neta s  pane
oleh Neta S Pane

Toba…aku tiba.Ada energi yang kuat,yang tiba-tiba menyeretku pulang.Pulang setelah 27 tahun menjadi anak panah yang hilang di negeri rantau.Pulang setelah menjadi ‘anak telinga’ yang hanya terdengar kabarnya tanpa pernah terlihat wujudnya oleh orang tua.

Ketika aku tiba siang masih menganga. Tubir Toba masih seperti dulu. Keras, menggoda, dan penuh misteri. Sepanjang mata memandang genangan air menghampar biru. Riaknya bagai gadis cantik yang bergelora.Toba… aku tiba membawa luka. Mampukah lukaku kau ubah menjadi keindahan, seperti keindahanmu. Dua puluh tujuh tahun di rantau hanya sia-sia.Bahkan aku makin sengsara. Aku pulang ingin mengaku kalah. Tapi aku tak pernah menyerah.

Kubawa lukaku,kubawa semua kesialanku, untuk kuberikan kepadamu. Terimalah. Benamkan semua kesialan nasibku dalam genanganmu. Cuci semua kesialanku dengan kesejukan airmu, agar aku lahir kembali dengan semangat baru dan bernasib baru. Agar aku lahir sebagai orang Batak yang baru,dengan kesuksesan baru. Ketika aku tiba,gerimis sedang menyapu Toba.Sudah banyak yang berubah.Toba semakin gerah.Kesejukan sudah pergi entah Ke mana.

Kedai-kedai yang lama semakin tua.Bersaing dengan toko-toko serba ada. Jalanan makin diwarnai angkutan kota .Asap knalpotnya menebar ke mana-mana.Polusi memadati kesunyian kota.Tapi tak ada tanda-tanda bahwa kota ini sebagai daerah wisata yang bergairah. Semua tetap sunyi seperti dahulu kala. Hanya toko-toko yang melimpah di kiri kanan kota di sepanjang jalan menuju Tigaraja. Toko-toko yang sepi dari kunjungan wisata.

Di kaki-kaki lima, inang-inang penjual mangga tetap setia.Mereka seakan bertugas menjaga ciri khas kota. Mangga Haranggaol oleh-oleh sejak dulu kala yang tetap terjaga.Ketika aku tiba,dia tengah menjala pora-pora.Berada di antara riak di sisi kaldera.Sampannya berayun-ayun berirama, seakan hendak mempermainkan nasibnya. Tak banyak yang ia dapat dari danau yang indah ini.

Tapi ia selalu bangga,Tao Toba,tao ni debata. Danau yang selalu memberi kedamaian. Itu kepercayaan yang diyakininya sejak dulu kala. Selalu ada energi baru baginya setiap kali mengarungi sisi-sisi kaldera. Danau tercinta yang tak akan mungkin bisa berpisah dari hidupnya. Meski terkadang tak mendapatkan apa-apa,ayahku tetap setia. Hal yang kuharapkan darinya adalah ketenangan.

Begitu alasannya setiap ditanya. Aku tak pernah memberi apa-apa padanya.Tapi ia selalu memberi kedamaian yang setia.Ia seperti oppu yang senantiasa melindungi cucu cucunya. Biarkan aku di sini menemaninya.Katakata itu yang selalu dikatakan ayah,setiap kali kuajak ke Jakarta, untuk melepaskan kemiskinan dan derita yang melilit keluarga. Ia melambai-lambai ketika melihatku ada di seberangnya.

“Kapan kau tiba,”teriaknya saat ada di depan mata. “Baru saja,” jawabku sambil membantu turun dari sampannya. “Banyak hasilnya?” tanyaku dan kemudian memeluknya. “Hanya sedikit pora-pora dan adasatuikanbesar…ikannila,”ujarnya dengan semangat membara.

“Tapi… taklah seperti dulu kala, sekarang susah,yang kecil-kecil saja yang ada.Tapi sudahlah, itu mungkin rezeki kita dari debata,” ujarnya tiba-tiba. Ayahku, sejak dulu kala, kau tak berubah,selalu pasrah.Hanya, kini dia kian renta.Goresan lelah… penuh di penjuru wajah. Rambut dan janggutmu putih semua.

Giginya yang ompong membuat pipinya terlihat makin kempot saja.Tubuhnya kian bungkuk meski masih gagah. Namun, energinya untuk mengarung sisi kaldera tak pernah surut jua. “Nanti aku buatkan sop pedas ikan nila,” ujar ayah sambil berjalan menuju rumah. Aku pulang dengan membawa luka.Dua puluh tujuh tahun di rantau, nasibku tak kunjung berubah. Derita dan kesengsaraan terus mendera.

Sama seperti saat dulu aku pergi.Tao Toba terimalah deritaku ini.Aku ingin kembali lahir dari sisi kalderamu yang penuh misteri. Bukankah kalderamu sebuah keajaiban, yang ingin membuktikan betapa dahsyatnya energi yang tersimpan di tanah bumi Batak ini. Bukankah kalderamu ingin bercerita betapa kokoh jiwa orang-orang Batak yang hidup di sekitarnya.Betapa kerasnya semangat mereka.

Seperti karang-karang di danau ini,tekad mereka sudah ditempah. Betapa luasnya hati mereka untuk diarungi. Betapa damainya riakriak jiwa mereka untuk diselami. Tapian Nauli kubenamkan segala penderitaanku.Terimalah kesialanku selama ini dan benamkan di dasar danaumu. Biar menjadi santapan si pora-pora.Kucuci semua lukaku di airmu yang sejuk dan biarkan aku kembali ke rantau dengan energi yang baru.

Dua puluh tujuh tahun lalu aku meninggalkanmu. Airmu begitu jernih dan mewangi. Kini aroma amis kurasakan di antara riakriakmu. Kotoran rumah tangga mencoreng-moreng kemolekanmu. Orang-orang tak peduli.Keramba telah menjadi industri.Limbahnya mencemari. Danau Toba bagai tong penampung limbah, kini. Danau yang indah… kau tak sesejuk dulu.Terlalu banyak yang berubah,kecuali rumah kami,yang kian tua dan renta. Kemiskinan yang terus menerus menggrogoti.

Kami berusaha bertahan di antara orang-orang kota yang berbisnis wisata. Orang-orang kota yang membawa modal dan harta. Mereka datang dengan berbagai usaha dan membuat kami makin berbeda dengan dia. Di antara kemewahan orang-orang kota dan keindahan Danau Toba, ayahku makin tak berdaya.

Tapi ayah,kau tak pernah putus asa. Dadamu seluas samudra, setidaknya seluas hamparan Danau Toba. Kau selalu ramah, meski tampangsangarmuterkadangmenakutkan orang-orang kota yang baru tiba. “Aku tak membawa apa-apa,” ujarku ketika melihat pandangan matanya ke mana-mana.Ayahku diam sambil menyedot rokok yang menyala. Sop ikan nila pedas berkuah kesukaanku ludes sudah.

Masakan ciri khas dari ikan Danau Toba yang ku suka. Memasak ikan adalah keahlian ayahku.Ikan apa saja yang diolahnya terasa lezat di lidah. “Aku tak akan lama,” kataku menyeka wajah. Ayahku diam seribu bahasa. Matanya memandang kosong ke hamparan Danau Toba.Dari jendela tua yang terbuka terlihat purnama. Cahayanya bagai perak yang beriak-riak.Danau Toba malam ini begitu menggoda.

“Danau ini,katanya, begitu kaya… tapi anak-anak mudanya pergi entah ke mana… tapi itulah yang mereka suka,”desis ayah. Sama seperti dia… aku juga membuang pandangan ke Danau Toba dari jendela tua yang terbuka itu.Lalu diam mereka-reka. “Mereka tak salah… katanya danau ini kaya raya… tapi aku tak berdaya… sejak dulu kala… sejak muda bersamanya dan tetap tak berdaya… mereka tak salah… pantaslah mereka pergi entah ke mana,” ujar ayah entah ditujukan pada siapa.

Dari kejauhan malam terlihat seekor bangau terbang merendah. Lalu mendarat di atas seonggok kiambang yang tumbuh di atas sampah… Bangau itu ke sasar agaknya. Tanpa teman… tanpa kekasih tercinta terdampar di atas danau yang bermandikan purnama. Ia terlihat begitu lelah.Ia entah dari mana.

“Danau Toba adalah tondimu… Jangan kau lupa itu. Sejauh apapun kau pergi,pulanglah sekali kali… setidaknya untuk melepas lelah diri… lelah hati,” ayahku berkatakata lagi. Mendengar perkataan ayahku itu, aku mengangguk berkali kali. Dan ayah, tampaknya ingin terus menambah beberapa kalimat petuah lagi.

“Katakanlah danau ini tidak bisa memberi sehingga kalian harus pergi… tapi ia adalah tondi penyemangat diri… pembesar hati… ingat ini”. Aku mengangguk lagi.Ayah lalu memberi sebuah bungkusan putih sepanjang lima inci. “Bukalah jika aku mati nanti”. “Ayah… tak baik berkata-kata seperti ini,”ujarku serius sekali. “Jika pergi… anak-anak muda di danau ini jarang mau kembali.

Kalaupun kembali pasti lama sekali. Itu pun sekali-sekali. Kecuali orang tuanya mati, mereka baru kembali”. “Ayah,di rantau sulit sekali.Bukannya aku tak mau sering kembali”. Ayah mengangguk berkali kali mendengar perkataanku. “Hidup memang penuh misteri. Tapi jangan sekali kali mencari hidup yang tak kau pahami… carilah jalan hidup yang kau mengerti… kalaupun kau tersesat nanti… akan mudah untuk kembali”. Aku mengangguk dan berusaha untuk memahami kalimatkalimat yang diucapkan ayah. “Aku pahami… anak-anak muda tak akan pernah memahami apa yang kupahami.

Begitu pun… aku tak akan pernah bisa memahami apa yang mereka pahami.Tapi aku berharap ada yang bisa sama-sama dipahami bahwa hidup tak melulu soal materi… ada yang lebih penting dari materi, yakni bagaimana menjaga keseimbangan hati dan ketenangan diri”. Aku mencoba memahami.Tapi diam-diam bertanya dalam hati… apa bisa di tengah-tengah kesulitan materi, aku tetap hidup dengan ketenangan hati? Tapi ayahku bisa. Tapi antara aku dan ayah berbeda sekali.

Mungkin karena itu aku pergi dari tepi danau ini dan lama baru kembali. November baru mulai ketika aku akan pergi.Pergi kembali menuju rantau yang penuh mimpi. Berbekal energi baru dan keyakinan hati. Berkali kali kutatapi keindahan danau ini.Aku terus berjalan kaki di antara karang-karang dan pasir putih.Bibir-bibir danau sudah hampir habis tercuri.Semua atas nama investasi dan otonomi.

Perkampungan penduduk makin tersisih. Siang ini air danau tinggi sekali. Bahkan mulai menggenangi halaman rumah kami.Beginilah situasi musim hujan tahun ini.Jika musim kemarau, air danau terlihat jauh sekali.Terlalu banyak yang berubah dari danau ini yang tak kuketahui. Aku terus menyusuri Tigaraja, tempat angkutan kota berada.Tigaraja, sebuah pekan di dekat dermaga yang hanya buka setiap Sabtu tiba. Saat hendak menaiki angkutan kota seseorang berteriak memanggil.

“Cepat kembali!”teriaknya seperti orang menggigil.“Ayahmu sudah dipanggil!”Aku terdiam seketika. Secepat ini bisikku dalam hati. Toba,inikah isyarat yang kau beri hingga aku tiba-tiba merasa harus kembali? Riak air danau masih berkejarkejaran menghantam-hantam pinggir dermaga.

Tigaraja makin riuh.Tapi hatiku begitu pilu. Kain putih titipan ayah kubuka.Ada beberapa mata kail dan kertas berwarna biru.Tulisannya masih baru. “Jika aku mati nanti… benamkan aku di dasar danau ini…biar tubuhku dimakan si pora-pora dan ikan nila… merekalah sahabatku selama ini… sahabat berpetualang di danau yang sepi…merekalah yang setia memberi tubuhnya untuk kunikmati… untuk memperpanjang hidup ini… kini giliranku membalas semua ini…memberikan tubuhku untuk mereka nikmati… hidup memang penuh misteri… benamkan aku di dasar danau ini… jika aku mati”.

Aku menghela nafas dalamdalam. Mencoba pasrah dengan apa yang terjadi.Di kejauhan,di tengah danau, di antara kiambang dan tumpukan sampah yang menari- nari sang bangau terlihat masih berdiri,satu kaki.Ia belum pergi.Ia terlihat lelah sekali. Matahari makin meninggi.Toba… aku pun masih di sini… dalam perih dan luka hati.(*)

NETA S PANE, menulis karya sastra sejak tahun 1978. 
Tulisannya banyak di publikasikan
di media massa baik media lokalmaupun media nasional.

TINGGALKAN KOMENTAR