Foto ilustrasi: Pembatik membatik. (ist)

Mendekatkan batik kepada generasi muda agar rasa nasionalisme mereka bangkit, apalagi mahakarya asli Indonesia itu kaya akan nilai-nilai luhur
YOGYAKARTA – Para pecinta batik yang tergabung dalam Gerakan Cinta Batik Mahakarya Indonesia (GCBMI), mempelopori Gerakan Yogya Kota Batik Dunia.

Livy Laurens Ketua GCBMI menjelaskan, upaya itu untuk mempertahankan predikat Kota Batik Dunia, yang diperoleh Yogyakarta sejak tahun 2014 dari Dewan Kerajinan Dunia.

Gerakan yang dilaunching di Desa Gilangharjo Bantul pada 7 Januari lalu, untuk mendekatkan batik kepada generasi muda agar rasa nasionalisme mereka bangkit, apalagi mahakarya asli Indonesia itu kaya akan nilai-nilai luhur.

”Dengan pergerakan kita ini, bertujuan untuk melestarikan Yogyakarta sebagai kota batik dunia, sehingga ini merupakan gerakan khusus dari kami”, ungkap Livy di Bantul, Senin (9/1/2017).

Dalam Gerakan Cinta Batik Mahakarya Indonesia kata Livy, melibatkan banyak tokoh dari berbagai kalangan, salah satunya Sineas Garin Nugroho yang menciptakan batik bertema film dan kearifan.

”Ada juga Musisi Gilang Ramadhan, yang menciptakan batik bertema musik, kemudian Promotor Olahraga Helmy Sungkar yang menciptakan motif batik bendera start sebagai simbol sportifitas”, lanjut dia.

Melalui batik kata Livy, gerakan yang dipimpinnya memiliki visi untuk menguatkan kearifan lokal nusantara. (ant/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here