Pertunjukan saat peluncuran buku 'Perempuan Kumpulan Duapuluh Cerita Pendek' (ist)

TAK banyak penulis perempuan yang dimiliki Sumatera Utara. Sebut saja, Dini Usman, sosok yang satu ini setelah ‘berproses’ sejak tahun 2001, akhirnya pada tanggal 19 September 2015 lalu ia meluncurkan kumpulan cerita pendeknya.

Pertunjukan saat peluncuran buku 'Perempuan Kumpulan Duapuluh Cerita Pendek' (ist)
Pertunjukan saat peluncuran buku ‘Perempuan Kumpulan Duapuluh Cerita Pendek’ (ist)

Peluncuran buku itu digelar di Omerta Koffie, Jalan KH. Wahid Hasyim No. 9 Medan, Sumatera Utara. Buku dengan bertajuk ‘Perempuan Kumpulan Duapuluh Cerita Pendek’ ini diluncurkan setebal 170 halaman yang diterbitkan oleh Atap Buku, Jogjakarta. Sastrawan Sumut banyak yang hadir, diantaranya Hasan Albana dan Agus Susilo dan Hidajat Banjar serta seniman Medan lainnya.

Dalam kesempatan itu, ditampilkan juga pementasan monolog yang idenya dari nukilan buku kumpulan Cerpen tersebut, yakni ‘Ceruk Bukit Kapur’ oleh aktris monolog kota Medan r Bunda Jibril Zuhro. Selain itu ditampilkan juga tarian kontemporer oleh penari Agung Suharyanto dengan judul ‘Pewaris Semunding’ serta sebuah lagu diiringi gitar akustik.

Buku ‘Perempuan Kumpulan Duapuluh Cerita Pendek’ ini mengangkat budaya masyarakat Indonesia pada umumnya yang memeluk konstruksi budaya patriarki, dimana kelihatan bahwa posisi perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Dini Usman dalam cerpen-cerpennya menemukan kenyataan bahwa budaya patriarki adalah sumber persoalan. Buku ini cukup menarik karena juga mengungkap maskulinisme pada tubuh perempuan, cerpen beraliran surealisme dengan narasi yang sangat apik dan lancar.

Tidak hanya dalam cerita ini ditampilkan para perempuan korban kekerasan yang kerap terjadi di sekitar kita dan pelaku kekerasan biasanya dilakukan oleh keluarga atau tetangga dekat. Buku ini sarat dengan pembelajaran kehidupan yang penuh lika-liku.

Hasan Albana berkata dalam prolognya, tokoh-tokoh gila pada sebagian besar cerpen-cerpen Dini dapat dikatakan secara tendensius mempertontonkan betapa sejak lampau perempuan kerap menjadi objek ketidakadilan.

“Ditangan Dini, perempuan-perempuan diberikan porsi yang besar untuk melakukan perlawanan, menyerukan pemberontakan, meskipun masih lebih condong kepada tataran pemikiran, serapah perasaan, benturan-benturan definisi, belum dominan pada eksekusi perilaku,” kata Hasan Albana, Rabu (21/10/2015)

Sebaliknya, Agus Susilo yang doyan berambut gondrong ini menilai, bahwa Cerpen dalam buku ini semua bagus. Ceritanya tidak ngawur, malah hidup dan mengganggu kemapanan. “Konsepnya kuat. Ini realisme sosial. Cerpen-cerpen ini bagus, aneh saja kalau nggak suka,” kata Agus memuji.

Dalam kesempatan yang berbeda, Dini Usman mengatakan kalau cerpennya ini adalah kontemplasi yang dalam memaknai kehidupan ini. Ia berharap tahun-tahun selanjutnya akan terus berkarya.

“Saya akan terus berkarya. Kalau tidak cerpen ya lukisan. Saat ini saya tengah mengumpulkan beberapa lukisan juga,” bebernya. (aba/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR