Foto: Shoting dokumenter digital 'Pelestarian Alat Musik Tulila' di Samosir (ist)

SAMOSIR – Alat musik Batak Tulila sudah nyaris punah. Bahkan generasi muda pun kini tidak banyak yang tahu apa itu Tulila. Memprihatinkana memang, tapi jika tidak dilestarikan maka akan bisa binasa.

Agar musik Tulila bisa selamat dari kepunahan, sorang pemusik Batak, Hardoni Sitohang membuat dokumenter digital tentang alat musik Batak purba tersebut.

Hal ini tidak lain lantaran begitu cepatnya arus globalisasi. Dalam dunia musik modernisasi yang melanda tanah Batak. Masyarakat Batak yang demikian mudahnya mengadopsi semua modernisasi dengan tidak mempertahankan tradisinya dalam upacara ritual budayanya, membuat tergerusnya budaya leluhur mereka.

“Ya. Alat musik Tulila ini sudah mulai punah. Sekarang saja, yang bisa memainkan alat musik Tulila ini tinggal dua orang, itu pun sudah tua,” kata Hardoni kepada Gapuranews, saat break shooting dokumenter digital berjudul ‘Pelsatrian Alat Musik Tulila’ yang mengambil lokasi Pulau Samosir dan sekitranya, Selasa (20/9/2016).

Biaya produksi dokumenter digital ini, Hardoni tidak mendapatkan bantuan, sopnsor atau donator. Semua anggaran keluar dari koceknya sendiri. “Semua biaya produksi saya tanggung sendiri,” kata Hardoni yang juga sebagai sutradara dokumenter digital ‘Pelsatrian Alat Musik Tulila’ ini.

Hardoni Sitohang mengatakan, Tulila bukan sekadar alat musik. Iramanya bagaikan bunyi suara burung yang dipakai sebagai media komunikasi dengan alam dan Tuhan.

“Tulila alat musik spritual suku Batak yang permainannya menyerupai seruling,” bebernya.

Hardoni bilang kini tak seorang pun pemusik batak memainkan Tulila. “Dari dulu hingga sekarang gak pernah terlihat ada pemusik Batak memainkan Tulila. Saya mengenal Tulila waktu SD. Tersimpan di dalam lemari, lantas bertanya ke bapak bagaimana cara memainkannya. Sudah puluhan tahun saya gak pernah lihat alat musik ini lagi,” Kata Hardoni mengenang saat mengenal pertama kali alat musik Tulila.

Ia juga menyebutkan bahwa sebutan Tulila di setiap daerah berbeda. Seperti halnya di Humbang dan Samosir. “Mungkin masyarakat Humbang mengenalnya dengan sebutan Salohap. Sedangkan orang Samosir nyebutnya Talatoi. Saya berharap alat musik ini dapat dilestarikan. Untuk itulah saya membuat dokumenternya,” ucapnya.

Ujung dari kegiatan ini, akan berakhir pada karya musik rohani. “Sebab, lewat lagu-lagu rohani kembali diperkenalkan alat musik Tulila ini. Kalau diperkenalkan langsung kepada umum, mungkin banyak yang masih asing,” katanya. (mm/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR