Foto ilustrasi: Kebo Kinul asli karya masyarakat Sukoharjo (ist)
loading...

KEBO KINUL merupakan salah satu kesenian yang dimiliki Kabupaten Sukoharjo. Tari ini memiliki budaya leluhur yang sangat khas bercirikan Sukoharjo. Tradisi yang erat berkaitan dengan masalah pertanian berwujud dolanan anak, tarian, dan tembang-tembang itu diyakini bermula dari mantra yang memiliki daya magis.

Foto ilustrasi: Kebo Kinul asli karya masyarakat Sukoharjo (ist)
Foto ilustrasi: Kebo Kinul asli karya masyarakat Sukoharjo (ist)

Kebo Kinul asli karya masyarakat Sukoharjo namun tidak ada yang mengetahui secara pasti siapa yang menciptakannya. Demikian dikatakan Kasi Seni dan Budaya Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (POPK) Sukoharjo, Sri Raharjo, mengatakan kepada wartawan, Senin (18/1/2016).

Awalnya, tahun 1980-an Kebo Kinul dikenal sebagai dolanan anak berbentuk seperti drama. Ada yang memerankan kebo atau kerbau pembajak sawah, tikus atau walang sangit yang diumpamakan sebagai hama padi, dan sebagainya.

Seiring berjalannya waktu masyarakat Sukoharjo mengkreasikannya dengan tarian, kolaborasi musik tradional, dan lainnya. Masing-masing kreasi memiliki ciri khas hingga membentuk semacam aliran.

Sri Raharjo mencatat terdapat beberapa aliran kreasi, yakni Kebo Kinul Polokarto, Nguter, dan POPK. Dia mencontohkan Kebo Kinul kreasi Polokarto yang digarap budayawan Joko Ngadimin.

Joko mengkreasikan Kebo Kinul dengan tembang, geguritan, tarian dan ditampilkan seperti drama. Selain itu diduga ada masyarakat Baki dan Sukoharjo Kota yang pernah mengkreasikan Kebo Kinul. Hal itu berdasar penelusuran sejarah yang pernah dilakukan POPK.

“Yang jelas sudah ada sejak nenek moyang. Sejarah ini yang hingga sekarang tidak terdeteksi. Hingga akhirnya muncul kreasi-kreasi yang semuanya sangat bagus dan bercirikan Sukoharjo. Setahu saya yang namanya Kebo Kinul ini hanya ada di Sukoharjo. Hasil kreasinya sudah dipentaskan di berbagai ajang kebudayaan nasional,” kata Sri Raharjo.

Budayawan asal Polokarto, Joko Ngadimin, mengatakan Kebo Kinul merupakan tradisi yang agung dan harus dilestarikan. Zaman dahulu Kebo Kinul ditampilkan saat panen raya sebagai ucapan syukur sekaligus sarana berdoa kepada Tuhan yang disebut masyarakat dewi padi, yakni Dewi Sri. Harapannya agar tidak ada hama dan bisa panen bagus lagi.

Pemimpin dan pemilik Sanggar Seni dan Budaya Sekar Jagad Polokarto itu mengkreasikan Kebo Kinul dengan tarian, mantra atau doa, tembang, kolaborasi musik bambu dan gamelan, dan dilengkapi peralatan seperti lesung, lumpang, pemeran bapak/ibu petani, orang-orangan sawah, serta tikus sebagai hama.

Kebo Kinul kreasinya sudah pernah dipentaskan di sejumlah negara Eropa, seperti Jerman, Prancis, Swiss, dan Belanda, pada 2005 dan tahun-tahun berikutnya. Pementasan itu dalam rangka mengisi gelaran International Youth Conference (IYO).

“Mantra yang saya buat merujuk pada mantra leluhur. Ada dua mantra, yakni Kidung Pari Sak Wuli yang berwujud tembang dan Kidung Dewi Sri yang berwujud geguritan (puisi Jawa),” ucap Ketua Gerbang Budaya Nusantara itu.
Joko merasa senang karena kini ada pelaku budaya yang mengkreasikan Kebo Kinul, seperti yang dilakukan POPK. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR