teks foto: Peserta Diskusi di Pussis Unimed. (ist)

Diskusi di Pussis Unimed

MEDAN – Seorang peneliti puisi Chairil Anwar bernama Isadora Fichou sedang berada di Medan sejak 4 Maret 2019 lalu. Puisi-puisi Chairil Anwar telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis dalam rangka studi masternya. Tahun 2019 penelitiannya ditingkatkan untuk studi doktoral di Inalco, sebuah institut di Paris yang berorientasi ke Asia Timur, termasuk bidang bahasa dan sastranya.

Perkembangan penelitiannya terkait dengan tragedi fragmentasi manusia dalam karya-karya penyair Perancis Rene Char dengan perbandingan dua penyair Indonesia dari Sumatera Utara, yakni Chairil Anwar sendiri dan Sitor Situmorang.

Fragmen dalam bingkai penelitian Isadora Fichou ditinjau dalam dua pemahaman; fragmen sebagai gejala dan fragmen sebagai keperluan.

Sebagai gejala, fragmen diulas dalam beberapa contoh puisi yang dikutip dan dibacakan melalui materi diskusi. Kutipan puisi berbahasa Perancis — baik puisi Rene Char, Chairil Anwar, maupun Sitor– dibacakan oleh Tiarma Hutasoit, seorang staf di Pussis Unimed, dalam bahasa Indonesia.

Sebelumnya Diskusi dibuka oleh Dr. Phil. Ichwan Azhari, pimpinan Pussis di ruang Lembaga Penelitian Pussis yang dihadiri sejumlah undangan, termasuk penyair Damiri Mahmud, Umar Zein, H.M. Yunus Tampubolon, Choking Susilo Sakeh, Juhendri Chaniago, dan pegiat budaya Jim Siahaan. Beberapa dosen jurusan Bahasa Perancis juga hadir, seperti Andi yang pernah juga mengajar di Inalco beberapa tahun.

Diskusi sangat menohok kepada Chairil Anwar yang menurut Isadora “dilupakan, bukan melupakan”. Kata dan makna dari puisi Chairil mengekspresikan semacam kemarahan dan misteri, selain beberapa hal lainnya yang selama ini ulasannya digantungkan pada analisis Barat.

Chairil Anwar menurut penyair Damiri Mahmud terlanjur dimaknai tanpa melihat diksi-diksi yang digunakan bersumber dari bahasa Indonesia di Medan, terutama dialek Melayu Deli. Diksi idiom Melayu dalam karya puisi Chairil Anwar secara khusus pula telah diulas Damiri Mahmud dalam buku yang berjudul: Rumah Tersembunyi Chairil Anwar (Unimed Press, 2014 : 201 halaman).

Buku ini menjadi referensi penting atas temuan baru pada karya puisi Chairil Anwar dan dijanjikan Isadora sebagai salah satu menjadi daftar pustaka (bibliotek) dalam tesis doktoralnya nanti.

Buku Sitor Situmorang dan Chairil Anwar

Penerjemahan karya-karya Chairil Anwat ke dalam bahasa Perancis juga perlu ditinjau-ulang berdasarkan fakta dalam “tubuh bahasa” Melayu yang dalam perkembangan adopsinya menjadi bahasa Indonesia memiliki potensi lokal lainnya. Loncatan bahasa Melayu ke bahasa Indonesia pasti contoh ilustrasinya ada dalam karya puisi Chairil Anwar, khususnya bahasa Medan.

Jejak fragmen dalam karya puisi Sitor Situmorang juga kelihatan pada periode awal, seperti yang dicontohkan Isadora dari judul: Angin Danau Zurich. Puisi-puisi Sitor Situmorang. lebih awal telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis (Kobam dan Forum Jakarta-Paris, 2002 : 174).

eterkaitan karya puisi ketiga penyair dari Perancis dan Sumut itu merupakan tantangan dalam kajian objektif-tekstual yang dalam contoh diksi Rene Char ada tersebut “daging kata”. (Thompson Hs)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here