Oleh : Mihar Harahap

mihar harahap
Mihar Harahap

Adakah Teater Indonesia Modern di Sumatera Utara? Tentu ada. Di Medan sebut saja Teater Nasioanal, Imago, Nuansa, Temobasia, Sangkuriang, Profesi, Kita, Patria, Co- libri, Kartupat, Cendana, Mahameru, Bhayangkara, Tunas, Que, D’lick, Blok, Merdeka, Anak Negeri, Siklus, O USU, LKK UNIMED, Sisi UMSU, Tetamu UISU dan Teater Ge- nerasi. Belum lagi, teater di sekolah, lingkungan masyarakat bahkan di media, organisasi masa, politik, lembaga profesi, sosial, agama dan sebagainya.

Pasti ada pula orang-orang di balik kelompok teater ini. Apakah selaku pimpinan, penulis naskah, sutradara, aktor-aktris, penata panggung (pendukung di balik layar) atau rangkap keahlian.Misalnya penulis naskah dan sutradara, aktor-aktris dalam beberapa pe- laku, pimpinan dan penata panggung atau lebih dari itu. Para teaterawan itu misalnya Barani Nasution, Burhan Piliang, D.Rifai Harahap, Dahri Uhum Nasution, Johan A. Nasution, A.Rahim Qahhar, Burhanuddin Nasution, Amiruddin AR dan Jaya Arjuna.

AS Atmadi, Bouy Hardjo, Anggia Putra, Sulaiman Sambas, M.Yakob, Syamsul Bahri, Idris Pasaribu, Amsal, Donny S, Afrion, Suheri Sasmita,Yan Amarni, Burhan Fol- ka, Choqienk Susilo Shakeh, Abu Bakar, Mihar Harahap,YS Rat, Porman Wilson, Bahar Saputra, Rizal Siregar,Yondik Tanto, Hafiz Taadi, Sabarto, Edi Siswanto, Aida Mahmun, Ratni D,Yanti, Siska Hasibuan, Bambang Sumantri, Mukhsin Lubis, Ibrahim Sembiring, Budi AU,Yusrianto, M.Syahril, Dayon Arora, Yulhasni, Irma Karyono, Ayub Badrin, Aci Acuh, Teja Purnama,Winarto, Suyadi San, M.Raudah Jambak dan Hasan AlBana.

Di kabupaten kota lainnya di Sumatera Utara, pertumbuhan dan perkembangan te-ater kurang lebih sama, meski dalam skala terbatas atau tak semeriah di Medan. Sebut sa- ja daerah Binjai, Langkat, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan,Tanjung Ba lai, Labuhan Batu, Tebing Tinggi, Siantar dan lain-lain. Malah, dalam hubungan kerjasa- ma, Medan pernah melaksanakan pementasan di daerah, sebagaimana daerah pernah me- lakukan pementasan ke Medan. Pokoknya, teater ada di Sumatera Utara.

pementasan Nyanyian Angsa dilakoni Iskandar Zulkarnaen dan Baharuddin Sahputra-1
Pementasan “Nyanyian Angsa” Produksi Teater Imago Medan (1988) aktor Iskandar Zulkarnaen dan Baharuddin Sahputra

Berdasarkan nama kelompok dan nama teaterawan itu, maka paling tidak teater di Sumatera Utara eksis dalam tiga periode. Periode 1980 (1960-1980), periode 2000 (1980-2000) dan periode 2020 (2000-2020). Boleh jadi, sebelum tahun 1960 (Masa Kemerdeka-an) bahkan jauh sebelum itu (Masa Kolonial) tetaer sudah ada. Menurut pengamatan, pe-riode 1980 dan periode 2000, keberadaan teater di Sumatra Utara sampai pada puncak. Hal ini ditandai dengan kuantitas dan kualitas pementasan.
Lahirlah sepuluh kelompok teater terbesar yang memiliki masa depan gemilang seperti Teater Nasional, Imago, Nuansa, Profesi,Kita, Kartupat, Patria, Que, Merdeka dan D’lick Teater Team. Tentu dengan pimpinan, penulis naskah, sutradara, aktor-aktris dan penata panggung (yang baik) seperti Burhan Piliang, D.Rifai Harahap, Barani Nasution, AS Atmadi, Dahri Uhum Nasution, Raswin Hasibuan, Amiruddin AR, Porman Wilson, YS Rat, Bouy Hardjo, S.Dalimunthe,Yan Amarni, Burhan Folka, Sabarto, Yondik Tanto, Edy Siswanto,Yanti, Siska Hasibuan, Aci Acuh dan Winarto Kartupat.

Bagaimana ke-ada-an Teater Indonesia Modern di Sumatera Utara sekarang ini? Pertama, ketika hampir tigabelas tahun periode 2020 sudah berlalu, namun kondisinya melemah atau menurun bila dibanding dengan kuantitas dan kualitas periode sebelumnya. Kedua, nama kelompok dan nama teaterawan pada periode 1980 dan 2000, kini kebanya-kan sudah meninggal dunia, merantau atau tidak aktf lagi. Ketiga, sekarang ini kesulitan ekonomi dan geseran nilai budaya sangat mempengaruhi kehidupan berteater.

Dalam kondisi itu, kehidupan teater menjadi ada tetapi tiada.Ada pementasan, te- tapi bisa dihitung dengan jari pertahun/bulan. Bahkan yang lebih parah lagi, ada kualitas, tetapi belum bisa diacungkan jempol. Sungguh, ke-ada-aan ini sangat mengkhawatirkan dan saya menyebutnya, teater kehilangan teater. Bagaimana ini? Bagaimana dalam waktu tujuh tahun lagi periode 2020, dapat memulihkan kuantitas dan kualitas pementasan. Bagaimana peteater sekarang ini bekerja kontinu dan sungguh-sungguh.

arif husein siregar lakon musang berjangut 1970
Aktor Arif Husein Siregar dalam lakon “Musang Berjanggut” tahun 1970 di Gedung Kesenian Medan

Memang pementasan bukan satu-satunya kreatifitas teater,namun pementasan me- rupakan syarat mutlak bagi eksistensi kelompok teater.Tegasnya, kelompok teater tanpa pementasan bukanlah kelompok teater.Dan pementasan tanpa kualitas, bukanlah sebuah pementasan, melainkan suatu pertunjukan.Cerita dibuat sedemikian rupa (biasanya hanya untuk hiburan belaka) tanpa memperhitungkan nilai-nilai tema dan bentuk, etika dan este-tika dalam pementasan demi untuk mencapai tujuan pertunjukan.

Terus terang, rimba teater seluas, semisteri dan serumit Medan, tidak bisa ditak-lukkan lima pendekar saja, Afrion,Yusrianto,Yulhasni,Yondik Tanto dan M.Raudah Jam-bak meski dengan ilmu silat apapun. Sehingga perlu pendekar teater lain untuk turun rim-ba dari pertapaannya, semisal Jaya Arjuna, Idris Pasaribu,YS Rat, Yan Amarni, Edy Sis-wanto, Sabarto, Erwin Kampusi, Choqienk Susilo Shakeh, Dayon Arora, Winarto Kartu-pat, Bahar Saputra dan nama lain yang enerjik, ekrspresif dan mampu.

Selain itu, tak terlepas keterkaitan pemerintah bidang pendidikan, kebudayaan, lembaga mitra sesi kesenian, kebahasaan, swasta yang bergerak dalam teater, sastra, serta pihak-pihak yang berkenan lainnya. Tak terkecuali individu eksekutif, legislatif, pengusa- ha yang gemar seni panggung dan merasa terpanggil untuk membenahi teater di Medan. Begitu pula daerah kabupaten kota di Sumatera Utara, sangat diharapkan keterlibatan pa- ra juragan pabrik, tokoh masyarakat dan generasi muda yang kreatif.

Untuk membangkitkan kembali 1).produktifitas pementasan, 2).kualitas pementa-san, 3).daya apresiasi masyayarakat, 4).pembentukan karakter bangsa dan 5).menciptakan manusia Indonesia seutuhnya, maka berbagai hal harus dilakukan. Pertama, merekrut pa-ra pemuda, pelajar dan mahasiswa untuk mengikuti latihan basis dan latihan pementasan terprogram. Syaratnya, diasuh oleh pelatih dan kelompok teater yang masih aktif dan ber-kelayakan.Target, menggelar pementasan yang benar-benar berkualitas.

Kedua, melakukan berbagai pengayaan, penguatan dan penghargaan.Misal, disku-si seni, workshop penata panggung dan kursus kepenulisan naskah oleh para pakar dalam bidangnya secara teori-praktek. Kemudian, menggelar parade, festival atau lomba pemen- tasan dengan menetapkan yang ‘terbaik’ penulis naskah, sutradara, aktor-aktris dan pena-ta panggung. Dewan juri terpilih (Medan-Jakarta-Jogya) 5 hingga 7 orang sesuai keahlian dan pemenang harus melampui sistem nominasi dan nilai standarisasi.

Kesimpulan bahwa teater Indonesia modern di Sumatera Utara hingga periode 20 20 tetap ada, diwakili beberapa kabupaten kota terutama di Medan. Hanya keber-ada-an-nya hingga tahun 2013 ini terasa mengkhawatirkan, sebab baik produktifitas maupun ku-alitas pementasan diperkirakan menurun bila dibandingkan dengan periode sebelumnya, 1980 dan 2000. Begitu, kita masih berharap dalam waktu 6 tahun ke depan, agar kelom- pok teater yang ada dapat melakukan pementasan terbaik. Semoga.

Penulis adalah Kritikus Sastra, MPR-OOS, Ketua FOSAD, Pengawas dan Dosen UISU

TINGGALKAN KOMENTAR