foto: Wan Hidayati

MEDAN – Meriah, itulah kesan pertama saat menyaksikan aransement musik olahan Sumatra Incidental Music (SIM) yang digelar di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Sabtu (1/9/2018).

Cukup lama seniman Hendri Parangins dan Winarto Kartupat tidak membuat gebrakan musik. Kalau dihitung lebih dari 7 tahun. Dan masyarakat yang rindu akan penampilan mereka tentu saja berharap.

Kedua seniman ini sepertinya sedang “marah”. Marah lantaran nyaris tak ada yang serius ketika menggarap sebuah karya. Sebuah produk seni sekligus juga sebuah peristiwa seni.

Tengoklah apa yang dikerjakan Winarto Kartupat saat menyeting sebuah pertunjukan musik. Saat memberikan makna dan simbol simbol yang susunnya sedemikian teliti dan artistiknya. Meski hanya memvisualisasikan Janur dan Bambu. Mengisyaratkan pada penonton, bahwa mereka mengambil nada nada pada etnis Karo.

Foto: Konser Sumatra Incidental Musik (ist)

“Aku menggunakan janur dan bambu. Masyarakat selalu menggunakannya jika mereka mengadakan pesta,” ujar Winarto.

Bambu bambu itu ada yang dijejejr bagikan umbul umbul. Pada ujungnya digantun anyaman janur. Murah, tapi artistik. Lalu menuju panggung, ada gerbang berbentuk segitiga, yang kiri kanannya dipasang lampu sentir. Mirip gerbang zaman kerajaan.

Panggung juga. Ada gong besar terbuat dari sterefom. Digantung pada beckground bambu juga berbentuk segitiga. Dibawah gondang sembilan, membuat pangung terlihat sedemikian artistic dan megah.

Ini proyek Taman Budaya Sumut. Itu dikatakan Kepala Taman Budaya Sumut, Denny Herfriansyah SH saat sambutan. Proyek ini menggunakan dana APBD 2018.

Tetapi bukan itu yang ingin dikatakan dua seniman musik super talenta ini. Mereka ingin mrngatakan, kami bisa lebih dari sekedar proyek yang tidak seberapa itu.

“Bukan soal proyek tak proyek tak proyek,” kata Winarto lagi. “Masalahnya, ini kesenian yang harus disuguhkan kepada peonton. Kalau bicara proyek, dana yang diberikan taman budaya pastilah tidak cukup. Tapi kita harus tetap memberikan yang terbaik,” sambungnya.

Musik Sumatera Insidental ini memang unik. Mereka seperti mengawinkan musik tradisi dengan musik modern. Hasilnya mengejutkan. Ada nuansa musil etnik ditengah tengah gemuruhnya kemajuan modernisasi. Ini sesuatu yang beda.

Insidental didirikan pada tahun 2000. Itu berarti group musik ini sudah berdiri 18 tahun. Namun pada malam itu masih terasa sedikit tak kompak lantaran lama tak konser.

Sabtu malam itu, mengusung tema ‘Live in Concert Sumatra Incidental Music’ (World Music Performance) Hendrik dan kawan selama sekitar dua jam tampil dengan sejumlah lagu, mengisi program kegiatan TBSU yang merupakan unit pelaksana teknis dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Utara (Sumut).

Sesungguhnya penampilan Sumatra Incidental Musik malam itu tetap dan kian memukau. Suguhan mereka
kali ini diselingi pembacaan puisi oleh Pimpinan D’lick Theatre Team Yondik Tanto dan Kepala Disbudpar Sumut Dr Ir Hj Hidayati MSi.

Jujur, dibanding beberapa penampilan Sumatra Incidental Music sebelumnya justru kehadiran penampilan pembacaan puisi tersebut terasa agak melemahkan perjalanan performa grurp musik itu kali ini.

Meski begitu, secara keseluruhan malam itu Sumatra Incidental Music tetap tampil energik, komunikatif dan menginspirasi.

Satu lagi kekhasan Sumatra Incidental Music, di tengah era yang diistilahkan milenial ini, mengetengahkan lagu dengan musik hasil eksplorasi dari kekayaan tradisi khususnya dari ragam etnis di Sumut, tetap dipertahankan.

Hasilnya, meski mematri nuansa daerah ke benak penikmat, namun tak ada kesan ketinggalan zaman.

Sedikit catatan, Kepala Disbudpar Sumut Dr Ir Hj Hidayati MSi, di sela pidato sambutannya sebelum membuka pergelaran Sumatra Incidental Music, sedikit menegur pihak TBSU yang terkesan gagal menghadirkan penonton dengan jumlah selayaknya pergelaran musik di tempat terbuka.

“Semua ini sudah bagus. Sayang penontonnya tidak seimbang. Ini kurang publikasi atau bagaimana ini,” pungkas Hidayati.

Sementara itu dari mulut ke mulut terdengar, anggota isidental tidak mendapat keuntungan finansial. Semua dana proyek sengaja dihabiskan untuk pertunjukan.

Mereka katanya ingin memberi pelajaran kepada pihak TBSU, agar selektif memberikan dana proyek dan belajar bagaimana menyeleggarakan sebuah kemasan seni yang menarik. (ab/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR