MEMBANGUN budaya yang sudah terpinggirkan oleh derasnya arus globalisasi diperlukan  ketekunan, keseriusan dan kecintaan kepada budaya itu sendiri. Tidak semudah membalikan  tangan. Perlu keseriusan, ketelatenan dan ketabahan dalam menggelutinya. Itulah modal Komariah (35), membesarkan Sanggar Seni Betawi “Kota Bambu” dalam menggeluti kesenian
Betawi, seperti Gamang Kromong modren, yang kalah populer dengan musik dangdut, yang kini  merajai pinggiran kota Jakarta.

komaria alias kokom
Komariah Foto: Bakat Setiawan

Meski terseok, Kokom, demikian sapaan akrab Komariah tetap setia dengan kesenian tradisonal  Betawi yang kini sudah mulai punah ditelan zaman. Karena darah Betawi begitu gencang  mengalir di nadinya, membuat Kokom tidak ingin berpaling meski sejenak. Kenapa pula, Kokom  jatuh cinta dengan musik Gambang Kromong?

“Karena saya anak Betawi. Jadi saya memperkenalan budaya Betawai, kalau nggak saya sebagai  anak betawai siapa lagi?” kata Kokom saat ditemui gapuranews.com di jalan Kota Bambu,  Jakarta Barat, beberapa menit sebelum manggung untuk sebuah kampanye parpol.

Gambang kromong-1
Foto: Bakat Setiawan

Kokom dengan suara pelan dan dalam mengatakan, kalaulah bukan generasi muda Betawi yang  menjaga budaya Betawi, mustahil kesenian tradisonal leluhurnya itu akan terselamatkan dari  kepunahan. “Saya menggeluti budaya Betawai karena hobbi, apa lagi kian lama budaya betawi  kian hilang. Kita ingin menyemangatkan kembali kehidupan budaya Betawai,” katanya dengan  suara datar.

Untuk mengetahui bagaimana kesenian Betawi tersebut masih tetap digeluti Kokom, berikut  petikan wawancara gapuranews.com.

Bagimana awalnya merintis Sanggar Bambu?
Dua belas tahun lalu, kita mendapat sumbangan alat gambang kromong dari walikota waktu Pak  Sariman. Alatnya, gendang, Gambang, Kromomg, Tekyan, dan Gong. Sekarang Gambang Kromong adalah hidup saya!

Awalnya seperti apa?
Awalnya susah juga. Tadinya, kita tidak begitu mengerti dengan alat yang diberikan. Tapi  perlahan-lahan latihan dan kita coba-coba. Awalnya, kami suka dengan lagunya Benyamin Sueb.  Semua orang kenal dengan lagu Benyamin, makanya kita hapal lagunya. Sekarang Alhamdulillah  sudah lumayan bisa.

Awalnya, kita tadinya tidak tahu bagimana memainkan alatnya. Lalu, kita panggil orang  Tangerang untuk menyetel alatnya dan melatih sampai beberapa waktu lamanya.

Gambang kromong-3
Foto: Bakat Setiawan

Bagimana caranya belajarnya?
Kami sih belajarnya mendengar saja secara bersama-sama.

Berapa lama belajarnya?
Kami latihan selama tiga tahun. Awalnya kami dibayar Rp25.000 per orang, bahkan jarang tak  dibayar, tapi kami tetap senang saja. Saya tanamamkan kepada anggota bahwa apa yang kita  geluti ini adalah seni budaya, bukan tempatnya mencari uang. Tapi bukan tertutup kemungkinan kita dapat rezeki disini.

Bagimana reaksi masyarakat yang sudah modern di Jakarta?
Wah, awalnya kita main tidak ditonton. Bangku-bangku pada kosong tapi tetap semangat.  Kesenian Betawi ini kalah dengan musik dang dut. Namun Kalau mentas, orang-orang banyak menyimak lagu-lagu tersebut. Sebab lagu-lagu kita menceritakan tentang keseharian Jakarta.  Yang dengar mangut-manggut, kebanyakan dari mereka yang mendengar bernostalgia kembali.

Berapa banyak anggotanya?
Anggota kita ada 18 orang dengan kru menjadi 20 orang.

Bagimana tarianya?
Kalau ada acara adat baru kita tampilkan tarian. Di Jakarta Barat kita ada 3 sanggar. Tapi  banyak yang kurang gambang kromong. Kalau ke arah Tangerang lebih tradisional, tapi kalau  kita agak moderen sedikit karena sudah menggunakan band. Jadi musik gambang kromong ini  kolaborasi antara band dan tradisional.

Usia berapa anda geluti Gamang Kromomg?
Usia 28 tahun, dan waktu itu saya sudah menikah, sekarang usia saya sudah 35 tahun.  Sementara, kalau latihan di rumah saya. Dan kebetulan keluarga mendukung. Ada abang saya, adik saya, teman-teman dan juga saudara yang lain. Jadi kalau ada orang mau belajar silakan datang. Kebetulan orang tua saya tokoh Betawi.

Pengalaman menarik yang pernah dirasakan?
Pengalama menarik dari kampung Perepetan, Cangkareng. Kita main di tengah sawah. Ada kambing dan soang (angsa) juga masih ada jawara-jawaranya.

Kalau sekrang berapa terima honor?
Honor kami sekarang 200-300 perorang.

Harapannya dengan Gambang Kromong?
Sebenarnya, soal musik nga kalah dengan musik lainnya.

Bagimana caranya jika ingin memakai Sanggar Seni Betawi “Kota Bambu”?
Selarang sudah punya alat sendiri. Jadi gampang! Kalau tampil full Rp6.00.000 (musik saja sama soaund) tidak termasuk panggung. Kalau semi Rp3,5 juta. Mainnya mulai dari jam 13.00 sampai pukul 17.00 WIB.

Kostum penyanyi gimana?
Ya kita rancang sendiri, Kita wajibkan penyanyinya pake kebaya (cukin)

Gambang kromong
Foto: Bakat Setiawan

Apa sih usulannya dengan masyarakat?
Saya usulkan kalau mau ada acara di jakarta Barat, pake lah sanggar di Jakarta Barat,  jangan dari daerah lain. Buat apa jauh-jauh ngambilnya dari Jakarta Timur.

Kapan jadwal manggungnya?
Setiap minggu ada saja manggung, kalau tak sabu ya hari minggu! (gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR