tema ini disambut baik oleh Tommy F. Awuy bahwa film harusnya menjadi sebagai media edukasi dalam mengkampayekan nilai-nilai lokal.

Lebih lanjut dosen filsafat fakultas ilmu budaya Universitas Indonesia mengatakan bahwa film karya anak-anak Indonesia tidak kalah menarik dari film-film buatan amerika dan eropa hal itu ditandai dengan beberapa film Indonesia yang sudah meraih penghargaan dalam festival film internasional. Lebih lanjut Onny Kresnawan Filmaker Sumatera Utara menyampaikan dalam materi workshopnya bahwa perlawanan bukan semata fisik namun perlawanan bisa lewat media film dan menyampaikan pesan kepada pengambil kebijakan.

Kegiatan yang dilangsungkan selama tiga hari ini mulai tanggal 01-03 Desember di kabupaten Samosir sarat dengan nilai-nilai lokalitas dan perjuangan baik dalam sisi budaya, lingkungan. Film Ahu Parmalim menjadi salah satu film yang diputar dalam kegiatan ini lewat kerjasama dengan Komunitas Kampung Halaman. Film “Ahu Parmalim” juga bercerita bagaiamana perjuangan Parmalim bagaimana Agama ini sebagai agama lokal dapat sejajar dan di akui di Indonesia.

Dr. Daniel Irawan salah satu kritikus film yang hadir dalam tema diskusi ini juga menyaikan bahwa Danau Toba penuh cerita dan sangat layak menjadi festival film bergengsi di Indonesia.
Ori Semloko selaku direktur Rumah Karya Indonesia dan sekaligus manajer festival menyatakan bahwa Lake Toba Film Festival berhasil mengumpulkan 9 Kategori untuk umum dan 9 Film dari kategori pelajar semuanya bertema tentang lingkungan dan pengumuman pemenangnya akan disampaikan pada hari ini sabtu 02 Desember 2017 dimulai pukul 20:00 wib. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR