Maestro Gedang Melayu Chairuddin Dahlan bersama Mak Yal (ist)

MAESTRO  gendang Melayu yang masih tersisa, di Medan. Ia  penerima Penghargaan Anugerah Kebudayaan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2018, sebagai Maestro Seni Tradisi dari Sumatera Utara, yang akan diserahkan pada Rabu, 26 September 2018, di Jakarta.

Potret bersejarah, Chairuddin Dahlan dan Sauti dan rombongan penari Serampang Duabelas diterima oleh Presiden Sukarno di Istana Bogor (1962)

Sebuah potret ukuran besar para penari Serampang Dubelas di sebuah ruang Istana Kepresidenan di Bogor pada tahun 1962 terpampang di panggung Rumah Melayu Anjungan Sumatera Utara TMII Jakarta. Potret berwarna sepia itu menjadi latar panggung Festival Tari Serampang Duabelas se-Nusantara Ke-III yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 September 2017.

Foto: Chairudin Dahlan (ist)

Gambar tempo dulu itu, sekilas mengingatkan, bahwa tari Serampang Duabelas pernah tampil di Istana Negara dan diterima oleh Presiden Sukarno. Namun lebih dakhsyat lagi, gambar itu sesungguhnya menyiratkan perhelatan yang tidak sederhana dari dunia Melayu dalam mengisi dinamika kemerdekaan. Ia mendedahkan gagasan perawatan kebudayaan Melayu dari bangsa yang besar, kepada dunia. Gagasan yang terus dirawat dan diruwat, untuk menjadikan nilai-nilai Melayu berkhasiat, dalam memupuk bangsa ini menjadi lebih terhormat.

Sebuah potret ukuran besar para penari Serampang Dubelas di sebuah ruang Istana Kepresidenan di Bogor pada tahun 1962 terpampang di panggung Rumah Melayu Anjungan Sumatera Utara TMII Jakarta. Potret berwarna sepia itu menjadi latar panggung Festival Tari Serampang Duabelas se-Nusantara Ke-III yang dilaksanakan pada tanggal 9 dan 10 September 2017.

Gambar tempo dulu itu, sekilas mengingatkan, bahwa tari Serampang Duabelas pernah tampil di Istana Negara dan diterima oleh Presiden Sukarno. Namun lebih dakhsyat lagi, gambar itu sesungguhnya menyiratkan perhelatan yang tidak sederhana dari dunia Melayu dalam mengisi dinamika kemerdekaan. Ia mendedahkan gagasan perawatan kebudayaan Melayu dari bangsa yang besar, kepada dunia. Gagasan yang terus dirawat dan diruwat, untuk menjadikan nilai-nilai Melayu berkhasiat, dalam memupuk bangsa ini menjadi lebih terhormat.

Presiden Sukarno dengan bijak tidak hanya menerima, tetapi juga mencanangkan tari Serampang Duabelas sebagai tari pergaulan nasional.

Penari-penari Serampang Duabelas tampak bersama Presiden Sukarno di depan Istana Negara, sebuah kenangan yang membentangkan dengan lebar memori lama. Tetapi gambar itu semakin berjiwa, menautkan masa lalu dengan masa sekarang. Itu dikarenakan adanya sosok Chairuddin Dahlan, atau Pak Udin, (belakangan, karena usianya, di kalangan muda ia akrab dipanggil sebagai Tok Udin) di antara para seniman yang berpose di gambar itu, salah seorang pemain gendang Melayu, maestro, yang masih sehat sampai sekarang.

Foto: Chairuddin Dahlan bersama Bung Karno di Istana Negara (ist)

Bahkan di Fstival Tari Serampang Duabelas tahun 2017 dan 2018 yang baru lalu, ia didaulat sebagai salah seorang pemusik pengiring peserta lomba, yang sengaja diundang datang dari Medan.

Pada tahun 1960-an awal itu, Pak Udin diminta oleh Sauti (pencipta tari Serampang Duabelas) menjadi salah seorang pemusik untuk tampil di Istana Negara. Usianya saat itu baru 20 tahun. Pak Udin muda sebelumnya sudah banyak mengiringi penari di berbagai tempat. Ia sudah matang sebagai pemain gendang karena sering magang dalam kelompok-kelompok Ronggeng Melayu. Oleh sebab itu ia sering diminta jadi pemain gendang dalam berbagai even penyajian tari Melayu.

Dari bermacam kegiatan itulah, ia kemudian diikutkan dalam misi kebudayaan Indonesia ke Cina dan Moskow. Misi kebudayaan era Sukarno yang masih menyisakan kejayaan dunia Melayu sampai sekarang.

Chairuddin Dahlan lahir di Medan, pada tanggal 4 Maret 1942.

Ayahnya bernama Achmad Dahlan, suku Melayu, berasal dari kampung Mabar. (Pada masa mudanya, Achmad Dahlan, sang ayah, ikut dalam kelompok perjuangan kemerdekaan baik di masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Di satu sisi, sebagai pemusik Ronggeng Melayu yang bermain di berbagai kampung, di sisi lain sebagai aktivis pergerakan. Terakhir ia bergabung ke laskar rakyat. Setelah Indonesia merdeka ia masuk jajaran kepolisian dengan pangkat terakhir Letnan Dua).

Ada pun ibunya bernama Siti Arfah, juga berdarah Melayu dari kampung yang sama, Mabar (sekarang masuk wilayah Kecamatan Medan Deli).
Pak Udin adalah anak pertama dari tujuh orang bersaudara. Adik-adiknya, Nuraini (almarhumah), Zahara, Abdul Rahman, Abdul Rahim, Syahrial, dan Zainab Bulkiah. Mengawali pendidikan di Sekolah Rakyat di Sukaraja, Medan, dan berlanjut ke SMP Negeri 2 di Jl. Pemuda, Medan.

Ia memilih bersekolah di Jalan Pemuda, karena jaraknya dekat dari tangsi (asrama polisi), tempat tinggalnya waktu itu. Ayahnya berharap ia tidak meninggalkan bangku sekolah meskipun pilihan hidupnya berkesenian. Selesai sekolah menengah pertama, ia melanjutkan pendidikan di SMEA Negeri Jl. Sindoro.

Setamat SMEA, ia tak berkeinginan meneruskan pendidikan. Meski pada waktu itu, untuk mendapatkan status sosial yang lebih baik, peluangnya terbuka lebar. Baginya, seni ronggeng Melayu adalah kehidupannya yang nyata. Kehidupan yang mengantarkan dirinya menerima keragaman budaya masyarakat yang ditempa dalam realitas yang berubah-ubah. Keragaman yang cerdas menerima petuah-petuah.

Yang bukan sekedar dokumen sejarah, melainkan kecerdasan menerjemahkan tradisi musikal yang handal dalam ornamentasi yang nakal. Kecerdasan mencermatinya, membentuk perilaku yang tahu menempatkan diri dalam ruang dan peluang. Meski hanya pemain gendang, yang hanya sebelah mata orang memandang.

Ayah Pak Udin pemusik ronggeng, yang memainkan alat musik biola. Seangkatan dengan Nursiah, dan Nafsiah, penyanyi ronggeng kenamaan pada masa itu. Ketika itu ayahnya sudah memiliki biola merek Antonius Smirman, yang ia peroleh dari seorang asing yang singgah di Medan. Suatu kelas sosial tersendiri bagi seorang pemusik, karena biola seperti itu hanya dimiliki oleh kalangan bangsa barat serta kalangan seniman istana kerajaan Melayu Sumatera Timur, seperti Langkat, Deli, Serdang, atau Asahan.

Ayahnya bermain ronggeng di rumah-rumah, jika ada pesta perkawinan.

Pak Udin belajar bermain musik dengan melihat orang-orang yang bermain ronggeng itu. Proses pembelajaran itu berlangsung bermula sejak ia masih amat muda, sejak usia 10 tahun. Selain gendang Melayu, ia juga mempelajari alat musik drum dan bonggo.

Sejak kecil, ia seringkali dibawa ayahnya menyaksikan latihan dan pertunjukan Ronggeng Melayu di berbagai tempat. Tak sulit bagi ayahnya untuk membawa Pak Udin kecil kemana-mana. Sebab ayahnya ketika itu memiliki kenderaan sepeda motor Norton 350 cc, yang kemudian berganti dengan Mecless 350 cc.

Chairuddin Dahlan aau Pak Udin bersama Mak Yal dan Ade Fauzi, mengiringi finalis Festival Tari Serampang Duabelas se-Nusantara ke-4 Tahun 2018 di Anjungan Sumattera Utara TMII. (ist)

Sepulang dari tempat-tempat pertunjukan itu, Udin kecil biasa berlatih di rumah. Ayahnya memainkan biola, ia bermain gendang. Di rumahnya itu, sepulang dari jalan-jalan atau pun pulang kerja, ayahnya kerap memainkan lagu Gunung Sayang (lagu pembuka dalam penyajian Ronggeng Melayu) di hadapan Chairuddin kecil.

Dari ayahnya inilah Chairuddin Dahlan mendapat bimbingan untuk mencintai seni tradisi Melayu dan menjadi pemain gendang, profesi yang ditekuninya sampai sekarang. Di mata Chairuddin, ayahnya adalah tokoh Ronggeng Melayu yang “punya nama” di antara karibnya yang lain.

Dua saudara Pak Udin lainnya, Rahman dan Rahim, juga menjadi pemain gendang, demi perawatan seni budaya Melayu yang senantiasa merujuk ke hulu.

Dalam falsafah dunia Melayu, gemuruh kampung hanya terungkap lewat suara lesung yang saling bersambung serta suara gendang yang saling berdentung. Suara lesung menyiratkan adanya kehidupan yang terus berlangsung, sementara suara gendang menggambarkan dinamika kebudayaan Melayu yang terus dijunjung.

Dua hal ini saling bergantung dan menjadi resam di seluruh semenanjung. Orang Melayu selalu memberikan nilai-nilai ini dengan segala rinciannya, yang dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk pilihan.

Seorang Achmad Dahlan sangat gigih memberikan petuah-petuah Melayu kepada anaknya, terutama si sulung Chairuddin Dahlan. Meski ia hanya masyarakat biasa yang tidak mendapat pendidikan sekelas bangsawan.

Kakek dan nenek Pak Udin adalah Satar dan Maryam. Kakeknya bekerja menggalas kelapa untuk dipasok ke pasar-pasar tradisional di Medan. Sedangkan neneknya menjadi pembantu juru masak Tengku Perdana, keluarga Sultan Deli, di Istana Maimoon Medan.

Di usia lima belas tahun Pak Udin sudah bergabung dengan kelompok-kelompok ronggeng Melayu lain, di luar kelompok ayahnya. Group Pak Udin bermain musik untuk pertama kali, di usia remaja, saat masih belasan tahun, ialah grup tari Melati, pimpinan M.K. Batubara, yang bermarkas di Jalan Sentosa Lama, Medan.

Ia mengiringi hampir semua peronggeng handal yang ketika itu sering tampil karena kepopulerannya. Dari kelompok tua sampai yang seangkatannya, seperti Nurjannah, Bariah, Nafsiah (yang bersama Anjang Nurdin Paitan, mendapat Anugerah Budaya dari Perpustakaan Nasional RI pada tahun 2016), Saptiah, Mami Ribut, Senang Ginting, Pak Wahab, Pak Bob, Galuh Diang, dan lain-lain.

Ia tak hanya bermain di Medan, tetapi juga melawat ke berbagai tempat, mulai dari Tamiang (Aceh) sampai kepulauan Riau. Perjalanan yang kadang memakan waktu dalam bilangan minggu atau bulan, baru kembali lagi ke Medan. Pekerjaan sebagai pemain gendang seperti itu dilakukannya berkali-kali sembari menyelesaikan sekolah di Medan.

Bersama grup Melati, ia berpentas di Singapura, dan Malaysia (Kuala Lumpur, Melaka, Pulau Pinang) pada sekitar awal tahun 1950-an. Mengiringi para penari Serampang Duabelas, Mak Inang, Tanjung Katung, serta tari-tari Simalungun, Minang, dan lain-lain.

Di usia 20 tahun, Pak Udin sudah tampil ratusan kali antara Aceh Tamiang sampai Riau dan pulau-pulau kecil lainnya. Ronggeng Melayu ketika itu memang menjadi hiburan primadona masyarakat Melayu di seluruh semenanjung Melayu sepanjang pantai timur Selat Melaka. Sebagai kesenian yang memiliki emosional dan spiritual dunia Melayu, Ronggeng Melayu melalui pantun-pantunnya merangsang intelektualitas bermetafora yang khas berkias.

Jauh dari asumsi hiburan yang tak pantas. Dan Pak Udin membenamkan diri dalam dunia kesenian yang cerdas ini bertahun-tahun, mungkin sampai akhir hayatnya.

Foto: Chairuddin Dahlan bersama Mak Yal, Ade Fauzi, dan Jamaluddin di Anjungan Sumatera Utara TMII (2018). (ist)

Tari Serampang Duabelas yang dipopulerkan oleh Sauti, semakin memberi ruang bagi Pak Udin untuk meluaskan pergaulan dan pengalaman, mengiringi para penari Serampang Duabelas dalam berbagai lawatan.
Sebelum ke Jakarta pada tahun 1962, seperti yang tampak dalam foto rombongan tim kesenian bersama Presiden Sukarno di Istana Bogor yang dipajang di Rumah Melayu Anjungan Sumut TMII, Pak Udin selalu diajak oleh Pak Yusuf ikut latihan di Jalan Air Bersih, Medan.

Waktu itu Sauti ingin latihan tari diiringi oleh gendang secara live sebagaimana tradisi kesenian itu. Sauti sengaja menjauhkan penari dari audio rekaman, untuk membantu penari merasakan bunyi gendang secara langsung. Serampang Duabelas yang diciptakan Sauti bersumber dari ronggeng Melayu, sehingga jiwa ronggeng Melayu dalam bentuk rentak, ritmis, dan ragam geraknya sangat kental bernuansa ronggeng Melayu.

Pak Udin, orang yang berperan besar dalam melahirkan bunyi tersebut, akhirnya terkaut. Ia laksana orang yang pandai bersangkut-paut. Setiap kegiatan tari ia terikut. Di jenjang atas ia sering tersangkut, di kalangan bawah pun ia pandai menurut.

Perkenalan dengan Sauti di Jalan Air Bersih (Kantor PDAM Tirtanadi sekarang) membuat ia semakin diakui sebagai pemain gendang yang handal. Padahal ketika itu ada pemain seangkatannya yang memiliki tehnik pukulan gendang yang sama, yaitu Tutur Sitepu, Mula Melekeh Surbakti (dari suku Karo), dan Buyung Becak atau Buyung Ngalengko. Sauti telah mengajar di Jalan air Bersih itu sejak tahun 1959. Murid-muridnya anak-anak pegawai PDAM Tirtanadi, sekitar 20 orang, yang rata-rata berusia dewasa.

Ketika intensitas latihan semakin meninggi, sesekali mereka pindah ke Bengho Bukit Barisan di Lapangan Merdeka, Medan, baru kemudian di Ansambel Bukit Barisan di Jalan Listrik, Medan. Di situlah ia kerap bermain gendang dengan Tutur Sitepu atau kadangkala dengan Mula Melekeh Surbakti. Sedangkan untuk alat musik akordeon dimainkan oleh Dahlan Siregar (dari Binjai) yang dianggap Pak Udin sebagai pemain yang matang dalam mengalunkan komposisi lagu Pulau Sari, lagu pengiring tari Serampang Duabelas. Menurut Pak Udin, Dahlan Siregarlah, bersama Sauti, yang membuat komposisi musik untuk Serampang Duabelas.

Ketika permintaan lawatan kebudayaan Indonesia ke Moskow dan Beijing diterima oleh Sauti dari Presiden Sukarno, Pak Udin adalah salah seorang yang dihubungi untuk bergabung dalam tim tersebut. Sauti langsung bertindak sebagai pelatih dengan menempatkan Dahlia Lubis dan Ros Lubis, kakak beradik, orang dari kawasan Sukaraja, sebagai penari utama. (Dahlia Lubis dan Ros Lubis adalah penari ternama saat itu, nama keduanya sering disebut oleh Mayang Murni Karimah, seorang penari senior Melayu yang kemudian hijarah ke Jakarta).

Sebelum berangkat, tim itu tampil di Istana Kepresidenan di Bogor atas permintaan Presiden Sukarno, sebagaimana yang kemudian terekam dalam gambar di Rumah Melayu Anjungan Sumatera Utara TMII Jakarta itu. Sebelum berangkat mereka singgah di Jalan Sriwijaya di rumah Ibu Fatmawati. Beristirahat selama dua hari dan dilayani oleh para pengawal kepresidenan. Kebutuhan-kebutuhan mereka difasilitasi oleh staf kepresidenan, yaitu Pak Yusuf dan Pak Arbi, atas perintah langsung Presiden Sukarno.

Perjalanan budaya ke Moskwo dan Beijing sekitar tujuh hari. Di Moskwo tampil dua kali dan di Beijing dua kali. Sebelum berangkat ke Moskow dan Beijing, karena kagum terhadap permainan gendang Pak Udin, Presiden Sukarno memerintahkan kepada ajudan agar menyediakan gendang untuk Pak Udin. Pak Udin pun mendapat hadiah gendang dari Presiden Sukarno, yang dipesan di Toko Pandu, buatan Ribut. (Bertahun-tahun gendang itu disimpan oleh Pak Udin. Tapi, karena kebutuhan biaya hidup, pada tahun 1980, gendang hadiah Presiden itu akhirnya ia jual ke salah seorang seniman di Jambi, pada satu lawatan kesenian ke daerah tersebut).

Pulang dari Beijing dan Moskow, ia masih terus bermain gendang. Di mana saja, tidak mengenal tempat-tempat yang dapat membedakan orang terbelakang maupun yang terpandang. Juga kapan saja, bisa pagi, siang, sore maupun malam, yang penting memiliki kebutuhan resam supaya tunjuk ajarnya tidak hanyut maupun tenggelam. Tentu juga untuk siapa saja. Tidak memilih dari golongan atau pun puak dari mana.

Karena tidak ingin terikat, ia tidak pernah menetap di satu group. Pernah pula ia bermain bersama grup ronggeng Anjang Nurdin Paitan dari Perbaungan. Di jalan Listrik, ia bermain ronggeng bersama Ahmad Kidal, Muin, Tuah Tanjung, dan Mansyur Tanjung. Penyanyinya, antara lain, Marni, Butet Dogol, dan Jaing.

Bersama kelompok ronggeng itu, ia bisa bermain gendang nonstop dari jam 8 malam sampai jam 2 malam.

Tapi ia tidak pernah bermain di Taman Raden Saleh, sebuah tempat berkumpulnya para pemain dan pecinta ronggeng dari berbagai pojok kota Medan. Pak Udin Muda, yang berumah di Sukaraja, di kawasan yang disebut Kebon Sayur/Jl. Multatuli, yang dibatasi Sungai Deli, dilarang oleh Lily Suhaeri bermain di Taman Raden Saleh itu, tempat para seniman ronggeng menggelar acara, yang kerap beraroma minuman keras. Di sana bermain Buyung Ngalengko (gendang), Ahmad Kidal (akordeon), Muin (biola), dan Sori Siregar (biola), yang waktu itu sudah berumur 30-an. “Rusak kau nanti!”, kata Lily Suhaeri, yang pada waktu itu menjabat sebagai pimpinan kelompok musik RRI di Jalan Serdang.

Beberapa penghargaan yang pernah ia peroleh, antara lain, dari Kerajaan Malaysia, ketika melawat bersama group Melati. Pernah pula dari Taman Budaya Medan (2003) sebagai pemain gendang tradisi, serta dari RRI dan TVRI Medan.

Kedakhsyatan tabuhan gendangnya, dapat disimak dalam album rekaman seorang penyanyi Melayu yang sangat terkenal di Medan, Syaiful Amri, dalam album Pucuk Pisang. Ia juga pemain gendang untuk beberapa rekaman orkes Sukma Murni, dan Rayuan Kesuma.

Murid-muridnya, antara lain Ahmad (dari Kota Bangun), dan Tuah Tanjung.

Sampai saat ini, Pak Udin (yang untuk membiayai hidup keluarganya pernah membuka Warung Pak Pung Gahapi, di Jalan Medan-Belawan, kawasan Mabar, bersama seorang aktivis ronggeng, Toto Syam, dan diusia tuanya sempat pula berdagang bensin botolan di depan rumahnya di Batang Kuis), telah tampil ribuan kali mengiringi penari dan penyanyi, baik di Medan, Jakarta, Pekan Baru, Jambi, Palembang, Singapura, Brunei, Malaysia (Kuala Lumpur, Melaka, Pulau Pinang, Pahang, Selangor), Belanda (Tong-tong Fair, 1980), Jepang (Ichikawa, 2005), dan lain-lain. Di antaranya bersama group Melati, pimpinan Ahmad Kidal, seorang pemain akordeon handal.

Di Malaysia, ia pernah mengiringi penyanyi terkenal seperti Syarifah Aini, Rafeah Buang, SM Salim, Ahmad Djais, dan Daud Kilau. Semuanya itu, tentulah karena kepiawaiannya menabuh gendang, dan sikapnya yang luwes, yang memudahkannya diterima di berbagai kelompok kesenian Melayu.

Pak Udin menikah dengan Nur’aini, seorang perempuan Melayu yang berasal dari Pangkalan Berandan, tahun 1970. Dari istrinya itu, ia dikarunia empat orang anak, yaitu Sri Bayu (berdiam di kompleks Menteng Indah, Medan), Fahmi (di Malaysia), Mahdalena (di Malaysia), dan Oktavia Darma (sekarang di Jalan STM Medan). Nur’aini wafat tahun 2010. Tahun 2013, ia menikah lagi dengan Rahma.

Sebelum diminta menjadi pengiring musik Festival Tari Serampang Duabelas di Anjungan Melayu Sumatera Utara TMII bulan September tahun 2017 yang lalu, beberapa tahun ia tidak tampil untuk melengkapi penyajian kesenian Melayu hanya karena gendang yang dimilikinya terjual untuk biaya kehidupannya.

Sementara banyak kelompok-kelompok kesenian Melayu kurang nyaman mengajaknya bermain, karena alasan usianya yang sudah uzur. Padahal, kualitas permainannya belum pernah terkalahkan sampai saat ini. Pak Udin masih sebagai maestro gendang Melayu yang tak ada duanya, meski usianya sudah 75 tahun.

Atas perhatian Ali Djauhari, seorang tokoh asal Medan yang banyak membantu para seniman, ia mendapatkan gendang pengganti di acara Festival Tari Serampang Duabelas Nusantara Tahun 2017, di Anjungan Sumatera Utara TMII. Gendang itu, dengan upacara kecil, diserahkan secara bersama oleh H. Biem Triani Benyamin (Ketua PW MABMI DKI Jakarta), dan Sulistyo Tirtokusumo (Direktur Budaya Taman Mini Indonesia Indah, yang juga mantan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud). Dan gendang itu, ia tabuh lagi pada Festival tari Serampang Duabelas Se-Nusantara Ke-4 Tahun 2018 di panggung yang disediakan untuknya, di Anjungan Sumatera Utara TMII, bulan Agustus yang lalu.

Pada tanggal 9 September 2017 itu, di sela kemeriahan Festival Tari Serampang Duabelas, setelah menyaksikan Pak Udin bergendang dan menelisik riwayat beliau, terbetik usulan, masukan, dan tanggapan, lewat perbincangan serius pada beberapa kesempatan, antara Tatan Daniel (Kepala Anjungan Sumatera Utara TMII), Retno Ayumi (Retno Kampoeng), Ibu Dilinar Nasution, dan Mak Yal, dengan Bapak Sulistyo S. Tirtokusumo, dan Ibu Wa Ode Siti Marwiah Sipala (Wiwiek Sipala), serta etnomusikolog Rizaldi Siagian, tiga tokoh yang menjadi yang menjadi anggota Tim Penilai Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan Maestro Seni Tradisi, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (yang tahun-tahun sebelumnya sudah memperoleh Anugerah Kebudayaan dan Penghargaan sebagai Maestro Seni Tradisi), untuk memberikan Anugerah Kebudayaan sebagai Maestro Seni Tradisi kepada Chairuddin Dahlan, pada tahun 2018.

Alhamdulilllah, perjuangan bersambut dan respon hangat dan positif dari ketiga tokoh itu membuahkan hasil yang amat layak dan patut, untuk seorang Melayu, Chairuddin Dahlan. Anugerah terhormat dan pengakuan secara nasional dari negara dan Pemerintah Republik Indonesia itu, yang diberikan kepada seorang seniman “pak pung”, kesenian rakyat Melayu dari Sumatera Timur itu, kiranya menjadi peneguh semangat, untuk terus menghidupkan kerja budaya dan pengembangan seni tradisi kita. Terutama mengangkat marwah dan kehormatan seorang Chairuddin Dahlan, sebagai seniman gendang yang telah mengabdikan hidupnya berpuluh tahun, sebagai guru yang menyimpan dan mengajarkan filosofi, adab, ilmu pengetahuan, dan keahliannya tentang kesenian Melayu.

Mudah-mudahan kampung tetap berdenyut lagi, tanda peradaban dan perawatan Melayu bangkit kembali.

*Biografi ringkas ini disusun oleh Retno Ayumi (Retno Kampoeng), berdasarkan wawancara Retno Ayumi dengan Chairuddin Dahlan (Pak Udin) di Rumah Melayu Anjungan Sumut TMII Jakarta, pada tanggal 12-13 September 2017, disaksikan oleh Tatan Daniel (Kepala Anjungan Sumatera Utara TMII), Kuntara DM, Sofy Saca, Syahrial Pelani (Mak Yal), Herman Lunk, Ahmad, Dede Rasyid Dede, dan Jamaluddin Jamal Accordion Accordion)

TINGGALKAN KOMENTAR