JAKARTA – Galeri Nasional Indonesia (Galnas) akan menggelar perhelatan Trienal Seni Patung Indonesia pada 7-26 September 2017 di Gedung A dan B serta outdoor Galeri Nasional Indonesia.

Pameran ini merupakan perhelatan yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh Galeri Nasional Indonesia setelah digelar pada tahun 2011 dan 2014. Pada pameran yang kali ini mengambil tema “skala”, ada sebanyak 46 karya yang akan ditampilkan dari 46 pematung tanah air. Seluruh seniman yang terlibat merupakan pematung yang diundangan khusus atas dasar konsistensi kerja, sikap, serta konsep berkarya dalam pengembangan seni patung moderen dan kontemporer Indonesia.

Tema kurasi “skala” yang digagas oleh kurator Rizki A. Zaelani dan Asikin Hasan, bergerak dari persoalan ‘re-skilling’ (atau: ‘penguatan kembali aspek keterampilan’) dalam tradisi seni patung yang jadi pokok gagasan pada tema “versi” (Trienal Seni Patung Indonesia #2). Selanjutnya, ‘re-skilling’ juga tak terpisahkan dari tema “ekspansi” (Trienal Seni Patung Indonesia #1) yang menggagas ekspresi dalam tradisi seni patung Indonesia untuk dijadikan gagasan kuratorial pada penyelenggaraan trienal yang pertama tahun 2011. Disamping karena bertumpu pada kedua landasan kuratorial perhelatan sebelumnya, tema “skala” ini juga tak terbatas tentang persoalan cara seseorang mengukur dan membandingkan jarak bentuk secara fisikal, melainkan soal mengartikulasikan makna dari pokok-pokok masalah secara mental serta konseptual.

Pokok-pokok masalah saat kini yang diperbandingkan dengan atau melalui karya-karya seni patung adalah kenangan maupun imajinasi tentang budaya yang kita hidupi. Kebudayaan bukan hanya soal kumpulan objek, barang, atau benda-benda melainkan juga tentang aneka rangkaian kejadian dan pemahaman yang terus berubah berkelanjutan. Mengenal serta menyelami praktek kebudayaan adalah rangkaian proses pemaknaan, dan lebih dari sekedar memikir serta membandingkannya sebagai satuan objek-objek yang bersifat statis.

Bila menilik lebih jauh, persoalan makna berkaitan pula dengan sejarah perkembangan seni patung modern yang dipahami sejalan dengan kerangka pemikiran fenomenologi dan kajian linguistik struktural. Kedua tradisi pemikiran tersebut bersambung dengan kesimpulan bahwa makna merupakan segala sesuatu yang bergantung pada cara tiap-tiap ‘bentuk eksistensi’ yang mengandung pengalaman oposisional dalam dirinya sendiri secara laten. Situasi semacam itu secara simultan akan selalu mengandung pengalaman berurut secara implisit. Seni patung tentu juga bagian dari produk kebudayaan yang sejatinya mampu mengartikulasikan bentuk budaya bersifat hidup. Tradisi seni patung yang terbiasa dalam rangkaian persoalan memiliki kanon bagi cara penghayatan nilai secara mendalam sekaligus juga jadi ajakan bagi pengalaman yang bersifat konkrit.

Melalui penyelenggaran Trienal Seni Patung Indonesia #3 “Skala” ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk menunjukkan potensi, kreativitas, dan pencapaian artistik para pematung Indonesia. Selain itu juga menjadi sarana untuk saling membuka dialog kreatif antar pematung Indonesia guna menambah wawasan serta perspektif dalam berkesenian. Bagi publik, pameran ini diharapkan dapat memberikan tambahan pengetahuan tentang seni rupa kepada para pengunjung yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat. (gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR