LAWANGWANGI Creative Space didukung Galeri Nasional Indonesia akan menggelar Pameran Tunggal Eddy Susanto (seorang seniman berkediaman di Yogyakarta) bertajuk JavaScript, pada 4–13 September 2015, di Gedung A Galeri Nasional Indonesia. Pameran ini akan dibuka untuk umum mulai Jumat (4/9/2015).

Poster JavaScript-1
Dari Poster JavaScript (ist)

Pameran yang dikuratori oleh Asmudjo J. Irianto dan Suwarno Wisetrotomo ini akan memamerkan hasil riset Eddy Susanto yang sudah dijalaninya selama beberapa tahun kebelakang. Hasil riset tersebut disuguhkan dalam sekitar 50 karya yang terdiri dari lukisan dan instalasi patung, yang sebagian besar merupakan karya bersifat interaktif.

JavaScript berfokus pada berbagai elemen kebudayaan lokal yang disandingkan dengan elemen–elemen dari kebudayaan lainnya. Dalam pameran ini, Eddy Susanto tak hanya membandingkan kebudayaan berdasarkan perbedaan lokasi saja (Barat dan Timur/Jawa), namun juga berdasarkan perbedaan dimensi waktu (masa lalu dan masa kini), pola produksi (saintifik/teknologi dan religius), karakter visual (teks dan pictorial), dan seterusnya. Eddy juga banyak menempatkan dua produk kebudayaan dari dimensi waktu yang berbeda, seperti yang bisa dilihat pada salah satu karya yang mengetengahkan ‘pun’ (permainan kemiripan kata) antara javascript (bahasa pemrograman komputer) dengan aksara Jawa (Javanese text)—Asmudjo J. Irianto.

Karya-karya Eddy Susanto menyodorkan berbagai pertemuan budaya (manuskrip); manuskrip Arjunawiwaha dipertemukan dengan karya klasik Albrecht Durer (1471-1528) “The Promade”, karya kidung Asmarandana dipertemukan dengan karya Lambert Hopfer “The Conversion of St. Paul”, kitab Baratayudha dipertemukan dengan karya Albrecht Durer “The Four Horsemen of the Apocalypse”. Karya Eddy Susanto memancarkan watak historisnya dengan kuat, sekaligus mendorong kesadaran terhadap identitas. Dalam pameran ini, Eddy menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dan kisah sukses, yang tertera dalam sejumlah artefak dalam bentuk manuskrip dan sejumlah benda lainnya. Pemahaman, pemaknaan, dan pembacaan yang belum banyak dilakukan, mengakibatkan sumber-sumber historis itu seperti mengalami pembekuan—Suwarno Wisetrotomo.

Menyimak kembali satu demi satu karya Eddy Susanto, dapat ditemukan bahwa tema besar yang dapat dirasakan hadir menandai pameran ini adalah persoalan identitas, yang justru kian mengemuka saat pelbagai komponen kebudayaan saling silang bertransaksi dalam karya Eddy Susanto, dan menghasilkan simpulan-simpulan baru yang menarik untuk disimak dan disintesakan. Salah satunya adalah hadirnya harmonisasi antara identitas global dan identitas lokal—Asmudjo J. Irianto.

Selain menampilkan pameran, JavaScript juga menyuguhkan serangkaian acara berupa Press Conference pada Jum’at, 4 September 2015, di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia, yang akan dilanjutkan dengan Art Tour di Gedung A. Press Conference ini bertujuan untuk memberikan kesempatan jelajah ruang pamer pada insan media massa untuk mengetahui informasi secara lebih detail sekaligus berdialog langsung dengan pihak penyelenggara dan para kurator.

Rangkaian acara akan dilanjutkan dengan Grand Opening pameran JavaScript pada Selasa, 8 September 2015, yang akan dibuka oleh F.X. Mudji Sutrisno di Main Hall Gedung A Galeri Nasional Indonesia, pukul 19.30 WIB. Ada juga Art Talk yang akan menjadi ajang untuk berdiskusi antara Eddy Susanto dengan publik, mengenai karya dalam pameran JavaScript ini. Art Talk akan diselenggarakan pada Sabtu, 12 September 2015 di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia, dengan menghadirkan Eddy Susanto sebagai seniman yang bersangkutan, Asmudjo J. Irianto dan Suwarno Wisetrotomo sebagai kurator, Carla Bianpoen (kritikus seni rupa Indonesia), serta dimoderatori oleh Dwihandono Ahmad (salah satu dewan kurator dari Galeri Gerilya, Bandung). Acara ini terbuka untuk umum. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR