JAKARTA – Memukau konser yang bertajuk Konser Rakyat Leo Kristi yang akan digelar pada Sabtu, (1/11/2014) di Anjungan Sumatera Utara Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Malam yang cerah dan lampu yang menerangi rumah adat Toba dan Dairi membuat susana begitu syahdu.

Dalam peluncuran album ke-13 pemusik troubadour asal Surabaya berusia 65 tahun ini, Kepala Anjungan Sumatera Utara, Tatan Daniel, mengatakan saatnya Leo Kristi memberikan sentuhan etnik Batak Toba dalam album berikutnya.

“Leo Kristi saya harap bisa duduk di tepi Danau Toba.  Tidak sekedar duduk, tapi juga berkarya dengan sentuhan musik etik Batak Toba,” kata Tatan Danil. Langsung disambut meriah oleh Komunitas Pecinta Musik Leo Kristi (LKers) yang memadatai pelataran Anjungan Sumatera Utara TMII, Sabtu Malam (2/11/2014).

Dalam kesempatan itu tatan Danil memberikan Ulos kepada Leo Kristi. “Ulos ini agar tetap sehat,” katanya.

Untuk diketahui, dalam acara tersebut, sedikitnya 50 musisi tiup, gesek, petik, dan perkusi memainkannya, selain melibatkan paduan suara dewasa dan anak-anak. Dua penyanyi tamu, Berlian Hutauruk dan Trie Utami, dilibatkan dalam album ini. Juga dua gitaris top asal Bali, Balawan dan Dewa Budjana, serta dua pemusik kontemporer asal Malang, Wukir Suryadi dan Redy Eko Prastyo.

Album Hitam Putih Orche berawal dari ide Andang Bachtiar, doktor geologi yang kini anggota Dewan Energi Nasional, dalam obrolan santai di tepi Setu Babakan, Jakarta, pada awal 2014. Lalu LKers “sebutan untuk Komunitas Pecinta Musik Leo Kristi” menggodok rencana produksi album ini di kota asalnya, Malang, dan rumahnya di Bekasi. Akhirnya disepakati untuk mewujudkan obsesi lama Leo Kristi: rekaman album orkestra, agar lagu Konser Rakyat menjadi seri nyanyian Nusantara, bahkan mendunia. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR