Foto: Buku Rumah Sembunyi Chairil Anwar. (ist)

Oleh Tatan Daniel

Melewati Kampung Kelambir, gudang tembakau, ladang tebu yang luas, rumah-rumah tua pekerja kebon warisan Belanda, akhirnya aku sampai di rumah yang sunyi, sejuk, dan tenang di sudut kota kecamatan Hamparan Perak, di luar kota Medan. Rumah Damiri Mahmud, sang penyair Melayu yang amat dikenal di Malaysia dan Singapura.

Foto: Buku Rumah Sembunyi Chairil Anwar. (ist)
Foto: Buku Rumah Sembunyi Chairil Anwar. (ist)

Ketika aku sampai, ia muncul dari kebun di belakang rumahnya, dengan parang dan topi lebar di tangan. Dan senyum lebar juga. Lalu kami pun sibuk berbincang ditemani hasil bumi, sesisir pisang awak, kue Melaka, dan teh manis panas, di meja di teras rumah, di tengah hari yang sentausa.

“Chairil itu anak Medan tulen!” ujarnya bersemangat. “Di banyak sajaknya, akan mudah ditemukan nafas pantun, ungkapan, umpatan, diksi, dan idiom Melayu, yang khas Medan, seperti hambus, menginyam, menjengkau, sintuh, mengelucak, kupak, sekali tetak, bermuka-muka, remang miang..!”

Damiri menepis pandangan Teeuw, Goenawan, Yassin ,dan beberapa pihak yang mencap Chairil, yang lahir di Medan itu, banyak dipengaruhi Marsman, Slauerhoff, dan filsafat Barat. “Sewaktu di Medan, sampai umur 20, kepenyairannya sebenarnya sudah penuh. Dengan kekayaan kata dan bahasa Melayu. Chairil sangat jelas dipengaruhi oleh budaya Melayu. Dengan lagak dan karakter Medan! Tujuh tahun di Jakarta, adalah periode ledakannya..” tegasnya.

Foto: Damiri Mahmud dan Tatan Daniel (ist)
Foto: Damiri Mahmud dan Tatan Daniel (ist)

Kami bercakap-cakap tentang ke-Medan-an Chairil yang beliau tulis dalam buku Rumah Sembunyi Chairil Anwar.

Bang Damiri, sastrawan Medan kelahiran tahun 1945 itu, yang pada tahun 1984 mendapat Hadiah Utama Sayembara Penulisan Kritik se-Indonesia itu, tampak sehat. Tak banyak sastrawan seangkatannya yang masih hidup. Ada yang lebih tua, Bokor Hutasuhut. Lainnya, Sulaiman Sambas dan Zaidan BS. Banyak di antaranya sudah berpulang, seperti Rahim Qahhar, NA Hadian, Z. Pangaduan Lubis, Herman KS, Ristata Sirad, Zainuddin Tamir Koto, Dt. A. Azmansyah, Aldian Arifin..

TINGGALKAN KOMENTAR