DEPOK – Dunia.Sastra nasional kehilangan salah satu putra terbaiknya. Hamsad Rangkuti, sastrawan kondang, mantan pemimpnn redaksi majalah sasta ‘Horison’, meninggal dunia, Minggu pagi (25/8) di rumahnya di di Depok.

Sebagai seorang seniman Hamsad secara total mengabdikan hidupnya untuk sastra. Almarhum meninggal dalam usia 75 tahun, setelah dua tahun mengidap komplikasi berbagai penyakit.

“Tadi sekitar pukul 06.00,” kata Nur Windasari, isteri Hamsad Rangkuti, Minggu (26/8/2018).

Jenazah almarhum Hamsad Rangku-
ti dimakamkan di TPU Kukusan – Beji,
Depok, Minggu siang, diantar para sen-
iman, teaterawan dan handai tulan.S

Selama beberapa waktu terakhir, Hamsad diketahui mengidap penyakit kompleks, dari prostat, jantung, hingga stroke. Hamsad sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit.

Hamsad Rangkuti yang dikenal lewat cerpen-cerpennya yang brilian, lahir dengan Hasyim Rangkuti di Titi Kuning, Medan Johor, Medan, Sumatera Utara pada 7 Mei 1954.  Semasa hidup Hamsad Rangkuti adalah salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan.

Kumpulan cerita pendeknya, ‘Bibir
dalam Pispot’ (2003), ‘Sampah Bulan
Desember’ (2000), ‘Lukisan Perkawi-
nan’ (1982), ‘Cemara’ (1982). Noveln-
ya, ‘Ketika Lampu Berwarna Merah’
(1980) memenangkan sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Karya ini merefleksikan kehidupan para gelandangan dan kaum yang tergusur di Jakarta.

Selain dari DKJ, Hamsad meraih
Penghargaan Insan Seni Indonesia
Mal Taman Anggrek & Musicafe (1999), Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000), Penghargaan Khusus Kompas atas Kesetiaan dalam Penulisan Cerpen (2001), Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001), Khatulistiwa Literary Award 2003 untuk Bibir dalam Pispot.

Hamsad juga Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka
(2001) untuk “Umur Panjang untuk
Tuan Joyokoroyo” dan Senyu “Seorang
Jenderal pada 17 Agustus”, SEA Write Award di Bangkok, Thailand (2008), Penghargaan Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi (2014).

Salah satu karyanya yang paling
menarik adalah ‘Maukah Engkau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibiirmu’ .

“Karya Hamsad Rangkuti ibarat potret tentang perubahan sosial yang terjadi pada zamannya. Jakarta misalnya, bagi dia, adalah kota yang penuh paradoks,” kata Maman S. Mahayana, Kritius Sastra ternama. (***/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR