Foto ilustrasi: Kota Batam. (ist)

BATAM – Lesunya geliat pariwisata di Batam membuat perwakilan dari 12 asosiasi dan perhimpunan pariwisata di Batam melakukan aksi pawai keprihatinan pasca kenaikan harga tiket pesawat dan bagasi berbayar sejumlah maskapai di Indonesia, Senin (11/2/2019) pagi.

Aksi hunjuk rasa digelar dengan garis start Gedung DPRD Batam lalu mengintari kompleks pemerintahan, menggunakan kostum karnaval, adat, outfit traveler, spanduk, streaform bertuliskan kata sarkas yang menyindir situasi pariwisata hari ini dan diiringi dengan musik tradisional. Setelah berkeliling rombongan pawai keprihatinan ini, mereka memilih gedung DPRD sebagai garis akhir untuk mengadukan keluhan mereka.

Di antara mereka ada yang mengenakan pakaian adat, ada juga yang membawa koper bertuliskan bagasi 7 kg, sebagai bagasi yang tak dikenakan biaya.

“Pawai dihadiri oleh 500 peserta. Di antaranya persatuan taksi, pedagang oleh-oleh, Asita, HPI, dan lain-lain. Karena pengunjung wisatawan berkurang di awal tahun ini,” ujar Manajer Operasional Villa Kek Pisang, Fauzan.

Orator dari ASPPI, Irwandi Azhwar melalui mic , bentuk keprihatinan terhadap industri pariwisata dengan tingginya tiket pesawat dan bagasi berbayar, membunuh pariwisata dan usaha kecil menengah.

Pelaku pariwisata menginginkan pelancong datang ke Batam apalagi pemerintah pusat sudah menetapkan angka kunjungan wisatawan 2,4 juta orang ke Batam.

Irwandi berharap, aksi pawai pariwisata ini bisa menjadi trigger untuk industri pariwisata lainnya di Indonesia.

“Kementerian pariwisata dan Kementerian Perhubungan, dengarkan jeritan kami. Ada seorang emak yang merindukan anaknya, mereka tidak bisa pulang karena tingginya harga tiket pesawat. Kita semua berharap, ayo sampaikan pesan ini kepada seluruh Indonesia. Kami tidak berdemo, kami hanya menyampaikan keprihatinan, karena industri pariwisata tidak bisa demo,” jelas Irwandi.

Perwakilan asosiasi lainnya, Sumiati meminta kepada pemerintah untuk mengintervensi kebijakan maskapai terhadap kondisi hari ini, dan kebijakan itu mampu mendukung industri pariwisata di Kepri.

“Industri di Kepri, adalah harga mati, kenaikan tiket pesawat dan bagasi berbayar itu membuat industri pariwisata mati,” teriak Sumiati.

Hal senada juga disampaikan oleh Nongsa Resort Batam, Viki, mengatakan, Batam sebelumnya telah banyak diguncang dibidang perekonomian, industri-industri banyak yang tutup, diharapkan pariwisata di Batam tidak ikut-ikutan hancur hanya karena kenaikan tiket pesawat dan bagasi berbayar.

“Kita ingin sama-sama untuk membangkitkan industri pariwisata di Batam, karena ini juga program pemerintah untuk kita semua,” ungkap Viki.

Peserta pawai keprihatinan tidak henti-hentinya meneriakkan Batam untuk Indonesia, Batam milik kita. Mereka membacakan puisi dan menuliskan petisi dengan mengumpulkan dan membubuhkan ratusan tandatangan. (rizal)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here