Foto: L ukisan S Sudjojono - Kota Tua Semarang. (ist)

Karya:
S Sudjojono
Judul:
Kota Tua Semarang
Ukuran:
130 x 175 cm
Harga:
Inbox/Chat WA +62 821-1193-1466

Jika ditanya “Siapa pelukis Indonesia yang dikenal?”, mungkin kebanyakan orang akan menjawab Raden Saleh atau Basuki Abdullah. Di samping kedua nama itu, sebenarnya Indonesia di era 1930-an mempunyai pelukis dan kritikus seni bernama S. Sudjojono. Sudjojono lahir dengan nama Sudjiojono Sindudarsono yang berarti Sudjiono anak Sindu. Sudjojono di sekitar akhir 1930-an menghilangkan huruf “i” dari namanya sehingga menjadi Sudjojono dengan alasan lidahnya senantiasa keseleo tiap kali menyebut “djiojono”

Sudjojono memahami kesenian sebagai jiwa ketok (jiwa yang nampak). Sudjojono dalam esainya yang berjudul “Kesenian, Seniman dan Masyarakat” mempertanyakan apa yang disebut sebagai kesenian.

“Apakah itu kesenian? Untuk menjawab ini susah sekali. Kalau seorang seniman membuat suatu barang kesenian, maka sebenarnya buah kesenian tadi tidak lain dari jiwanya sendiri yang kelihatan. Kesenian adalah jiwa ketok. Jadi kesenian adalah jiwa. Jadi kalau seorang sungging membuat sebuah patung dari batu atau kayu, maka patung batu atau patung kayu tadi, meskipun ia menggambarkan bunga, ikan, burung, atau awan saja, sebenarnya gambar jiwa tadi. Di dalam patung ikan, patung burung, atau awan tadi kelihatan jiwa sang Sungging dengan terangnya.”

Kesenian bagi Sudjojono ialah jiwa seniman yang terlihat. Karya seni merupakan gambaran jiwa seniman sekalipun materi yang direproduksi ialah tiruan dari kenyataan. Hal ini dapat terjadi karena menurut Sudjojono jiwa bukanlah suatu kamar klise yang menangkap kenyataan sebagaimana adanya. Sudjojono memberi ilustrasi tentang proses kreatif yang berangkat dari penglihatan ditangkap jiwa lalu dimanifestasikan dalam gambar atau lukisan. (ad/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR