MEDAN – Negeri ini begitu kayaknya dengan seni tradisi diantaranya seni tari. Untuk itu, seni tari yang ribuan judul dan bentuknya itu tidak boleh punah secara perlahan. Dalam mengatasinya maka diperlukan pelestarian secara berkelanjutan.

Berbagai kegiatan pun dilakukan, salah satunya dengan menggelar ‘Tari Tradisi Medan Labuhan’ di Taman Budaya Sumatera Utara, Jumat (21/8/2018). Merupakan jawaban dari pelestarian itu.

Kegiatan yang bernuansa Melayu ini, diawali dengan melantukan lagu-lagu melayu oleh Ilham Zais, penyanyi Melayu ternama di Kota Medan. Selain Zulham juga ada Eva Gustama mendapingi Zulham.

Gedung berkapasitas 500 orang ini tampak penuh dipadati penonton. Mereka hanyut dalam lantunan lagu-lagu Melayu seperti ‘Cinday’ dan ‘Ondak Kelaut’ serta beberapa lainnya.

Kepala Dinas Kebudyaan dan Parawisata Sumut, Dr Ir Hidayati Msc dalam sambutannya mengatakan, bahwa kesenian tradisi harus terus diberi nyawa agar tetap hidup sepanjang zaman, namun tentunya masih jauh dari sempurna.

“Kita masih banyak kekurangan disana sini. Oleh karena itu dirinya menghimbau agar seniman terus berkarya. Buat tari baru agar kita semakin kaya dengan ragam dan gerak,” ujar Hidayati.

Dalam kesempatan itu Hidayati juga mengatakan di Medan Utara banyak lahir seniman tari yang potensial seperti Lilik dan Maisyarah. Hidayati juga mengajak agar semua juga mengingat seniman – seniman tua yang telah banyak berjasa melahirkan karya-karya bagus yang hingga kini karya tersebut masih abadi semisal Serampang12 .

“Kita banyak memiliki seniman tari yang telah melahirkan karya tari penomenal seperti tari Serampang 12. Kini tugas kitalah merawat tari-tari ini agar tidak punah,” pungkasnya.

Pergelaran ini dibuka dengan sebuah tari Hadrah. Tari Hadrah adalah tari masyarakat pesisir yang bernuansa Islami. Tarian ini berasal dari negeri Parsi. Hadrah juga berasal dari perkataan Arab iaitu dikir yang disertai oleh Kompang atau Rebana Kecil.

Menurut Profesor Taib Osman, Hadrah adalah sejenis puisi rakyat yang mempunyai unsur-unsur keagamaan contohnya, puisi atau lagu yang dinyanyikan ketika orang Madinah menyambut ketibaan Nabi Muhammad (s.a.w) dari Mekah yang dikenali sebagai lagu ‘Talla-an Badrun’ alaina’.

Di masyarakat melayu kemudian menjadi pembuka kata seperti ini, ‘Bismillah mula-mula di dalam alam amat mulia, empat belas bulan purnama kami bermain bersama sama.

“Yang menarik dari tarian Hadrah Labuan ini masih ada penarinya yang sudah berumur. Ini luar biasa. Usiannya sekitar tujuh puluhan tetapi masih kuat menari dengan lincah dan gesit,” ujar Kepala TBSU, Denny Hefriansyah. (ab/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR