Foto: Goong Renteng Sumedang. (ist)

SUMEDANG – Kesenian Sunda Goong Renteng kina mulai punah. Goong Renteng merupakan salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang sudah cukup tua. Paling tidak, goong renteng sudah dikenal sejak abad ke-16, dan tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat.

Menurut Jakob Kunst (1934:386), goong renteng dapat ditemukan di Cileunyi dan Cikebo (wilayah Tanjungsari, Sumedang), Lebakwangi (wilayah Pameungpeuk, Bandung), dan Keraton Kanoman Cirebon. Selain itu, goong renteng juga terdapat di Cigugur (Kuningan), Talaga (Majalengka), Ciwaru (Sumedang), Tambi (Indramayu), Mayung, Suranenggala, dan Tegalan (Cirebon).

Seni budaya seni budaya sunda buhun peninggalan Prabu Geusan Ulun tetap lestari di tengah hingar-bingar perubahan jaman seakan telah ditelan oleh waktu. Pagelaran-pagelaran seni sunda, khususnya kesenian sunda buhun mulai ditinggalkan dan jarang diminati. generasi muda sekarang lebih mengenal alat musik masa kini ketimbang gamelan.

Sangat disayangkan, hal itu tidak berlaku bagi pagelaran kesenian Goong Renteng. Pagelaran seni pusaka langgeng khas Sumedang yang merupakan peninggalan Prabu Geusan Ulun ini telah ada sejak tahun 1578 tetap eksis dan secara turun-temurun tetap terjaga kelestariaannya.

“Pagelaran Goong Renteng ini merupakan peninggalan Prabu Geusan Ulun pada tahun 1578 sampai akhir 1601 kemudian tetap dilestarikan oleh Pangeran Kornel sebagai generasi ke-2 dan hingga saat ini secara turun temurun tetap terjaga kelestariannya,” ujar pimpinan seni pusaka langgeung Goong Renteng, Soma (61) kepada RRI, Kamis (10/8/2017).

Soma menuturkan, bersama belasan orang anggota paguyuban seni goong renteng asuhan Aki Oom yang dipimpinnya, beralamat di Dusun Ciwaru RT 05/04 Desa Cisarua Kecamatan Cisarua Kabupaten Sumedang ini hampir setiap minggu rutin dan selalu ada yang meminta pagelaran goong renteng.

“Hampir setiap minggu ada saja yang nanggap, entah itu untuk acara ritualan, hajatan, ruat lokat maupun ruat pengantin. Dan tidak hanya di Sumedang saja, hampir ke semua wilayah yang ada di Jawa Barat pernah pentas bahkan, sampai ke daerah lain seperti, Jonggol, Bogor hingga Jakarta,” tuturnya.

Uniknya, setiap kali kesenian goong renteng ini dipentaskan selalu saja ada orang yang kesurupan atau kerasukan arwah leluhur. Hal ini, Imbuh Soma, pada saat gamelan ditabuh, alat musik gamelan yang paling tua ini seakan mengundang mereka yang punya paham maupun keilmuan masing-masing untuk melakukan ngibing (Menari, red) dan tubuh mereka terbawa larut dalam irama gamelan.

“Irama gamelan yang ditabuh, membuat tubuh mereka menari hingga larut dalam ritme gamelan seakan mendatangkan apa yang mereka pahami. Dan setiap kali pentas dimanapun itu tempatnya pasti ada saja kejadian orang yang kesurupan. Tapi itu hanya sementara, pada saat gamelan dihentikan mereka akan kembali pada titik kesadaran masing-masing,” katanya. (rayza nirwan/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR