Foto: Peluncuran Buku In Memoriam, 100 seniman, wartawan dan budayawan Sumatera Barat. (ist)

Buku  100 tokoh Sumtera Barat  adalah mereka yang sudah lebih dulu wafat namun meninggalkan kontribusi yang abadi dan berpengaruh. Sebut saja mulai dari Rohanna Koedoes, Abdoel Moeis, Marah Roesli, Adinegoro, A.A Navis, Tiar Ramon, Arizal, Bastian Tito, St. Takdir Alisjahbana, Leon Agusta, Osman Gumanti, Zaidin Bakry, Soewardi Idris dan tentu banyak lagi

 

 

PADANG – Ranah Minang cukup banyak telah melahirkan seniman, budayawan dan wartawan. Kontribusi para seniman, budayawan dan waratwannya dapat dilihat dari berbagai kreasi, karya  dan buku yang telah dilahirkan.

Mereka meninggalkan karya yang berpengaruh untuk pembangunan negara dan masyarakat.Apakah yang dilakukan oleh para seniman, wartawan dan budayawan ini juga terus dilakukan oleh para pewaris yakni generasi muda Minangkabau? Sedikit banyak tentu saja dilakukan. Namun harus ditingkatkan dan semakin digaungkan.

Hal itulah yang menjadi niat Nazif Basir saat menulis buku ‘In Memoriam, 100 seniman, wartawan dan budayawan Sumatera Barat’. Dia berharap buku itu bisa menjadi pengingat, sekaligus cambuk agar para generasi muda berkontribusi layaknya para pendahulu.

“Kisah mereka harus diabadikan dalam bentuk buku sehingga cerita dan semangat yang mereka tularkan tak mudah terlupakan. Kita tak bisa hanya bergantung pada ingatan karena sejatinya ingatan manusia itu singkat,” ujarnya.

Maka dalam buku itu ditulislah 100 tokoh Sumbar. Mereka yang sudah lebih dulu wafat namun meninggalkan kontribusi yang abadi dan berpengaruh. Sebut saja mulai dari Rohanna Koedoes, Abdoel Moeis, Marah Roesli, Adinegoro, A.A Navis, Tiar Ramon, Arizal, Bastian Tito, St. Takdir Alisjahbana, Leon Agusta, Osman Gumanti, Zaidin Bakry, Soewardi Idris dan tentu banyak lagi.

“Sudah sejak dulu dari Minangkabau lahir banyak tokoh seniman, budayawan dan sastrawan yang berkontribusi besar untuk Indonesia. Kita berharap hal seperti ini tetap dilakukan oleh generasi muda. Minangkabau harus terus memberikan sumbangsih besar seperti dulu,” ujar Nazif, Kamis (25/5/2017).

Saat peluncuran buku itu, diskusi tentang para seniman, wartawan dan budayawan yang bekontribusi untuk bangsa dan negara juga dilaksanakan. Akademisi, Prof. Mestika Zed dan Prof. Taufik Abdullah hadir sebagai pembicara. Sastrawan Sumbar, Harris Effenfi Thahar selaku moderator. Para mahasiswa, guru-guru dan staf-staf dinas, seniman dan penggiat seni budaya hadir sebagai peserta diskusi itu.

Nazif mengatakan buku In Memoriam, 100 seniman, wartawan dan budayawan Sumatera Barat tersebut memang bukanlah buku biografi lengkap. Melainkan hanya catatan singat atau semacam memorablia saja. Tujuannya untuk mengingat Sumatera Barat pernah punya para seniman, sastrawan dan budayawan sejak dulu dalam berbagai kapasitas kemampuan mereka. (gr)

 

TINGGALKAN KOMENTAR