hari musik di timPemerintah belum peduli dengan menggelar acara seremonial Hari Musik Nasional yang jatuh pada 9 Maret. Padahal penetapan Hari Musik Nasional melalui Keppres No. 20 tahun 2013. Kementerian Pariwisata belum menjadikan Hari Musik Nasional sebagai event kegiatan kalender nasional.

Hal ini tidak membuat seniman musik berpangku tangan, lewat pertunjukan musik reggae oleh Rumah Demokrasi bersama Tony Q Rastafara digelar di pelataran Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta yang digelar, Senin (9/3/2015). Seratusan penggemar musik reggae dan ska ikut menyanyikan lagu-lagu. Kritik politik yang dibawakan Tony. Tampil pula Joker, Andre, dan Anton Klobot. Joker membawakan sejumlah lagu, seperti “Si Umut Imut”, “So Wahat”, dan “Botak Depan Belakang”. Joker mengajak penonton berdialog. Anton Klobot membawakan lagu “Serenada”.

“Karena pemerintah tidak peduli dengan Hari Musik Nasional, maka kami menggelar acara pentas musik ini di pelataran TIM,” kata panitia penyenggara dari Rumah Demokrasi, Didik Kurdianto, Senin (9/3/2015).

Dalam rilisnya, Rumah Demokrasi mengatakan, pada hari musik nasional yang jatuh pada tanggal 9 Maret para musisi Indonesia mendapat apresiasi yang cukup baik dari pemerintah Tiga tahun terakhir ini ada tiga keputusan politik hadir membela kepentingan para musisi. Pertama, penetapan Hari Musik Nasional melalui Keppres No. 20 tahun 2013. Kedua, lahirnya UU No. 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta. Ketiga, terbentuknya Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKKN) pada tanggal 20 Januari 2015 sebagai lembaga yang mengelola hak ekonomi dari pencipta untuk menghimpun dan mendistribusikan royalti dan dilantik oleh Menteri Hukum dan HAM.

hari musik di tim 3Keberadaan tiga produk politik bagi musisi tentunya menjadi pemicu bagi musisi untuk terus berkarya ditengah kegalauan maraknya pembajakan. Pertanyaannya untuk siapa musisi berkarya? Jawabannya untuk masyarakat, bangsa dan negara. Karya musisi banyak berhasil menghibur masyarakat, tetapi untuk menaikan kelas sebagai Intellectual rebel masih belum begitu tampak. Lihat saja, pelibatan musisi dalam dunia politik lebih sebatas aksesori di Pemilihan Legislatif, Pemilihan Presiden/Wakil Presiden dan Pilkada. Meski perlu diakui sejumlah musisi terkadang melakukan kritik sosial terhadap elit politik, tetapi masih jarang sekali.

Pada hari musik kali ini ada harapan musisi dapat tampil kembali di panggung politik bukan atas pesanan elit. Musisi dapat menunjukkan peran sosial dengan membangkitkan gairah nasionalisme mengajak semua bernyanyi tentang Indonesia kita. Indonesia itu adalah keluarga kita. Banyak orang yang ingin menyampaikan pesan hentikan pertikaian, tetapi tidak dapat menyuarakan. Para musisi tentunya dapat mengekspresikan suara rakyat yang tidak dapat menyuarakannya secara langsung (voice the voiceless) seperti yang dilakukan kawan-kawan seniman minggu lalu. Ekspresi seni lawan korupsi seperti yang disuarakan oleh seniman tentunya dapat diperkuat kembali oleh para musisi sebagai bagian dari seniman itu sendiri.

Pada hari musik 2015 musisi juga dapat menghimbau elit untuk menghentikan segala intrik yang tengah berlangsung. Hari ini kita menyaksikan intrik di area publik seperti pertikaian Gubernur DKI vs DPRD DKI, KPK vs Polri, konflik Internal Partai Golkar dan PPP, atau konflik antara KMP vs KIH. Elit politik yangrukun tanpa intrik tentunya akan menimbulkan perasaan aman dan tenteram bagi masyarakat. Pertikaian elit hanya akan menimbulkan disintegrasi sosial. Tidak heran hari ini angka kejahatan seperti begal dan kerawanan sosial lainnya meningkat. Pesan-pesan moral melalui lagu tentunya lebih menyentuh hati sanubari masyarakat. Musisi dapat membangun kembali pesan moral bahwa konflik yang diumbar ke publik bukanlah tradisi bangsa.

Rumah Demokrasi ingin memperingati hari Musik dengan menampilkan Presiden Reggae Tony Rastafara untuk menyanyikan lagu-lagu nasionalisme. Coba dengar lirik lagu Dirgahayu Indonesia yang dinyanyikan Tony Q Rastafara menebalkan rasa nasionalisme kita.

Cinta masih berkembang di dalam dada
Merah putih masih berkibar di tiang Jawa
Orang-orang Indonesia menyanyikan Indonesia Raya
Bibir masih panjatkan doa

Masih ada lagu-lagu perjuangan yang digarap dengan genre musik reggae. Mungkin itu yang bisa kami sampaikan di hari Musik Nasional. Selamat ulang tahun musisi Indonesia. Sudah saatnya musisi tampil bukan karena undangan elit politik, tetapi inisiatif sendiri untuk mengingatkan para elit. Semoga perayaan hari musik kali ini kita dapat mengingatkan kembali Indonesia asyik tanpa intrik. (gr)

Foto-foto Karya: Joel Thaher

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR