MEDAN – Seni Ronggeng tak boleh binasa. Inilah yang membuat seniman Medan yang tergabung dengan Perkumpulan Pak Pong Medan menghidupankan kembali Seni Ronggeng. Tidak terasa sudah 9 kali Ronggeng dipanggungkan yang digelar setiap bulannya di Open Stage Taman Budaya Medan (TBM), Jl. Printis Kemerdekan, Medan, Sumaterab Utara.

Etnomusikolog Rizaldi Siagian memberikan referensi, bahwa Ronggeng masuk ‘seni cerdas’ yang kekuatannya bukan pada musik atau tangga nada. Kekuatan ronggeng itu di narasi. Dalam narasi ada cerita, falsafah, maupun kearifan lokal yang bisa menjurus ke arah ekonomi kreatif.

“Sekarang ini narasi adalah kelemahan kita. Kita sudah terbiasa tergantung dengan kekuatan ingatan, meski terbatas,” kata Rizaldi, Kamis (26/10.2017).

Di dalam narasi banyak pesan-pesan tentang hidup dan falsafah dari masa lampau, warisan leluhur yg kaya dengan kearifan lokal. Tanpa kita sadari kita membiarkan seni tercerabut dari konteksnya kehidupan itu sendiri.

“Dalam melodi yang sama kita mendengar pesan-pesan kegembiraan, kesedihan ataupun perjuangan,” kata Rizaldi.

Dari Jakarta kami bersama mempunyai misi: bagaimana kita menghidupkan seni-seni di Sumut yang kini kepayahan. Hidup segan mati tak mau.

Kumpulan Pakpung Medan menggelarnya setiap malam Sabtu, minggu ke dua, setiap bulannya.

Tak disangka Kumpulan Pakpong Medan bisa menggelarnya hingga yang ke 9. Luar biasa. Tak dinyana juga, alm. Zaki Abdullah, tokoh pers Sumut dan juga, Direktur Komisi Informasi Publik Sumut, hadir.

“Seakan kedataangannya ke acara Ronggeng di Taman Budaya Medan, ingin pamitan kepada seniman di Medan. Sebab, setelah tiga ia pun berpulang,” kata Ahamd Binjai salah satu aktifis Kumpulan Pak Pong Medan.

Sebenarnya bukan kali ini aja Zaki Abdullah hadir. Sejak awal pertama ronggeng digelar, Zaki Abdullah sudah hadir menonton. Tetapi beliau memang, murni hanya ingin menonton, Jadi tak ingin diketahui. Beliau selalu duduk di sudut di tempat yang agak temaram.

Kalau tak salah lebih dari 5 kali, Zaki Abdullah muncul diam-diam menonton Ronggeng. Dia ditemani anak, cucu dan istrinya. Banyak yang tahu. Tapi penyelenggara belum ‘engah’ untuk mendaulatnya ke arena ronggeng.

Tentu saja kehadiran Zaki Abdullah menambah meriahnya suasana ronggeng. Apalagi di malam itu hadir pula beberpa seniman yang selama ini tak bisa hadir seperti Baharuddin Saputra, Yondik Tanto dan Idris Pasaribu. Tentu suasana ronggeng ke-9 itu menjadi lebih istimewa.

Sayang, malam itu tak hadir tokoh ronggeng Pakpung Medan, Retno Ayumi. Maka lumayan litaklah, Amir Arsyad Nasution dan Syaiful Amri. Apalagi Munir Nasution yang biasanya menambah suasana lucu tidak hadir. Syahrial Felani pun seperti ‘mati gaya’.

Ronggeng ke-9, memang unik. Sejak ronggeng perdana, baru malam itulah, Ronggeng memakai tema. Tak tanggung-tanggung. Syaiful Amri langsung menggoreng isu, ‘Medan Sejuta Lobang’. Sebuah tema yang berat.

Temanya memang berat. Namun ditangan Syaiful Amri dan kawakan Amir Arsyad, tema itu pun menjadi cair. Liatlah Syaiful Amri, dia mampu menyanyi berpuluh-puluh pantun jenaka sambil menari. Dia malah lompat Kijang. Berlari meliuk, lincah, nakal tetapi begitu indahnya.

Amir Arsyad adalah raja pantun yang tak ada duanya di Medan. Jika pun ada Retno Ayumi.

Tetapi taklah setahan Amir. Lelaki yang juga MC kondang ini, bisa memantunkan apa saja secara spontan. Maka ronggeng ke-9 malam itu, benar-benar hidup dan meriah.

Penari-penarinya pun elok. Gadis-gadis jelita itu dari sanggar Semenda Produktion. Asuhan Dilinar Nasution. Agaknya Dilinar menurunkan penari-penari terbaiknya. Bahar dan Yondik Tanto pun tergoda. Mereka meronggeng. Ditemani gadis cantik. Duh suasana pun terbangun.

Seri Mersing membuat Bahar tak kuat untuk menahan dompetnya. Dua Lembaran merah, tercabut dari dompetnya. Bahar mendapat hadiah pantun dari Syaiful.

Kalau akar katakan akar, Akar dari sirumput teki, Dapat sumbangan dari si Bahar, Semoga beliau banyak rezeki.

Penonton pun terbahak. Senang. Sambil menikmati bandrek buatan Amat Binjai, salah satu personil Kumpulan Pakpung. Dia peduli tradisi. Muslim Tamil yang peduli Budaya Melayu. Amad hanya sutu-satunya di Medan.

Kembali ke Zaki Abdullah. Dia didaulat. Lalu diwawancarai Amir Arsyad dan Syaiful Amri.

“Bang apa kesan Abang, terhadap Ronggeng Pakpung Medan ini?” kata Amir Arsyad.

“Sangat baik. Jangan berenti. Saya dari muda sudah hobbi ronggeng. Dulu sama Idris juga. Atok Ai atau almarhum Dahri (Dahri Uhum Nasution, red),” kata Zaki.

Kemudian Zaki juga diminta menyanyi. Semula kita menduga dia akan menolak. Ternyata salah. Zaki Abdullah melantunkan satu lagu, yakni lagu satu. Mak Inang. Penonton bertepuk. Ternyata Zaki Abdullah, keren.

Ada pula Choking Susilo Sakeh. Tetapi jika Zaki Abdullah dan Idris Pasaribu, bertahan hingga akhir acara, Choking pulang. Sebelumnya, Choking dihadiahi pantun oleh Amir Arsyad. Mungkin itu yang membuat Choking, tiba-tiba menghilang. Tak tahulah. (aba/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR