SEMARANG- Untuk kesepuluh kalinya ‘Sastra Pelataran’ digelar oleh Seksi Budaya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah di gedung PWI Jateng, Jalan Tri Lomba Juang nomor 10, Minggu (22/10/2017) lalu.

Kegiatan ini dengan judul ‘Duel Puisi vs Geguritan’ menampilkan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono dengan karya geguritan dan sastrawan asal Jakarta Yudhistira ANM Massardi tampil dengan karya puisi. Pengunjung harus menyimak makna yang serirat di geguritan dan puisi yang dibacakan.

Pemusik dari Teater Lingkar mengawali acara. Mereka memainkan musik dan tembang Jawa. Mbak Din, istri dari pimpinan Teater Lingkar, Maston membacakan geguritan sekaligus menembang. Kemudian, Sri Puryono naik ke panggung yang diiringi dengan musik.

“Geguritan ini pada zaman kolonial digunakan rakyat sebagai upaya menyuarakan bentuk tidak kepuasan kepada raja. Kalau sekarang, melakukan demo dan arakarakan. Dulu tidak. Rakyat dengan geguritan dan diiringi musik. Raja mengetahui dan meminta prajurit untuk mencari tahu apa yang terjadi. Itu dulu,” katanya.

“Geguritan ini adalah bentuk kritikan saya terhadap diri saya. Pesan moral kepada nayaka ing praja,” kata Sri. Sri Puryono membacakan geguritan tentang Sumpah Pemuda berjudul ‘Makantar Kantar’ dan ‘Para Mudha’ yang ditulis pada Oktober 2017,” ucapnya.

Termasuk pula geguritan tentang pewarta berjudul ‘Juru Warta’ yang ditulis pada Maret 2017. Bertepatan bulan bahasa pada Oktober ini, Sri membawakan geguritan berjudul ”Basa lan Kridha”. ”Keutuhan NKRI adalah tanggung jawab bersama. Pada Oktober ini adalah bulan bahasa, ini titipan dari Kemendikbud.

Di acara ini ada dua orang perwakilan dari Kemendikbud. Terima kasih atas kedatangannya,” ucapnya. Sebelum Yudhistira ANM Massardi membacakan puisipuisinya, wartawan bernama Widiartono tampil. Ia membaca dua geguritan karyanya.

Di awal penampilan, Yudhistira bercerita tentang bahasa Jawa, di mana ia pernah mempelajarinya saat mengenyam pendidikan SMP dan SMA di Yogyakarta. “Saya punya guru bahasa Jawa yang luar biasa, namanya Sukarto. Karena tidak digunakan lama, saya lupa menggunakan bahasa Jawa. Kalau masih bisa, saya ingin menerjemahkan puisi saya ke bahasa Jawa,” terang Yudhistira.

Ia lalu menjelaskan akan berbagi cerita cinta dirinya kepada Jakarta. Puisi tersebut masuk di buku kumpulan puisi terbarunya berjudul Luka Cinta Jakarta. “Sajak-sajak cinta berkaitan dengan budaya urban di Jakarta. Jakarta boleh diartikan dengan Semarang, Yogyakrta, dan lainnya,” ucap Yudhistira.

Ketua PWI Jateng, Amir Machmud NS mengatakan pihaknya melakukan kerja kolaborasi dengan beberpa pihak untuk menjaga salah satu komitmen PWI Jateng yakni memajukan dan mengembangkan kegiatan sastra di Jawa Tengah. Salah satunya adalah berkolaborasi dengan Bank Jateng yang selama ini aktif menghidupkan sastra di Jawa Tengah, khususnya di Semarang.

‘Ini menjadi komitmen PWI Jateng bersama Dekase. Ketua Dekase, Handry TM juga merupakan Seksi Budaya PWI Jateng,’ tutur Amir. Tema yang menghadirkan geguritan dengan puisi, kata dia, bukan mewujudkan pertentangan antarkeduanya.

Melainkan lebih sebagai sebuah harmoni yang saling menguatkan. ”Kali ini kami mencoba membangkitkan kembali hal berbeda, yang selama ini hadir di panggung Sastra Pelataran. Kegiatan ke- 11 nanti, digelar dua bulan yang akan datang,” bebernya.

Perwakilan Panitia Sastra Pelataran, Agus Dhewa, memaparkan Sastra Pelataran juga hasil kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

“Kalau kebetulan Pak Sri Puryono itu pegawai Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, di sini ia sebagai penggurit yang tidak mainmain. Artinya, ia menyisakan waktu betul untuk menulis geguritan dan puisinya,” tandas Agus.(***/gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR