JAKARTA – Melukis bagi pelukis Hardi sudah menjadi jalan hidupnya. Tapi tak banyak pelukis seperti dirinya, yang peduli dengan sejarah. Sosok Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta yang ditetapkan bersama dengan pengangkatan Sukarno sebagai Presiden pertama Indonesia pada 18 Agustus 1945, sehari setelah kemerdekaan Indonesia menjadi inspirasinya menggoreskan ke kanvas.

“Lukisan ini saya bikin kurang lebih seminggu lebih,” kata pelukis aliran ekspresionis yang terkenal dan aktivis lintas seni dan kebudayaan di Indonesia, Minggu (25/2/2018).

Lukis Bung Hatta itu pun ia berjudul, ‘Bung Hatta Guru bangsa24 Karat’. Baginya lukisannya itu merupakan monumen atau pengingat bagi sejarah kita. Saya harus melukis begini-begini, yakni pahalwan kita karena pelukis-pelukis sekarang sudah tidak kenal lagi siapa guru bangsa,” kata pelukis kelahiran Blitar, Jawa Timur, 26 Mei 1951 ini.

Hardi mengatakan, sebuah lukisan yang ia kerjakan karena pemahaman demokrasi sudah melampaui harapan founding fathers.

“Bung Hatta sebagai guru telah menulis tentang demokrasi, pentingnya koperasi dan anti korupsi. Bahkan thn 70an, beliau sudah berkata bahwa korupsi sudah jadi budaya,” ucapnya.

Hardi meyakinkan, meyakinkan pikiran seperti Bung Hatta yang hidup sederhana sepanjang hayatnya, harus digaungkan. “Lukisan ini coba tandingan dengan pelukis kita yang mayoritas asyik melukis imajinasi, lepas dari sejarah bangsa,” tegasnya.

Lukisan ini, kini sudah menjadi koleksi Sudirman Said. “Ya. Kini lukisan ini sudah menjadi koleksi bapak Sudirman Said,” ucapnya. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR