Foto Ilustrasi (ist)

KOMUNITAS Pecinta Seni dan Budaya menggelar demo di halaman Balai Kota Kediri, Senin (12/10/2015). Masyarakat bukannya ketar-ketir dengan para pengunjuk rasa tersebut, sebaliknya malah terhibur. Sebab para pengunjuk rasa merupakan aktifis seni dan budaya. Aksi mereka menjadi tontonan yang mengasyikan  bagi warga sekitar.

Betapa tidak, para pengunjuk rasa menggelar aksinya dengan menampilkan Kesenian Reog maupun Jaranan secara. Para pendemo tersebut membawa seperangkat alat musik lengkap beserta karakter-karakter reog.

Pengunjukrasa secara bergantian mempertontonkan kelihaiannya bermain kesenian khas Kediri itu. Mereka melakukan aksi itu hingga lebih dari 2 jam sekalian menunggu perwakilan mereka yang tengah ditemui oleh perwakilan pemerintah.

Hal itu menjadi tontonan gratis bagi masyarakat sekitar Balai Kota maupun pengguna jalan yang berhenti sekedar melihat. Nampak penonton dari beragam usia, terutama anak-anak, duduk berjajar melihat penampilan para pengunjukrasa.

Sebelumnya diberitakan, aksi itu sebagai protes atas adanya kejanggalan dalam delegasi kesenian wakil Kota Kediri dalam ajang Festival Reog Nasional XXII di Ponorogo pada Sabtu 10 Oktober 2015. Kontingen tersebut dianggap bukan merupakan kontingen grup jaranan asli Kediri.

Grup tersebut, menurut pengunjukrasa, adalah grup luar Kota Kediri yang mengatasnamakan Kota Kediri dan dibiayai oleh anggaran daerah untuk mewakili Kota Kediri. Ini menurut pengunjukrasa menjadi ironis karena perhatian pemerintah terhadap Kesenian Jaranan di Kota Kediri saat ini cukup minim.

Dengan adanya delegasi yang disebut abal-abal itu dianggap mencoreng wajah kesenian Kota Kediri sehingga meminta penjelasan dari Disbudpar sekaligus meminta Wali Kota Abu Bakar turun tangan menindak masalah itu. (jt/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR