Poster 'Juru Kunci' produksi Teater LIngkar Semarang

Judul: Juru Kunci
Naskah: Prie GS.
Sutradara: Eddy Morphin

SEMARANG – Naskah ini tertahan di setengah perjalanannya hampir 4 tahun. Ini naskah panggung tersulit yang pernah saya tulis dari sekitar tujuh naskah yang telah saya tulis untuk Teater Lingkar sebelumnya. Saya mengalami apa yang disebut sebagai writing block sesuatu yang sebenarnya jamak dialami oleh penulis. Tetapi itulah soal yang bisa membunuh penulis. Keadaan mental semacam itu disebabkan oleh dua hal: pertama emosi penulis yang tengah berhadapan dengan banyak keasyikan baru dan situasi naskah itu sendiri.

Juru Kunci saya tulis di awal kelahiran euforia media sosial yang gila. Facebook saat itu sedag menjadi berhala baru. Saya pun dengan malu-malu harus mengakui, bermain FB sangat merampas waktu. Kini saya bertobat dan ganti memperalat FB hanya untuk mengedarkan buku-buku yang saya tulis. Belakangan ini saya juga membuat Kelas Prie GS, cukup di rumah. Sengaja berbayar dan sengaja saya bikin mahal untuk kelas rumahan agar hati saya gembira dan agar yang datang teruji motif kedatangannya. Yang mengejutkan, kelas ini diminati dan terbanyak didatangi oleh “murid-murid” dari Jakarta. Di ikilm semacam itulah saya menulis Juru Kunci, sebuah ide yang begitu ia berkelebat langsung memenjarakan saya untuk gelisah jika ia lewat dan sia-sia.

Ide dalam naskah inilah kesulitan keduanya. Ide itu begitu unik, lucu, satirik, tragik, komik dan karikatural. Tetapi itu baru ide. Tugas saya sebagai penulis adalah mengupayakan agar ia menjadi terdengar, tervisual, terkatakan dan akhirnya tertonton. Saya besar dalam budaya mistisisme, baik mistis dalam biasnya sebagai klenik maupun mistis dalam artinya yang asli dan luhur: spiritualitas. Pengaruh budaya ini besar sekali campur tangannya dalam olah artistik saya sebagai seniman dan sebagai penganut keyakinan agama saya Islam. Itulah mengapa kepada berbagai istilah dalam olah artistik dan olah keyakinan ini bisa melahirkan kredo dan mazhab. Soal yang sangat jamak.

Maka saya memahami dan merasa baik-baik saja dengan sebutan Islam Nusantara tetapi juga memahami kredo lainnya. Itu soal yang jamak bagi keragaman. Soal-soal itu menjadi menghawatirkan bukan karena perdebatan wacananya melainkan ketika politik diam-diam telah menungganginya. Seluruh perdebatan menjadi kurang menarik begitu politik telah menjadi semangatnya. Karena di dalam melayani panggilan keyakinan sulit bagi manusia untuk tidak sekaligus melayani panggilan kebudayaannya. Maka yang lebih dibutuhkan bukanlah melebur paksa aneka pilihan itu menjadi hanya satu pilihan melainkan cukup hanya dengan tidak saling menghina dan merendahkan.

Juru Kunci pasti bukan naskah politik melainkan naskah bersudut pandang kebudayaan. Lengkap dengan lebih kurangnya saya bersyukur naskah ini usai. Maston Lingkar mendorong saya dengan kesabarannya yang terkenal itu. Dari menunggu, mengingatkan, membujuk, menyugesti sampai mengajak serombongan teman-teman Lingkar ke rumah.

Datanglah ke TBRS Semarang 4 Agustus dan belilah tiket karena tak mahal. Jika tak salah hanya Rp 50 ribu (malam) dan Rp 35 ribu (sore).

Dalam rangka memeriahkan ulang tahunnya yang ke 38, Teater Lingkar Semarang yang didukung Djarum foundation, BRI, dan Wicaksana out door advertising akan mementaskan naskah Juru Kunci karya Prie GS yang disutradarai Eddy Morphin besok Sabtu (4/8/2018) di gedung kesenian, TBRS , Jl Sriwijaya 29 Semarang. (rel/gr)

Pelaksanaan:
Hari: Sabtu Legi
Tanggal: 4 Agustus 2018
Pukul: 15.30 WIB (Show I) & 20.00 WIB (Show II)
Tempat: Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Jl. Sriwijaya Semarang

Narahubung:
Rio 0878 3338 2287
Sari 081 1288 1228

TINGGALKAN KOMENTAR