CATETAN TH. 1946
Karya: Chairil Anwar

Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai,
Mainan cahya di air hilang bentuk dalam kabut, Dan suara yang kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.

Kita — anjing diburu — hanya melihat sebagian dari
sandiwara sekarang
Tidak tahu Romeo & Juliet berpeluk di kubur atau
di ranjang
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.

Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu;
Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak
lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering
sedikit mau basah!

1946
Chairil Anwar
Buku: Aku Ini Binatang Jalang

Salah satu bait dalam puisi ini diambil menjadi tajuk acara ‘Mengenang Chariril Anwar’ pada malam baca puisi bulanan Komunitas Kata Kata, Jumat (26/4/2019) malam.

Tsi Taura baca puisi. (ist)

Dalam acara yang digagas Porman Wilson dan kawan kawan ini, juga memberikan Anugerah Sastra kepada dua penyair Sumatera Utara yaitu Damiri Mahmud dan (alm) NA Hadian.

Sayang malam itu acara terganggu oleh hujan deras yang turun di Kota Medan sejak pukul 19.00 WIB. Acara yang semula direncanakan pukul 19. 30 WIB diundur hingga hujan reda sekitar pukul 21.00 WIB.

Diputuskan panitia untuk menonton dalam jarak dekat, menyatu dengan pengisi acara. Penonton yang semula diplot duduk di bangku taman, akhirnya di atas panggung open stage setelah disediakan kursi lipat merah.

Anugerah diserahkan oleh Tsi Taura dan Yulhasni. Suasana memang menjadi haru juga ketika, NA Hadian yang dijuluki presiden penyair itu harus diwakilkan oleh Terbit, salah seorang Staff Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Sumut. Sebab dikalangan penyair Kota Medan, NA Hadian dikenal sebagai penyair ‘sunyi’. Hidupnya sebatang kara.

Saat Wan Hidayati baca puisi (ist)

NA Hadian diakhir masa hidupnya, sempat menggelandang. Setelah ditinggal mati istrinya, Hadian sempat berumah tangga lagi. Namun entah mengapa, istrinya meninggalkannya. Konon melarikan uang hasil penjualan rumah. Sejak itu Hadian menggelandang dan tidur di musala Taman Budaya Sumut (TBSU) sampai ajal menjemput.

NA Hadian tak pernah berhenti menulis puisi. Dia menulis puisi di selembar kertas dengan pulpen. Lalu puisi itu ditempel di selembar karton bekas. Lalu dia mendatang datangi teman-temanya. Puisi itu ‘dijual’. Menurut cerita yang berkembang, banyak anggota dewan di tahun sembilan puluhan itu yang “membeli” puisinya. Diantaranya Zulkarnain Malik. Safwan Hadi Umri juga selalu mengambil puisi puisi NA Hadian sewaktu menjadi Ketua DKSU dan juga Ben Pasaribu (alm).

Kehidupan NA Hadian mirip juga dengan gaya hidup Chairil Anwar. Seperti ‘Binatang jalang dari kumpulan yang terbuang’. NA Hadian juga menyerang terjang dengan puisi puisinya. Menurut catatan di internet ada dua buku kumpulan puisinya, yakni Dialog Pisau dan Luka Dunia, Luka Ku, 1993.

NA Hadian ditemukan sakit di musala TBSU. (Alm) Irma Karyono bercerita, dia menemukan penyair yang kerap berjalan kaki sepanjang hari di Kota Medan itu, terkulai lemah. Kemudian bersama (Alm) Putra mereka gotong dan diantarkan ke rumah saudaranya di bilangan Kampung Kolam Tembung. Di sanalah kemudian NA Hadian berpulang ke Tuhannya.

Malam itu ada belasan penyair dan deklamator baca puisi diantaranya Damiri Mahmud, Tsi Taura, Yulhasni, Idris Pasaribu, HM Yunus Tampubolon, Tengku Rina Usman, Patia Rasima, Eva Susanti, F Adla Hasibuan, Wan Hidayati, Dimar, Bunda Djibril Djuhra, Sulaiman Sambas, Umar Zein, Mahyudin Lubis, Kamal Nasution, Teja Purnama, dan musikalisasi puisi oleh Hujan Katakata dan Ronald Tarakindo Rajagukguk Medan.

Acara dimulai dengan penampilan Hujan Kata Kata oleh Rudi Syarif dan kawan kawan. Sebuah musikalisasi puisi berjudul Surat Chairil Buat HB Jasin. Sebuah pertunjukan yang layak diapresiasi.

Hujan baru saja berhenti. Sambil menonton satu demi satu penyair dan deklamator membaca puisi, penonton yang tidak banyak itu, bisa menghangatkan tubuh dengan bandrek dan kudapan roti. Barangkali suasana yang sempat meredup itu bisa kembali terbakar.

Lihatlah saat Tsi Taura membaca puisinya, ‘Bung’. Lantang dia bersuara, ini puisinya;

B U N G

bung
kuingat jauh sejauh cintamu di pulau
caramu mengasihi ibumu
mencerai gedong belanda
melepas dekap rindu ayahmu

aku tak luncur sebiji zarahpun hina dina malammu
menikmati kemiskinan dalam istana yang tak tersentuh
berkelayapan seperti kupu-kupu tak berumah
menghumbar segala kau mau
merdeka tetap kau pekikkan

pena juangmu
amuk semangat
merdeka tak menghapus sajakmu
mestinya kaulah pahlawan yang tercatat di buku penyair
dan dalam sejarah yang jujur

malam ini kami menziarahimu
ril, maaf tak kubawa rokok di saku bajumu
kusenandungkan doa bertemu kekasihmu
aku yakin kau menyebut Allah
ketika perpisahan jasad dan ruh

ril, tidurlah lagi
tutup telingamu
kampung kita sedang bernyanyi

Idris Pasaribu saat baca puisi (ist)

Atau Idris pasaribu yang juga tak kalah lantang, saat membacakan ;

AYO BUNG

semasa kecil bergelayut pada kereta
bersembunyi pada spoor belakang
dari kisaran ke medan di sela-sela getah rambung
diiringi desah-desah lokomitif uap
di antara bal dengan bal lainnya
sang ayah terkejut
anaknya lebih dahulu tiba di rumah batu
niniiik… sang ayah membentak terkejut
sedang dia duduk membaca koran di gerbong tengah
saat peluit melengking
ayah melambai tangan pada ninik di peron statsion
pertanda ucapan selamat tinggal

bersama sang ibu menembus rumah batu
pergi mendiami batavia dengan hirup pikuknya
meneriakkan merdeka
mengiringi rengas dengklok
antara kerawang dan bekasi

kini dia chairil, bukan ninik lagi
chairil yang mengajak mengepalkan tinju
kepada bung karno kepada bung hatta
kepada bung sahril
ayo bung… ayo !

masa kecil spoor tempat ninik barmain
hilir -mudik melintas barisan rambyng
tubuh mungil digoyang spoor saat berjalan
rela dihimpit dan dijepit bal-bal getah rambung

Chairil,
tidak lagi teriak merdeka pada hiruk pikuk batavia
dengan diam mencari inspirasi dan ilham kemana saja
melintas gang sempit dalam gulita malam jakarta
bersama dayang-dayang di gerbong-gerbong spoor
dia menggoyang-goyang poor yang berhenti
dengan desahnya sendiri
bukan desah lokomotif

menyeruput kopi dan membacakan sajak-sajaknya
usai dia dijepit-jepit
bukan jepitan bal-bal getah rambung

sang dayang yang tak mengerti sajak menyebutnya gila
marah dan berteriak chairiiil…
bayar aku dengan uang
bukan dengan sajak-sajakmu
aku butuh makan !

Atau Yulhasni yang malam itu dapat hadir. Dia menggambarkan jika Chairil masih hidup di zaman ini. Yulhasni mencoba mengungkap kepiluan hatinya, tentang banyaknya rakyat di negeri ini yang mati muda, tetapi tidak seharusnya. Seperti puisi yang dibacakannya itu. Ini puisinya;

Jangan Mati Muda
*kepada Chairil Anwar

Bung,
Jika kau tak mati muda
Aku yakin lahir bait puisi
Tentang negeri yang tlah tercabik emosi
Kau tau
Di negeri ini
Tak ada lagi dermaga di pelabuhan cinta
Tak ada gadis Dian Tamaela
Mati muda mati sia-sia
Karena pilihan yang berbeda
Jika kau di sini, Bung
sajak-sajak cintamu
tlah musnah dilalap api dendam
disekap bara kebencian
bersubahat atasnama kemenangan
Bung,
Musuhmu Belanda
Musuh kami saudara
Amarahmu Krawang dan Bekasi
Amarah kami Pejuang dan rasa benci

Kami tak lagi menjaga bung karno, bung hatta, bung
syahrir
Di garis batas sakwa sangka, kami menabur
benih-benih pertengkaran
Hei, Bung
Bangkitlah kau dari kubur
Bawakan kami merah putih
Agar pertengkaran tak ada lagi di sini

Ketua Komunitas Katakata, Porman Wilson Manalu mengatakan bentuk penghargaan yang diberikan kepada kedua penyair berupa piagam dan dana untuk penerbitan buku antologi puisi NA Hadian.

“Buku ini nantinya akan didistribusikan ke kampus-kampus, sekolah dan perpustakaan. Karena Pak Hadian tidak punya keturunan untuk diberikan, ” ujarnya.

Porman juga mengatakan akan membuat acara memperingati NA Hadian. Ini merupakan permintaan seniman sastra di Medan. NA Hadian sastrawan yang layak dikenang.

“Kita akan buat acara mengenang NA Hadian. Beliau pernah berpesan juga kalau sudah tak ada, ingin dikenang dalam bentuk acara baca puisi karyanya,” pungkas Porman. (aba)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here