Foto: Dialog Budaya Indonesia berada di Handil. (ist)

Sebuah Rangkaian Kegiatan Festival Kampung Handil

PEMBUKAAN Dialog Budaya: Indonesia Berada di Handil sebagai bagian dari rangkaian Festival Kampung Handil dilaksanakan jam 20.30 malam di Lapangan Olahraga Muara Jawa, depan Kantor Kecamatan Muara Jawa, yang berada di desa Handil, Muara Jawa, KuKar, Kaltim. Sekitar 90 orang berkumpul khidmat menyimak materi-materi yang disampaikan oleh narasumber-narasumber yang hadir dari berbagai daerah untuk ikut mensupport geliat budaya yg sedang tumbuh berkembanh di Kampung Handil.

Foto: Dialog Budaya Indonesia berada di Handil. (ist)
Foto: Dialog Budaya Indonesia berada di Handil. (ist)

Beberapa wakil dari unsur kecamatan hadir, di antaranya adalah dari Koramil, Polsek, dll. Peserta kegiatan dialog yang berlangsung selama lebih dari 3 jam sampai lewat tengah malam ini dihadiri oleh anak-anak SD-SMP-SMA yang bergiat di sanggar seni, mahasiswa2 UnMul, para pekerja migas, ibu-ibu rumah tangga, anak-anak muda penggiat seni budaya, beberapa peserta yang hadir juga berasal dari Samarinda, Balikpapan, maupun Tenggarong.

Acara ini digagas dan diketuai oleh Nino Bayu Saputra, penggerak seni budaya khususnya di kalangan anak-anak muda, yang digarapnya bersama komunitas UNO, sekumpulan anak muda yang belajar dan berproses bersama untuk pengembangan kegiatan-kegiatan seni budaya dan organize event.

Acara ini diawali oleh penampilan tari kontemporer oleh anak-anak muda Muara Jawa dari Sanggar Seni Handil Borneo Etam, dilanjutkan sambutan pembukaan dari Wakil Kapolsek Muara Jawa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Acara inti Dialog Budaya digawangi oleh moderator Agung Cahyadi Nugroho, seorang guru yang menjadi penggerak seni budaya di kalangan anak muda Handil.

Dialog diawali dengan pemaparan konsep keselarasan budaya dengan sejarah bumi: Katastrofi Purba dan implikasinya pada manusia dan budaya, yang dibawakan dengan sangat menarik dan berapi-api oleh DR. Ir. Andang Bachtiar, MSc, pakar Dewan Energi Nasional, yang juga seorang budayawan. Seperti proses-proses pembentukan dan penghancuran bumi, kemungkinan besar manusia dan kebudayaannya juga SIKLUS bukan LINIER.

Purba-modern, purba-modern berulang-ulang, yang terjadi akibat terjadinya bencana besar (katastrofi), yang melenyapkan sebuah peradaban hanya dalam waktu sekejap. Dalam konteks kampung Handil, kampung Kutai, kampung Kalimantan, kampung besar Indonesia: kita harusnya terus menggali tinggalan-tinggalan bumi maupun budaya maupun keterkaitan antar keduanya untuk bisa memanfaatkannya ke depan demi sebesar-besarnya kemaslahatan bersama.

Narasumber berikutnya adalah Ibu Dr. Aji Qamara, dosen Universitas Mulawarman, yang menyumbangkan uraian penyemangat tentang perlunya kita “menciptakan” budaya kita sendiri. Tidak ada “budaya asli” yang stagnan, semuanya saling berinteraksi dan berkembang. Menggali dan mendokumentasikan yang lama dan mengembangkan yang baru yang sesuai dengan potensi yang ada, itu menjadi PR bersama kita semua.

Datuk Marangan, budayawan senior dari KuKar yang memiliki nama asli Budi Warga, tampil bersemangat setelah ibu Qamara. Datuk Marangan menceritakan tentang kekayaan ragam seni dan budaya KuKar, dengan mengambil contoh seni tari-tarian “Kutai” dan sedikit menyerempet tentang adanya proses akulturasi berbagai kebudayaan (Melayu, Banjar, Jawa, Bugis) dalam budaya Kutai.

Jam 10 malam Junichi Usui, seniman musik kontemporer eksplorasi dari Tokyo, Jepang, dan Redy Eko Prastyo, seniman dari Malang pelaku konservasi musik tradisional dan penggagas Jaringan Kampung Nusantara, memberikan selingan penyegar dengan performance memainkan alat musik zoo, alat tiup Jepang, yang dikolaborasikan dengan kombinasi petikan Sapek Kalimantan.

Kemudian sesi diskusi dialog budaya kembali dilanjutkan, di sesi kedua, diawali oleh Redy Eko Prastyo yg berbagi cerita tentang konsep perlunya membangun strategi pertahanan budaya nusantara melalui memperkuat budaya kampung. Kampung menjadi basis penguatan budaya. (birokaltim/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR