ilustrai foto Hang Tua (ist)

PEMIKIRAN tentang kemungkinan adanya pengkloningan terhadap tokoh pelaku “sejarah” bermula dari membaca sejarah Hang Tuah. Hang Tuah berasal dari Sungai Duyung dan dibawa merantau ke Bintan oleh orang tuanya mencari rezeki sebagai pedagang. Bersama dengan empat sahabatnya, Hang Tuah berkembang dan dibesarkan sebagai pahlawan. Mulailah perjalanan panjang Hang Tuah jadi “ceritaan” yang mungkin agak berlebihan kalau disebut sebagai sejarah. Sepanjang hidupnya diceritakan Hang Tuah pernah berada di, Tiongkok, Siam, Rum, Mekah, Jedah, Keling serta berbagai daerah lainnya di Nusantara baik sebagai pejuang maupun duta kerajaan. Hang Tuah diceritakan pernah dua kali ke Majapahit. Di Tiongkok Hang Tuah bahkan dikhabarkan berperang melawan Portugis.

ilustrai foto Hang Tua (ist)
Ilustrasi foto Hang Tua (ist)

Bila dihitung dari kerangka perjalanan waktu, maka kehidupan Hang Tuah mencapai empat abad. Tentunya tidak ada orang yang mampu hidup selama itu. Mungkin saja yang diperpanjang dari catatan kehidupannya adalah jabatan laksamananya. Setiap penggantinya akan sangat bangga menyandang gelar laksamana Hang Tuah. Demikian juga dengan jabatan keempat sahabatnya. Suatu hal yang mustahil adalah kelompok Hang Tuah generasi pertama akan membunuh Hang Jebat sahabatnya dari kecil. Apalagi perlawanan Hang Jebat adalah untuk membela perlakuan raja yang semena-mena terhadap Hang Tuah. Tapi bagi Hang Tuah generasi perpanjangannya mungkin saja, karena ikatan sesama mereka hanya karena jabatan yang diberikan raja. Cerita berakhir dengan menyingkirnya Hang Tuah dari dunia ramai seiring dengan hilangnya kekuasaan Malaka. Walau ada yang menganggap Hang Tuah hanyalah khayalan sejarah, namun penyataannya bahwa Takkan Hilang Melayu di Bumi tetap jadi penyemangat sampai sekarang.

Pelaku sejarah yang membumi dan juga cukup menarik untuk dikaji perannya dalam kerangka waktu dan lokasi kejadian adalah Hamzah Fansuri. Hamzah Fansuri kelahiran Barus dan ada juga yang menyatakan di Siam, hidup pada abad ke-17. Hamzah Fansuri diceritakan pernah berjalan ke Jawa, Irak, India, Persia, Mekah dan Madinah. Hamzah Fansuri fasih dan mampu mengutarakan pokok fikirannya dalam berdakwah dan bahkan mengarang karya sastra dalam bahasa Arab dan Persia. Tentu saja dia juga menguasai dan berkomunikasi dengan baik dalam bahasa Aceh, Melayu dan bahasa Barus.

Makam Hamzah Fansuri (ist)
Makam Hamzah Fansuri (ist)

Hamzah fansuri dikenal sebagai ulama yang berpandangan universal. Pendalaman agama dan ketauhidan Hamzah Fansuri telah menembus syariat, thariqat, hakikat, dan memutus makrifat. Pemahaman Hamzah Fansuri tentang keberadaan Tuhan dan manusia dianggap mbalelo pada zamannya karena menyatakan bahwa Mahluk dan Tuhan.merupakan kesatuan yang dikenal dengan paham Wahdat Al Wujud. Manusia dapat memiliki semua sifat keTuhanan kecuali pada kekuasaan menjadikan dan mengatur semua kejadian. Mungkin karena Fansuri secara jelas berhasil menguak tabir posisi makhluk dan Khaliq, sehingga pandangannya tentang kemanusiaan juga jauh melompati zamannya. Karyanya banyak sekali mencakup fiqih, tasauf, logika, filsafat dan sastra yang masih sangat relevan sampai sekarang.

Disamping berdakwah, Hamzah Fansuri juga menempatkan diri dalam dunia politik dengan membuat kritikan tajam terhadap prilaku politik dan moral raja-raja, kaum bangsawan dan orang-orang kaya. Untuk perilaku yang dilakoni dan paham yang diyakininya tersebut, Hamzah Fansuri dianggap berbahaya dan sesat bagi penguasa di Aceh saat itu. Ajarannya perlu diberangus serta pengikutnya dibasmi. Karyanya dibakar di halaman Mesjid Raya Kuta Raja, dan hanya sebagian yang berhasil diselamatkan seperti buku yang berjudul Asrar al-Arifin, Syarabul Asyikin, al Muntaha, Zinat al Wahidin, Syair Perahu, Syair Burung Pigai, Syair Dagang, Syair Pungguk dan Syair Sidang Fakir, puisi sufi rubai seperti Ikan Tunggal Bernama Fâdhil dan lain lain.

Bila dilihat dari jejak sejarahnya, akan sangat sulit dipercaya satu orang Fansuri melakukan semuanya dengan begitu sempurna. Belajar dan menemukan falsafah ilmu sampai mendasar, memikir dan menuliskan, mengajar dan menjadi model perilaku panutan, serta terus berjalan melintas ruang mungkin agak sulit menyatukannya dalam rentang kehidupan manusia yang relative singkat. Manusia punya batas kemampuan energi. Harus sangat disadari bahwa fasilitas dan sarana transportasi pada zaman Hamzah Fansuri di abad 17 merupakan kendala pertama dalam melakukan seluruh kerja yang tercatat sudah dilaksanakannya. Apa mungkin ada orang lain yang jadi pelaku pendamping atas nama Hamzah Fansuri?

Jaya Arjuna
Jaya Arjuna

Dari catatan sejarah, tidak ada orang besar yang tidak punya murid dan pengikut? Sebagian bahkan jadi murid yang sangat setia tanpa pamrih. Para murid rela melakukan apa saja demi gurunya. Sampai sekarangpun, para guru sufi atau dianggap guru sufi masih sangat dipatuhi oleh muridnya. Para murid yang memiliki kemampuan dalam menulis akan sangat bahagia dan bangga sekali mempersembahkan karyanya atas nama guru. Rasa minder yang tidak pada tempatnya juga dapat menyebabkan murid tidak berani menyatakan karya yang disampaikannya sebagai karya sendiri. Lebih aman kalau berlindung dibalik nama besar guru. Dunia sastra Indonesia juga pernah mencatat suatu zaman para penulis memproduksi karyanya dengan menggunakan nama alias.

Hamzah Fansuri juga punya banyak murid. Murid yang paling terkenal adalah Syeikh Syamsudin Sumatrani yang selain menguasai ilmu agama juga menulis tentang sastra, Diantara karya sastra Samsudin adalah ulasan terhadap karya Fansuri. Mungkin saja sebelum memiliki nama sendiri, Samsudin telah mendakwah serta bermadah atas nama dan karya Fansuri. Jejak perjalanan Samsudin mungkin secara keliru dicatat sebagai perjalanan Fansuri, sehingga menambah jauh dan banyaknya tempat yang dikunjungi Fansuri. Mungkin masih ada murid-murid lain yang secara sadar meniru gurunya baik dalam berbicara maupun berpakaian. Sang murid berbaur dengan masyarakat dalam kerangka dakwah baik sebagai dirinya maupun sebagai wakil gurunya. Tentunya murid menganggap suatu kehormatan bila masyarakat dapat menerima dan menghargainya sama seperti penghargaan yang diberikan kepada gurunya.

Abdul Rauf al Fansuri adalah seorang ulama besar yang juga menulis dalam bahasa Melayu atau Jawi. Bila Hamzah Fansuri memilih tidak dekat dengan penguasa, Abdur Rauf menjadi pejabat dalam kerajaan Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh. Abdur Rauf al Fansuri semata dikenal sebagai ulama dan bukan sastrawan. Tetapi pada zaman kiprah kedua ulama besar tersebut belum memiliki teknologi dan pencatatan sejarah dan hanya mengandalkan cerita, siapa yang dapat membedakan rekam jejak perjalanan fisik mereka. Tuanku Sunur yang merantau ke Trumon Aceh menulis surat kepada anaknya di Pariaman dalam bentuk syair. Tuanku Sunur menyertakan syair Perahu karangan Hamzah Fansuri dalam kiriman pada anaknya. Bila Dada Meuraxa tidak jeli sewaktu menyalinnya, maka mungkin saja ada yang memasukkan syair Perahu sebagai karangan Tuanku Sunur. Sejarah dapat dapat saja menkloning waktu, orang, tempat atau hasil karya. Sejarah juga dapat mengklarifikasi siapa yang sebenarnya berbuat apa? Tentu saja memerlukan waktu. Namun jelas Hamzah Fansuri adalah ulama sufi besar dan pioneer yang menginternasionalkan bahasa dan sejarah Melayu. Wajar saja bila ada yang menghargainya secara sangat khusus. Bahkan sampai mengkloningnya hanya semata-mata karena menghargai kharisma nama dan karya besarnya. (Jaya Arjuna)

TINGGALKAN KOMENTAR