by

Jupri Abdullah Pameran Tunggal di Tugu Kunstkring Paleis Art Gallery Jakarta

JAKARTA – Jupri Abdullah kembali gelar pameran karya terbarunya yang ke-24 di Tugu Kunstkring Paleis Art Gallery Jakarta, Jl. Tengku Umar I, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (18/3/2019). Pameran yang bertajuk ‘Jupri Abdullah For The Word Elspresu Abstrak dari Pasuruan.

Pameran digelar sejak 18 Maret – 8 April 2019.

example banner

Dibawah ini sebuah tulisan tentang Jupri Abdullah dari kritikus seni rupa:

Warna Lokal yang Patut Dikembangkan
(Catatan buat pameran seorang sahabat)

Oleh: Bambang Bujono

Memasuki Balai Budaya, Jakarta, gedung untuk kegiatan kesenian yang dibangun pada 1950-an, pada suatu hari, Maret tahun lalu, saya melihat seseorang yang tak begitu tinggi, rambut gondrong, berkacamata sedang duduk menghadap laptop di serambi.

Di dalam ruang pameran beberapa orang sedang bekerja menggantung lukisan dengan ukuran besar, salah satunya, yang terbesar, lebih dari 10 meter panjang dan lebih dari satu setengah meter tinggi. Lukisan hampir memenuhi satu dinding Balai Budaya, gedung berukuran 20X10 meter.

Spanduk di atas gerbang Balai Budaya mengabarkan bahwa yang hendak pameran di situ adalah Jupri Abdullah, dikuratori oleh Kuss Indarto, penulis seni rupa yang pernah menjadi anggota dewan kurator Galeri Nasional Indonesia. Baru kemudian saya tahu, yang sedang sibuk mengetik di laptop itu adalah perupa yang namanya tertera di spanduk tersebut. Kami berkenalan, dan ia menyodorkan sebuah katalog –bukan katalog pameran di Balai Budaya itu, melainkan pameran dia sebelumnya. Dari katalog itu saya tahu bahwa ia perupa autodidak, lahir dan bermukim di Pasuruan, Jawa Timur, sudah beberapa kali pameran, antara lain di Surabaya dan Yogyakarta.

Karyanya, lukisan potret dan lukisan abstrak. Pelukis ini tampak energik, dan terasa enak diajak ngobrol. Sepintas saya perhatikan lukisannya. Dalam hati saya bertanya-tanya: bagaimana bisa seniman autodidak dari Pasuruan melukis lukisan abstrak model Jackson Pollock. Waktu itu yang dipamerkan di Balai Budaya hanya lukisan abstrak berupa tetesan cat, torehan, pelototan, noktahnoktah, dan sapuan warna-warna sedemikian rupa hingga yang melihat dan paham, akan mengatakan lukisan itu mirip karya Pollock, pelukis ekspresionisme abstrak Amerika yang meninggal pada 1956 di usia 44 tahun.

Pameran Tunggal Jupri Abdullah (gardo)

Tapi pertanyaan dalam hati itu hilang begitu saja, karena lebih asyik melihat kegiatan Jupri yang lain. Ia ternyata mendirikan galeri di Pasuruan, dan dengan nama Jupri Art Gallery Indonesia ia sibuk membantu pameran perupa-perupa yang dikenalnya, termasuk karya lukis sastrawan dan teaterwan Putu Wijaya yang belakang juga melukis. Namun, rupanya, di tengah kesibukannya ia terus giat melukis. Suatu hari ia meminta saya menulis katalog untuk pamerannya di Gedung KPU (Komisi Pemilihan Umum), di Jalan Imam Bonjol, Jakarta.

Ia mau memamerkan sekitar 40 lukisan potret tokoh-tokoh Indonesia dari Bung Karno sampai ketua partai sekarang ini. Saya pikir ini bukan sembarang pameran: lukisan potret tokoh-tokoh Indonesia, dipergelarkan di gedung KPU, lembaga yang pada April 2019 ini untuk pertama kalinya mesti menyelenggarakan pemilihan umum serentak: pemilihan umum presiden dan wakil presiden, serta pemilihan umum anggota legislatif diadakan dalam waktu yang sama.

Baru beberapa hari kemudian saya tahu bahwa ini bukan pameran Jupri saja, melainkan pameran berdua dengan Bambang Winaryo, pematung. Bambang, saya kenal pertama kali lewat berita di media massa sekitar empat tahun lalu bahwa satu karya patungnya, sosok Mahatma Gandhi, dipajang di sebuah kompleks rumah budaya di Sumatera Barat milik Fadli Zon, wakil ketua DPR itu.

Esai untuk katalog itu pun saya tulis, singkat, menceritakan perihal lukisan dan patung potret yang saya ketahui. Antara lain, mengapa lukisan potret John F. Kennedy yang dipajang di Gedung Putih bukan lukisan potret pesanan pertama keluarga Kennedy. Mengapa pula ada lukisan potret Tjokroaminoto oleh Affandi.

Salah satu karya Jupri Abdullah (gardo)

Juga, perihal patung Gus Dur karya Purjita di Komunitas Salihara. Rencana pameran di KPU itu, menurut Jupri, Januari 2019 — namun ternyata tertunda-tunda hingga pameran Jupri di Kunstkring ini dibuka pameran di KPU itu belum juga diselenggarakan. Nah, begitulah di saat Jupri minta saya menulis esai untuk pamerannya di Kunstkring ini, “pameran lukisan abstrak”, katanya, pertanyaan dalam hati di Balai Budaya itu muncul kembali. Terus terang, pertanyaan itu tidak autentik. Itu muncul karena mendadak saya teringat celetukan Umar Kayam, seorang cendekiawan yang seniman dan pernah menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta. Celetukan itu terlontar, di awal 1970-an, ketika Umar Kayam menyaksikan pertunjukan “Puisi Konkret” Danarto, seorang perupa dan sastrawan. Kata Umar Kayam: “Wong Sragen kok nggawe puisi konkret,” – Orang Sragen kok mencipta puisi konkret. Tapi apa salah seorang asal Sragen, sebuah kota kabupaten di Jawa Tengah, menciptakan karya yang senada tapi tak persis sama) dengan seni yang konon populer di Eropa pada awal 1950-an? Demikianlah perihal Jupri, tentu boleh saja membuat lukisan mirip Pollock.

Dari ingatan itu saya lalu membandingkan lukisan Jupri dengan lukisan Pollock (tentu saja lewat reproduksinya, di buku maupun di Internet). Apakah ada “kejanggalan” pada karya Jupri. Yang segera saya rasakan, irama dan kesatuan keseluruhan lukisan pada Pollock absen pada Jupri. Mungkin itu maksud Kuss, kurator itu, menyebut lukisan Jupri “irama yang merdeka”, rhythm of freedom. Tapi yang tak lekas hilang dari keingintahuan saya: dari mana Jupri memperoleh “kosarupa” seperti Pollock? Ia mengaku tertarik karya-karya Pollock.


Iriana Joko Widodo karya Jupri Abdullah (gardo)

Tapi cukupkah hanya melihat lukisan Pollock, itu pun dari reproduksi tentunya? Lalu apa yang menggerakkan Jupri mencipratkan cat, menorehkan garis, memelototi tube pada kanvas-kanvasnya? Sekadar melampiaskan emosi dengan cipratan dan lelehan cat yang dilakukan secara intuitif? Bukankah Pollock pernah mempelajari lukisan pasir Indian Amerika, ketika seorang dukun Indian menggambar di pasir untuk “menemukan” obat yang dicari untuk mereka yang sedang terkena suatu penyakit? Dukun itu tidak ngawur, ada yang “membimbing”nya menggambar di pasir itu. Dan demikianlah Pollock akhirnya yakin bahwa teknik ekspresionisme abstraknya bukan ngawur.

Itu yang saya kira yang melahirkan irama pada kanvas-kanvasnya. Kritik mengatakan, pada kanvas Pollock yang terlihat bukanlah “lukisan”, melainkan “peristiwa” – sesuatu yang bisa “dipahami”, sesuatu yang terbentuk lewat proses, ada awal dan akhir. Pada abstrak Jupri irama keseluruhan karya begitu “bebas”, hingga sebuah “peristiwa” belum sampai terbentuk.

Yang saya tangkap, samar-samar, adanya warna-warna “lokal”, yang bila dikembangkan bisa jadi “peristiwa” akan tercipta pada kanvasnya. Warna-warna alam di lingkungan Jupri di sekitar Pasuruan, mungkin bisa digarap untuk menciptakan “peristiwa”. Itulah warna Bromo, Candi Belahan, lumpur Lapindo, Masjid Chengho, antara lain –tempat-tempat yang sering dikunjungi Jupri. Sebelum tulisan ini mencang-mencong ke mana-mana, Jup, selamat berpameran. Semoga sukses.

Pasar Minggu, pertengahan Maret 2019.

Bambang Bujono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed