MAGELANG – Dengan latar belakang Candi Borobudur yang indah, ribuan payung aneka warna, gambar dan ukuran menghiasai Taman Lumbini komplek Taman Wisata Candi Borobudur, 7-9 September 2018.

Payung yang digantung dan ditata rapi itu, merupakan payung tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara seperti India, Pakistan, Thailand, dan Jepang.

Inilah Festival Payung Indonesia (FPI) ke-5 yang pertama kali digelar di Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Tahun-tahun sebelumnya FPI dihelat di Kota Solo.

Tepat pukul 20.00 WIB, diawali dengan senandong Komunitas Ronggeng Deli (KRD) Jakarta tampil memukal pengunjung.

Dibuka dengan senandong dan salam ‘ahooi’ oleh Herman Lunk, disambut dengan narasi oleh Retno Kampoeng, dengan rangkaian tamsil filosofis tentang makna payung dalam budaya Melayu, segera ronggeng menghentak dan menderu. Serampang Duabelas pun digelar di bawah langit malam Borobudur yang hangat.

Tak ketinggalan senandung melayu Asahan, berbalas pantun, petatah petitih, dan berdendang sambil menari yang di iringi musik tradisi melayu memberikan penampilan yang sungguh luar biasa adanya.

Tampilnya, KRD langsung memikat penonton. Betapa tidak, penampilan panggung yang ditampilkan tidak saja memanjakan mata, tapi juga telinga para pengunjung yang hadir malam Satu Suro itu.

Foto: Komunitas Ronggeng Deli (KRD) Jakarta dalam Festival Payung Indonesia 2018 di Taman Lumbini Kompleks Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. (ist)

Bagi Tanah Jawa, penampilan KRD yang dipimpin seniman kawakan Tatan Daniel telah menggetarkan Mataram di malam itu.

“Ini sebuah pertujukan yang luar bisa dari KRD. Tidak saja penampilan yang apik, tapi bisa tampil di kawasan Borobudur yang penuh sejarah itu punya arti sendiri. Sulit terlupakan,” kata Tatan Daniel kepada gapuranews.com, Kamis (13/9/2018).

Tatan pun berharap, kedepannya KRD bisa lebih baik lagi tampilnya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR