Ilustasi foto poster Pameran Bumi Tadulako- GNI (ist)

SEDIKITNYA 15  karya perupa pilihan koleksi Galeri Nasional Indonesia dan 15 karya perupa asal Sulawesi Tengah akan disandingkan dalam sebuah pameran bertajuk “Bumi Tadulako, Mareso, Maroso Rupa” di Taman Budaya Sulawesi Tengah, 18-21 November 2015.

Ilustasi foto poster Pameran Bumi Tadulako- GNI (ist)
Ilustasi foto poster Pameran Bumi Tadulako- GNI (ist)

Kepala Galeri Nasional Indonesia Tubagus Andre Sukmana di Palu, mengatakan pameran itu dilakukan untuk memudahkan masyarakat di daerah mengakses karya-karya maestro perupa Indonesia yang selama ini menjadi koleksi andalan Galeri Nasional di Jakarta.

Menurut Andre, tugas dan fungsi Galeri Nasional yang mestinya bisa diakses untuk seluruh masyarakat Indonesia, tetapi karena terhalang jarak, waktu dan biaya sehingga tidak semua masyarakat bisa menjangkau Galeri Nasional.

“Jangankan masyarakat, seniman saja tidak semua bisa mengakses itu. Maka lahirlah inisiatif kita ke daerah-daerah,” katanya, Kamis (19/11/2015)

Dia mengatakan untuk mengemas pameran yang baik dengan didukung sejumlah sarana tidak gampang apalagi di daerah yang belum memiliki galeri repsentatif untuk sebuah pameran berkualitas.

“Apalagi pameran yang dikemas dengan prinsip-prinsip kuratorial yang baik,” katanya.

Andre mengatakan pameran tersebut tidak sekadar memperkenalkan karya-karya maestro perupa, tetapi sekaligus mewadahi potensi karya-karya seni di daerah.

“Tujuannya untuk edukasi,” katanya.

Andre mengatakan dari 1.800 koleksi seni rupa di Galeri Nasional Indonesia hanya 15 yang akan dipamerkan di Taman Budaya sebab sebagian besar karya telah dipajang di ruang pamer tetap.

“Sehingga tidak mungkin dibawa ke sini,” katanya. Lima belas karya koleksi Galeri Nasional tersebut antara lain Perang (1972) karya Abas Alibasyah, Ayat Kursi I (1985) karya Abdul Rachman Haji, Kota Lama (1955) karya Hendra Gunawan, Calon Arang (1968) karya I Nyoman Gunarsa, Atje (1963) karya Kusnadi, Semar (1985) karya Rastika, dan Pasar (1972) karya Rusli.

Sementara karya seni rupa Sulawesi Tengah antara lain Topoda’a (2015) karya Elan Merdeka, Hide (2015) karya Bagus Purwatama Putra, Topotara (2014) karya Endeng Mursalim, Kemasan Budaya Pamer (2015) karya M Febriandy, dan Human Chaos (2015) karya M Okta D.

Pameran yang dikuratori A Sudjud Dartanto dengan Asisten Kurator Hapri Ika Poigi tersebut telah mendesain ruang pameran di Taman Budaya menjadi ruang pameran yang istimewa pertama kali di Sulawesi Tengah.

Pameran tersebut sekaligus dirangkai dengan sejumlah agenda kegiatan Taman Budaya berupa lomba melukis kolektif anak sekolah dasar, pameran karya siswa SMP dan teater remaja untuk SMA. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR