Telong Naga Dalam Festival Tabut Bengkulu (dyo)

ADA yang unik dalam Festival Tabut Bengkulu pada bulan muharram, Pada tanggal 8 muharram atau sehari sebelum Tabut Bersanding atau arak gedang dilegar, arena Festival dipenuhi oleh puluhan Lampion berukuran besar atau oleh warga Bengkulu disebut Telong-telong.

Telong Naga Dalam Festival Tabut Bengkulu (dyo)
Telong Naga Dalam Festival Tabut Bengkulu (dyo)

Sejarah Telong-telong sebagaimana dikisahkan Mahyudin (Kiam Eng) yang secara turun temurun setiap tahun membuat telong-telong sejak dari kakek buyutnya mengatakan, percampuran budaya warga keturunan tiongkok yang bermukim di kawasan Kampoeng China (Chinatown) terjadi saat dilakukan pembangunan Benteng Marlborough tauh 1719.

Para pekerja asal Punjab Iraq yang membawa tradisi Tabut disela sela waktu bekerja membangun benteng membutuhkan bahan baku bangunan tabut khususnya berbahan kain dan kertas yang dijual oleh warga Kampoeng China, pertukaran informasi dan niat untuk ikut memeriahkan tradisi ini, warga keturunan Tiongkok itu mencoba membantu para pewaris keturunan tabut dengan penerangan lampu yang terbuat dari kertas dan dinyalakan pada malam hari.

Para pewaris keturunan Tabut itu berbaur bersama warga melayu Bengkulu atau disebut bangsa Serawai bersama warga keturunan Tiongkok melampiaskan kegembiraan dalam pesta lampion yang digelar sepanjang malam dengan iringan musik khusus seperti gedang duduk atau Dhol, gendang pengiring nyaring atau biasa disebut Tassa dan irama mendayu dari seruliung bambi dan seruling berbahan kuningan yang biasa disebut Serunai.

“Kami ingin mengambil peran dalam ritual mereka dan membantu memberikan penerangan malam hari dengan membuat Lampion atau telong-telong berukuran besar, lama kelamaan ini juga menjadi kebiasaan kami hingga menjadi bagian penting dalam Festival Tabut hingga sekarang bahkan menjadi salah satu acara yang dilombakan,” ujar Kiam Eng di Bengkulu (22/10/2015).

Pada malam lomba Telong-telong yang digelar didalam arena Festival Tabut di lapangan merdeka Kota Bengkulu pada malam kamis itu, terlihat puluhan telong telong beraneka rupa seperti naga, kapal laut, patung orang dan berbagai kreasi lain tampil anggun, bahkan beberapa diantaranya bisa digerakkan mengikuti irama lagu yang sengaja diputar lewat pengeras suara.

Hendi Zafdian, warga kelurahan Sumur Meleleh mengaku selalu menunggu momentum lomba telong telong ini, dia sengaja datang ke lapangan merdeka untuk melihat dan mengagumi bangunan yang diberi penerangan lampu dan berbentuk aneka rupa itu.

“Saya bersama keluarga selalu datang kesini, lihat saja, semuanya unik dan menarik,” ujar Hendi. (dyo)

TINGGALKAN KOMENTAR