Dokan desa

Desa Budaya Dokan terletak di Kecamatan Merek Kabupaten Tanah Karo yang jaraknya kira-kira 20 meter dari Kota Kabanjahe, Sumatera Utara, sudah mulai hilang keasriannya.  Hal ini membuat kelompok masyarakat yang peduli dengan melestarikan situs kekayaan budaya yang ada di Tanah Karo tergerak untuk melestarikan Desa Dokan yang kini dinilai sudah tidak asri lagi.

Mencapai tujuan itu, para pecinta budaya yang ada di kota Medan akan   menggelar ‘Dokan Arts Festival’  yang akan digelar pada 7  Mei   2015  mendatang di Desa Dokan, Tanah Karo, Sumatera Utara.

“Kegiatan ini  merupakan sebuah pesta rakyat juga sebagai  sebuah wujud untuk kembali melestarikan situs kekayaan budaya yang ada di Tanah Karo,” kata salah satu panitia Ojak Manalu,  Kamis (15/2/2015).

Ojak yang juga dikenal sebagai seniman muda Medan yang berbakat ini mengatakan, bahwa  pada Sabtu  (7/2/2015), akan dilakukan kegiatan ‘pra awal’ dengan membuat sebuah pertunjukan seni berupa Pertunjukan Musik, Pemutaran Film, melukis bersama, menulis puisi dan Pertunjukan Tari di Desa Dokan.

“Kegiatan ini terbuka untuk umum. Kebersamaan adalah Kekuatan Kita. Juga agar pemerintah tertarik untuk memperhatikan masalah pelestarian budaya di Tanah Karo, khususnya dan umumnya di Sumatera Utara. kalau tidak kita yang melestarikan siapa lagi,” kata Ojak.

TERANCAM

Jika Desa Budaya terlihat jorok dan kurang terawat apa mungkin teris lokal atau pun asing akan datang? “Mana mau turis datang kalau tempatnya tidak terawat. Kami berharap dengan kegiatan ini, bisa membuat masyarakat Desa Dokan dan pemerintah bahu membahu melestarikan kebduayaan kita yang begitu agung,” papar Ojak.

Minimnya kepedulian pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan keasrian Desa Budaya Dokan,  lanjut Ojak, membuat  desa yang bisa menajdi tujuan wisata itu terancam. “Sebab, diantara bangunan rumah adat, berdiri juga rumah-rumah penduduk,” terantg Ojak.

Ojak menyampaikan,  para seniman yang mengisi kegiatan ‘pra awal’ akan dihadiri oleh  Brevin Tarigan yang juga inisiator dari kegiataan ini.

Tampil juga kelompok musik Simalem Art dan artis lokal Maharani Br Tarigan. Pada kegiatan ini juga  didukung oleh Karang Taruna desa Dokan yang mempersembahkan Tarian khas karo.

dokan arts

“Rumah Karya Indonesia juga turut mengambil bagian dalam kegiatan ini melalui menggambar dan menulis puisi untuk anak-anak di desa Dokan tersebut. Komunitas Film Sumatera Utara ( KOFI SUMUT ) juga berpartisipasi dalam mengembangkan minat menonton kepada masyarakat lewat film-film lokal yang akan di putar pada malam acara,” tutup Ojak.

DESA BUDAYA DOKAN

Desa Budaya Dokan terletak di Kecamatan Merek Kabupaten Karo yang jaraknya kira-kira 20 kilometer dari Kota Kabanjahe.Apabila dari Kota Medan jaraknya sekitar 95km. Desa Dokan memiliki atmosfer yang menyenangkan dan tidak terlalu banyak yang mengunjungi. Desa Dokan adalah desa yang strategis yang terletak di antara kota Berastagi dan Danau Toba. Jadi,tidak rugi bila kita berwisata ke desa ini. Penduduk setempatnya juga sangatlah ramah-ramah. Di persimpangan sebelum memasuki Desa Dokan juga terdapat pasar buah yang menjual segala hasil pertanian yang dihasilkan oleh penduduk setempat.

Desa Budaya Dokan adalah desa yang dikenal sebagai desa tradisional yang menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Karo. Alasannya adalah karena desa ini merupakan salah satu dari tiga desa yang mewakili sejarah dan peradaban budaya karo. Desa lainnya adalah Desa Lingga dan Desa Peceran. Lain ini ditandai masih berdirinya Rumah adat Siwaluh Jabu,rumah adat berusia ratusan tahun yang menyiratkan kekayaan adat masyarakat setempat.

Dikatakan rumah siwaluh jabu karena di dalam rumah ini terdapat delapan jabu yang dihuni oleh delapan kepala rumah tangga yang hidup berdampingan dalam keadaan damai dan tentram.Bahan bangunan rumah tradisional ini terbuat dri kayu bulat,papan,bambu, dan beratapkan ijuk tanpa menggunakan paku ataupun kawat yang dikerjakan oleh tenaga arsitektur masa lalu.

rumah adat dokanDesa Dokan merupakan sebuah desa yang indah, memiliki 8 rumah tradisional dan tinggal 7 rumah yang masih digunakan. Dari 300 keluarga yang tinggal di desa Dokan, 56 keluarga tinggal di rumah tradisional ini, hampir 20% dari jumlah penduduk. Batas dari satu keluarga dengan keluarga lainnya ditandai dengan adanya tirai kain panjang. (gr)

TINGGALKAN KOMENTAR