Foto: Aktor Idries Pulungan. (ist)

Oleh. Rizaldi Siagian

JAKARTA – Ketika bakat bertutur, marturi, berdongeng, dalam tradisi Angkola/Mandailing punah, bahkan tradisi ‘bakombur’ (bercerita omong-kosong) pun raib, bersama raibnya ‘tukang koyok’ si penjual obat yang dulu sempat membuat Lapangan Merdeka Medan tempat yang mengasyikkan bagi anak-anak ‘cabut’ (bolos) sekolah.

Maka ‘terbenam’ pula-lah bakat kesenimanan dan keahlian bertutur bersama hilangnya tradisi lisan turi-turian, sastra lisan orang Mandailing-Angkola yang kaya itu.

Penampilan aktor Teater Koma, Idris Pulungan, yang tampil bertutur sebagai dalang yang merangkum adegan-adegan ‘digital teaterikal’ itu.

Seolah-olah memberi jawaban mengapa dulu ‘turi-turian’ begitu kaya, dan jawabnya: bahwa orang Mandailing/Angkola memiliki bakat intelektual dan kemampuan bertutur seperti diperlihatkan Idris Pulungan, yang dimanfaatkan dramawan nasional N. Riantiarno dengan cerdas itu dalam pementasan ‘Mahabrata: Asmara Raja Dewa,’ Produksi Teater Koma ke 154 di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 16-25 November 2018.

Apakah tradisi Mandailing-Angkola akan melahirkan aktor-aktor besar di masa depan? Hanya strategi kebudayaanlah yang bisa menjawabnya, dan rekayasa strategis itu sungguh-sungguh milik dan hanya bisa dilakukan oleh orang Mandailing-Angkola sendiri. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR