Foto: Jaya Arjuna (ist)
jaya arjuna
Jaya Arjuna

Cerita Pendek “Kapsul”
oleh: Jaya Arjuna

[dropcap color=”#888″ type=”square”]T[/dropcap]okyo, 18 November 1985, pagi hari.
Aku baru mendarat di Bandara Narita setelah tujuh jam terbang dari Kuala Lumpur. Benturan roda pesawat dengan landasan tidak sekeras gaung benturan antara petani dengan pemerintah untuk pembangunan perubahan lahan pertanian mereka menjadi bandara. Untuk pembangunan dan kebanggaan memang harus ada korban.

Pemeriksaan surat menyurat dan barang yang kubawa hanya berlangsung sebentar. Sebagai trainee, aku telah dapat garansi dari pengundangku di Jepang. Aku melangkah ke luar bandara menuju limousine. Selanjutnya pindah ke kereta api menuju Tokyo. Kursi di gerbong banyak yang kosong. Kucoba senyum seramah mungkin dengan dua orang penumpang lain yang duduk dekat bangkuku. Mereka juga senyum, kaku. Si anak muda kembali asyik dengan komiknya. Wanita separuh baya yang kelihatannya seperti karyawati, setelah tersenyum kembali mengambil posisi untuk tidur.

Sialan! Merasa tidak ada peluang berbicara, aku melayangkan pandangan ke luar jendela. Coba kalau di negeriku yang ramah, dalam beberapa menit saja kami pasti sudah saling memberi tahu identitas masing-masing.

Di Ueno, kereta api berhenti. Sesuai dengan petunjuk yang aku terima, aku harus keluar melalui pintu timur. Di depan gerbang aku sudah disambut oleh Masaki Watanabe san yang membawa pamflet berisi namaku. Kami bersalaman. Dia membawakan koperku ke taksi. Dengan ringkas dia menerangkan bahwa aku akan berada di Tokyo selama dua hari, dan hari berikutnya aku akan pergi ke Osaka untuk belajar bahasa.

Aku harus menguasai dasar percakapan bahasa Jepang sehingga memudahkan berkomunikasi dengan karyawan lain selama masa trainingku. Dia juga menerangkan bahwa aku akan ditempatkan pada perusahaan pengolahan limbah industri yang cukup punya reputasi di Jepang. Mereka susah payah untuk mencarikan perusahaan yang cocok dengan proposal yang aku ajukan. Dia juga menghargai keinginanku untuk belajar pengolahan limbar cair karena memang bidang ini akan sangat diperlukan oleh negaraku yang baru saja mengeluarkan Undang Undang tentang Pokok Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.

”Asal serius untuk menjalankan Undang Undang, bagaimanapun rusaknya lingkungan pasti ada cara untuk memulihkannya. Terutama kepatuhan melaksanakan peraturan dan sanksinya. Lingkungan perairan Jepang pernah hancur dan meminta ribuan korban. Dengan kesungguhan, Anda dapat melihat buktinya pada sungai-sungai seluruh Jepang saat ini, bersih dan penuh ikan” demikian kata Watanabe dengan ke ichibanan Jepangnya.

Secepat Shinkasen yang mengantarku ke Osaka, waktu terus berlalu. Satu bulan penuh aku dicekoki bahasa Jepang. Pagi sampai sore. Bosan. Malam hari saat pelajar lain mengulang pelajarannya, aku lebih memilih keluyuran ke stasiun kereta api Minami Senri. Aku menegur siapapun yang berjumpa dengan bahasa Jepang patah-patahku. Dari anak-anak sampai nenek-nenek, aku tak perduli. Yang penting praktek bahasa Jepangku.

Liburan, kami diberi kesempatan jalan-jalan ke Selatan Jepang. Pengundangku ingin memperlihatkan bukti bahwa dengan teknologi manusia dapat lebih kejam dari binatang sebuas apapun. Mencabik-cabik ribuan kehidupan dalam sesaat. Juga dengan teknologi kita dapat bangkit memakan bangsa lain tanpa mereka sadari sudah dikalahkan.

Kehandalan teknologi juga kurasakan waktu kereta api kami melalui terowongan yang menyelam dalam laut antara Shimonoseiki dan Kita Kyusu. Aku sempat membayangkan bila tiba-tiba terowongan itu runtuh, kereta api akan menggeliat bagai belut terjepit batu. Tamat riwayatku. Ternyata bayangan ini suatu saat menjadi kenyataan ketika aku terperangkap dalam kapsul maut beberapa tahun kemudian.

Satu malam di Hiroshima dan satu malam lagi di Kumamoto membuat aku sadar bahwa faktor persatuan ternyata merupakan penentu cepatnya bangsa Jepang bangkit kembali dari kehancuran. Sepanjang kota yang kulalui mereka menggunakan bahasa dan adat istiadat yang hampir sama. Juga dengan kebanggaan yang sama terhadap negaranya.

Malam ketiga, malam menjelang akhir tahun, kami sampai di Beppu. Pengundangku menempatkan kami di Suginoi Hotel. Mewah sekali. Ofuro, kolam mandi ramai-ramai diisi langsung dengan mata air panas alamiah. Botani garden, ice skating, istana mainan anak-anak serta puluhan fasilitas lain membuatku iri terhadap keseriusan mereka menyediakan tempat hiburan, sebagaimana juga mereka serius dalam bekerja mencari uang untuk mengisi liburan dengan hiburan.

Pagi hari, dari jendela hotel kulihat seorang kakek membimbing gadis kecil ke arah botani garden. Si gadis kecil manja sekali. Si kakek juga sangat memanjakan. Mungkin si kakek baru pensiun dan menikmati uang pesangon bersama si cucu. Aku juga ingin begitu, gumamku dengan ragu karena ketidakpastian masa depan yang aku tidak tahu entah kenapa.

Siang hari aku bertemu mereka di ruang makan. Aku ingin rebut sedikit kegembiraan mereka dengan menyapa. Si kakek ternyata ramah sekali. Dia menyuruh gadis kecilnya untuk memberi ucapan selamat berkenalan padaku. Malam hari kami bertemu kembali. Mereka tampak akrab sekali. Aku ingin bercakap-cakap dengan si kakek. Tapi aku tak sampai hati untuk mengganggu kegembiraan mereka karena sehabis makan malam si gadis kecil segera menyeret si kakek ke istana mainan.

Sampai kutinggalkan hotel, kejadian itu berulang sampai enam kali. Senyum, membungkuk mengucapkan selamat pagi, selamat siang, selamat malam. Tanpa sempat bicara apapun. Mungkin si gadis kecil sangat terkungkung dengan kegiatan sekolahnya dan juga kurang perhatian dari kedua orang tuanya yang sama-sama bekerja, demikian pikirku. Kasihan. Kasihan kepada si gadis kecil kalau itu benar, dan kasihan kepada diriku yang berpikiran begitu negatif terhadap yang aku belum pasti.

4 Januari 1986.
Aku mulai masuk bekerja. kantorku di Hamamatsu-cho. Tidak jauh dari Tokyo Tower. Sebagai perusahaan pengolah limbah, walau hari Minggu kadang-kadang aku harus ke kantor yang juga sebagai laboratorium. Contoh limbah yang diambil dari buangan pabrik harus segera diperiksa. Cara pengambilan sampel, pengawetan serta cara dan peralatan menganalisa akan sangat menentukan keakuratan hasil pemeriksaan. Bagiku kerja pada hari Minggu juga tidak masalah. Aku sudah bertekad untuk menunjukkan kepada karyawan lain bahwa bukan hanya bangsa Jepang yang bisa bekerja tanpa mengenal waktu. Bukan hanya orang Jepang yang bisa loyal dengan pekerjaannya.

Minggu sore, aku baru kembali dari Narita. Tiga hari aku berkutat dengan air limbah. Aku telah merekam semua proses pengolahan limbah dan peralatannya dengan kamera maupun mencatat bahan yang harus kucari di kantor sehingga aku dapat menguasai sistemnya secara total. Aku juga mengambil sampel air untuk setiap tahapan proses. Akan kuperiksa kandungan BOD dan COD nya serta jumlah bakteri per satuan volume. Perusahaan tempat aku bekerja terkenal sebagai perusahaan pengolah limbah yang mempunyai effisiensi tinggi.

Setelah mandi aku berganti pakaian di kantor. Bersama-sama dengan Toshitsugu Kase San yang jadi counterpartku, aku keluar kantor pada jam lima. Jarak kantorku ke Stasiun Kereta Api JNR di Hamamatsucho hanya sekitar delapan menit jalan kaki. Di luar dugaanku, aku bertemu kembali dengan si kakek dan gadis kecilnya. Kami saling mengucapkan salam dan aku memperkenalkan si kakek pada Kase San. Si gadis kecil tampak kelelahan karena seharian bermain di Tokyo Tower.

Di stasiun kami berpisah dengan Kase San. Aku dan si kakek satu arah. Dia tinggal dengan isterinya di rumah susun Matsudo City. Sedang aku di Kita Senju. Si cucu baru saja ikut dengan mereka. Anak si kakek tinggal di Oita, Kyusu. Aku menceritakan bahwa aku punya jadwal kunjungan ke Usuki yang tak jauh dari Oita karena salah satu industri di Usuki merupakan klien perusahaanku. Aku juga memberi tahu siapa, darimana dan apa yang sedang kukerjakan.

Dia hanya menceritakan bahwa namanya Bunji Kurosaki, pensiunan. Kadang-kadang masih datang ke kantor. Waktu dia menyebut bahwa kantornya di ”lembah profesor” Tsukuba, aku terkejut. Dia hanya memberi tahu bahwa dia pensiunan, jadi tidak perlu lagi menyebutkan bidang keahliannya. Juga tidak perlu lagi disebut Profesor. Waktu aku turun di Kita Senju, dia memberikan alamat dan teleponnya.

”Bila akan ke Usuki, beri tahu saya, mungkin saya bisa mengantar ke stasiun”, katanya dengan ramah. Waktu kuucapkan ”Oyasuminasai” si gadis kecil tidak bisa lagi membalas karena sudah tertidur nyenyak.

Benar saja, ketika kukabarkan akan ke ke Usuki, dia menemuiku di stasiun Ueno. Dia datang lima menit lebih cepat dari janji kami. Di sampingnya terlihat lelaki separoh baya yang sedang tertidur. Ngorok. Di tangan si lelaki ngorok tergenggam karcis Shindai Train. Kurosaki San menyambutku dengan senyum lebar. Ramah sekali. Waktu aku melirik pada si lelaki ngorok, Kurosaki San tersenyum.

”Begitulah caranya memanfaatkan waktu. Barangkali dia memilih lebih cepat ke stasiun untuk dapat tidur sambil menunggu,” ujarnya.
”Mengapa perusahaan kereta api tidak menyediakan hotel untuk pengusaha seperti dia,” kataku.

”Mungkin dia bisa berhemat dengan tidur di bangku. Buat apa memilih hotel kalau di bangku sudah bisa menikmati tidurnya dengan baik,” kata Kurosaki. ”Lagi pula dia takut ketinggalan kereta api bila tidur di hotel.”
”Bukankah kereta api ini mempunyai kamar-kamar. Mengapa kamar-kamar tersebut tidak dilepaskan dan ditempatkan di luar,” aku berbicara seenakku. Heran, tiba-tiba dia serius.
”Maksudmu?”
”Jadikan kamar-kamar tersebut kapsul, tempatkan di luar gerbong. Setiap orang yang sudah membeli karcis bisa langsung menggunakannya. Misalnya untuk orang yang transit, bisa menggunakan kapsul tersebut sekaligus sebagai motel. Bila kereta api akan berjalan, kapsulnya dimasukkan ke kedalam gerbong. Mungkin dengan sistem dorong atau rel yang diatur kerjanya secara otomatis,” kataku.

”Bagus, ide yang bagus,” dia langsung mengeluarkan catatannya. Mencoret dengan huruf kanji dan sedikit gambar sket. Kusempatkan melirik, gambarnya persis seperti peluru roket yang beroda.
”Terima kasih, kau memberiku ide yang bagus,” katanya.

Saat diumumkan kereta api akan berangkat, si lelaki ngorok terbangun. Dia mengangkat koper. Aku juga. Kurosaki San mengantar sampai di tangga. Dari jendela kulihat dia terus melirik ke notes kecilnya. Bahkan waktu kereta api berangkat, notes kecil itu juga ikut terangkat dalam lambaian tangannya.

Seminggu di Usuki. Aku menemui banyak masalah yang kuanggap asing bagiku selama ini. Instalasi pengolahan limbah yang kami bangun ternyata mengeluarkan bau yang tidak sedap. Kesalahan bukan pada perencanaannya. Libur tahun baru, pabrik tutup selama seminggu. Tanpa konsultasi, mereka juga menghentikan operasi instalasi pengolahan limbah. Akibatnya limbah yang tertinggal dalam bak kekurangan oksigen, sehingga terjadi proses anaerobik yang menghasilkan gas busuk. Waktu dioperasikan kembali gas busuk menyebar ke mana-mana.

Rakyat sekitar pabrik jadi protes. Pemerintah Daerah segera memerintahkan pabrik ditutup kembali. Yang untung pada kejadian ini hanya aku. Aku mengetahui kasus dan mengikuti penyelesaiannya. Aku membuktikan bahwa kebutuhan dan kepentingan rakyat terhadap lingkungan yang sehat, amat diperhatikan. Lebih baik merugikan pemilik pabrik yang notabene milik perorangan atau group daripada merugikan lingkungan. Apalagi di Kyusu, pencemaran limbah logam berat di Minamata dan Kumamoto masih membekas di tubuh cacat ratusan penduduknya hingga sekarang.

Sekembali dari Utsuki, kucoba menelepon Kurosaki San. Tidak di rumah. Beberapa Sabtu kucoba menelepon lagi. Nihil. Selalu dia tidak di rumah. Belum pulang. Menurut isterinya, tiba-tiba saja dia aktif kembali ke kantornya. Sama seperti dulu, tidak perduli siang ataupun malam. Si isteri juga tidak tahu apa yang sedang disibukkan atau apa yang dirancangnya. Sampai menjelang akhir program, aku tidak dapat menghubungi dan berbicara dengan Kurosaki San.

”Gomennasai ne, taihen oisogasii dakara. Dia hanya minta Arjuna San meninggalkan alamat lengkap. Jangan lupa kirim kabar setiap pindah alamat. Kalau Arjuna San diundang ke Jepang, harus datang,” itulah pesan yang kuterima melalui isterinya. Apa betul dia akan meundang aku ke Jepang? Padahal untuk bertelepon saja dia tidak punya waktu. Aneh. Sialan.

31 Maret 1986
Aku kembali ke tanah air. Tahun itu juga pemerintah mengeluarkan peraturan tentang kewajiban membuat studi terhadap dampak lingkungan bagi setiap pemilik dan pelaksana pembangunan di Indonesia. Pemilik pabrik atau usaha lainnya yang memberikan dampak terhadap lingkungan harus mengkaji terlebih dahulu keberadaan proyeknya. Kegiatan pembangunan yang sudah berjalan juga harus mengevaluasi lagi dampak kegiatan yang telah ditimbulkannya terhadap lingkungan.

Tahun-tahun berikutnya dan tahun berikutnya lagi, keluar peraturan tentang baku mutu, pedoman teknis, dan entah apa lagi. Masing-masing Departemen sangat produktif mengeluarkan peraturan tentang lingkungan. ”Segudang dokumen peraturan tanpa dijalankan dengan sanksi yang tegas tidak akan pernah memperbaiki setetes limbah pun,” kutukku dalam hati setiap mendengar keluarnya peraturan baru.

1 Oktober 1991
Aku dapat teleks dari Kurosaki San. ”Arjuna San harus tepati janji untuk datang memenuhi undanganku. Tiket dan segala sesuatu yang berhubungan dengan administrasi keberangkatan ambil di konsulat. Tanggal 6 Oktober aku tunggu di Beppu.” Benar saja, semua urusanku di konsulat bisa selesai tidak lebih dari dua jam. Petunjuk perjalananku juga sudah tersedia. Yang mengejutkanku adalah karcis Shindai Train Kapsul Tokyo-Beppu, kelas eksekutif.

Tanggal 5 Oktober 1991 aku sampai di Tokyo. Pagi hari. Di Ueno aku langsung melapor kepada petugas stasiun sambil menunjukkan karcisku. Dia menunjukkan arah nomor kapsulku. Susunan tempat parkir kapsul persis seperti kotak-kotak locker. Setelah mendapat nomor yang cocok, aku buka. Sialan. Untuk masuk aku harus membungkuk. Tidak bisa berdiri. Di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur. Ada televisi, radio dan juga telepon.

Penggunaannya harus dengan sistem kartu. Pembelian kartu dapat dilakukan dalam kapsul. Tinggal memasukkan uang, kartu akan keluar sendiri. Kejutan aku terima waktu membuka lemari mini di bawah tempat tidurku. Di situ terletak sekeranjang buah-buahan segar dan ucapan selamat datang. Juga ada gambar Kurosaki San, isterinya dan juga si gadis kecil yang sudah jadi gadis tanggung dengan tangan dibentangkan seakan-akan menyambutku.

Telepon ke kantor tidak mungkin. Mereka libur pada hari Sabtu. Akhirnya kuputuskan untuk jalan-jalan di Ueno saja. Atau mungkin ke Akihabara untuk melihat perkembangan kemajuan peralatan elektronik. Ueno Koen masih seperti dulu. Danau kecil juga terlihat tanpa sentuhan sama sekali. Alami. Angsa dan burung-burung bercengkrama. Bebas. Padahal letaknya hanya beberapa ratus meter dari pusat keramaian kota.

Dua jam lagi sebelum kereta berangkat aku sudah masuk kapsulku. Tidur. Perjalanan tujuh setengah jam dari Jakarta dan berkeliling di Ueno serta Akihabara sangat melelahkanku. Aku terbangun hampir jam sepuluh malam. Aku sangat terkejut karena menganggap aku telah ketinggalan kereta api. Tetapi waktu merasakan getaran halus yang teratur, aku sadar bahwa sedang berada diatas kereta api yang sedang berjalan. Mereka pindahkan kapsulku dan menyusun pada gerbong, tanpa kusadari. Persis seperti yang kukatakan dulu pada Kurosaki San. ”Ah, kalau begitu Kurosaki San yang telah merancang kereta api ini. Patut diundangnya aku. Mungkin untuk ucapan terima kasih atas ide yang kuberikan.”

Setelah menikmati makan malam yang kupesan melalui mesin, aku menghidupkan televisi. Osaka 11 PM. Acaranya masih seperti dulu. Hot. Saat acara berita, aku hidupkan multipleks system sehingga aku dapat mengikuti berita dalam bahasa Inggris. Adanya gempa akibat kegiatan gunung berapi dalam laut di sekitar Kyusu sempat menggetarkanku. Aku akan memasuki terowongan bawah laut Shimonsheki-Kita Kyusu. Kilas balikku sempat menciutkan nyaliku. Aku membayangkan kembali kereta api yang kutumpangi persis belut yang menggeliat terjepit batu. Kecemasan aku hilangkan dengan berdoa. Aku yakin, sebelum ajal berpantang mati.

Bosan televisi, aku hidupkan radio. Aku rindu suara Akira Kobayashi yang dulu popular dengan lagu Falling In Lovenya. Sambil menikmati musik pengantar tidur dari streo, aku jelalatan memperhatikan rancang bangun kapsulku. Seingatku, dalam rak susunannya, kapsul ini lebih tinggi. Mengapa di dalamnya hanya dua pertiga. Untuk apa yang sepertiga lagi. Bukankah Jepang terkenal pelit dengan ruang. Aku memperhatikan konstruksi tempat tidurku. Tampaknya bisa dilipat dan dijadikan tempat duduk dengan sandaran. Buat apa?

perancangnya dan kepautannya dengan lingkungan. Limbah harus dipilah. Plastik harus dipisah dari sisa makanan. Kertas tempatnya lain. Sendok dan garpu serta pisau cukup dimasukkan dalam tabung yang segera mencucinya. Waktu kumasukkan sisa makananku, terdengar suara mesin menghancurkan. Demikian juga dengan kertas dan plastik. Mungkin bubur limbah ini nantinya akan dikumpulkan di satu tempat. Atau juga bisa didaur ulang. Bukan main!.

Karena lelah aku tertidur lagi. Waktu terbangun, aku segera menghidupkan panel informasi. Saat ini melewati Hiroshima. Setelah itu Tokuyama. Kemudian Hofu dan Onoda. Posisi kereta api dapat kulihat pada titik merah pada peta. Demikian juga aku bisa melihat posisi kapsulku berupa titik merah pada rangkaian gerbong. Tiga gerbong dibelakangku adalah bar. Kupilih tidur lagi daripada ke bar. Aku sengaja membaca buku hingga di Onoda. Karena lelah membaca, aku berharap waktu masuk terowongan Shimonsheki aku sudah tertidur. Mudah-mudahan aku akan terbangun di Nakatsu atau Yukuhashi, kota setelah terowongan.

Entah berapa lama aku tertidur. Tiba-tiba aku terbangun oleh goncangan yang sangat kuat. Kurasakan bantingan yang keras pada kapsulku. Secara otomatis layar televisi hidup dan memberikan petunjuk menghadapi keadaan darurat. Seluruh penumpang yang berada dalam kapsul tidak dibenarkan ke luar. Ini instruksi utama yang harus dipatuhi. Instruksi berikutnya adalah untuk menarik handel merah yang tersembunyi di bawah laci televisi.

Waktu kulakukan hubungan listrik sistem sambungan kabel yang segera terputus. Kapsul menerima listrik dari baterai simpanan sendiri. Semua lampu yang tidak perlu harus dimatikan. Daya listrik harus dihemat. Penumpang diharap agar tenang. Aku bergidik bila membayangkan lampu padam. Tampaknya ketakutanku tidak beralasan, karena ada pengumuman bahwa sumber daya lisrik akan beralih pada perubahan suhu laut. Laut?. Aku segera membuka panel posisi kereta. Rangkaian grbong tidak lurus lagi. Ini bisa kulihat dari titik-titik merah yang berada dalam rangkaian yang tidak lagi merupakan garis lurus.

Posisiku kini ditunjukkan oleh titik merah yang berkedip lebih terang. Gerbongku sudah tiga puluh derajat menukik. Bayanganku selama ini jadi kenyataan. Kereta api kami terperangkap dalam terowongan antara Shimonosheki dan Kita Kyusu. Persis seperti bayangan ngeri yang menghantuiku. Apakah aku yang menginginkannya sehingga impianku jadi kenyataan atau memang takdir yang menentukan harus begini yang kuhadapi?

Informasi dari televisi mengatakan bahwa air laut segera masuk. ”Terowongan kereta api pecah akibat gempa gunung berapi dalam laut. Semua sistem kontrol dan informasi dilaksanakan melalui radio. Hubungan kabel antar gerbong diputuskan. Semuanya diharap dapat berjalan lancar. Penumpang dalam kapsul diharap tidak panik karena bantuan segera datang. Hingga saat ini belum diperoleh informasi kapsul penumpang yang mengalami kerusakan. Konstruksinya sudah diperhitungkan untuk hal yang paling buruk sekalipun,” demikian informasi yang disampaikan.

Setelah goncangan yang terkuat, berita di layar televisi juga sirna. Mungkin gerbongnya hancur. Beberapa kali terasa ada goncangan. Posisiku kini jadi terbalik. Hidung kapsulku menghadap ke atas. Hampir empat puluh lima derajat. Makin keras gempa, makin cepat doa meluncur dari komat-kamit.

Tiba-tiba siaran televisi dapat tertangkap kembali. Tokyo mengambil alih siaran. Dari berita yang disiarkan, aku mendapat informasi bahwa ada enam ratus tiga puluh orang yang terjebak bersamaku. Dua ratus orang di antaranya merupakan penumpang kapsul. Kontak dengan masinis dikabarkan tidak dapat dilakukan dan diduga kondisinya lebih mengkhawatirkan. Hubungan telepon putus karena otomatnya rusak.

Pejabat kereta api menyatakan bahwa pertolongan pertama akan diberikan kepada penumpang non kapsul. Dengan begitu yakin dia mengatakan bahwa penumpang dalam kapsul pasti akan dapat diselamatkan, kecuali yang berada di luar kapsul saat kejadian berlangsung. ”Kalau aku jadi ke bar, berarti aku tidak dalam jaminan dapat diselamatkan,” aku bersyukur atas kemalasanku untuk ke bar tadi.

Operasi penyelamatan telah mulai dilakukan. Beberapa kapal selam mini tak berawak milik Universitas Kyusu yang selama ini berfungsi sebagai laboratorium kelautan mulai dioperasikan sebagai pengamat situasi bawah laut. Sementara laporan geologi meramalkan masih akan ada gempa susulan yang mungkin lebih berskala besar, sehingga operasi kapal selam berawak dibatalkan. Demikian juga dengan bantuan langsung melalui terowongan dari kedua sisi tidak mungkin dilakukan. Tiga kali lagi goncangan keras kualami. Aku pasrah. Kalau memang di sini ajalku, aku hanya berdoa semoga Tuhan menerima segala amalku dan mengampuni segala dosaku.

Walaupun mengalami beberapa kali goncangan, ternyata aku masih dapat menerima siaran televisi. Aku jadi kagum sekali dengan sistem penerima siaran pada kapsulku. Kalau hanya untuk kenyamanan penumpang, mengapa harus demikian canggih? Di layar televisi aku dapat melihat kejadian yang tidak kalah mengenaskan. Liputan televisi dari helikopter memperlihatkan kota Toyoura, Kita Kyusu dan Shimonosheki sudah berantakan dilanda gelombang pasang. Toyoura bahkan hilang tak berbekas.

Sumber gempa berasal dari aktifnya gunung bawah laut dekat Futaoi Jima, sebuah pulau kecil depan kota Toyoura. Tokyo tidak mampu berbuat apa-apa karena jalur bantuan sangat riskan sekali untuk dilalui. ”Kami umumkan, bahwa kita mengalami bencana alam Nasional. Mobilisasi bantuan akan segera dikerahkan. Semua rakyat diminta berpartisipasi. Kepada penumpang yang berada dalam kapsul diharapkan tenang. Pasukan Bela Diri Jepang sudah dilibatkan untuk pengambilan keputusan penyelamatan penumpang dalam kapsul”.

Perdana Menteri mengumumkan situasi bencana dengan penuh duka didamping oleh beberapa pejabat penting. Di kediamannya, Kaisar sendiri terlihat sangat berduka. Akhirnya Perdana Menteri menambahkan, ”Kami tidak tahu berapa jumlah penumpang yng masih berada dalam kapsul. Kami yakin mereka masih selamat. Kepada seluruh keluarga penumpang diharapkan tabah menerima bencana ini,” demikian akhir penjelasan Perdana Menteri.

Tampaknya dia tidak yakin lagi bahwa penumpang non kapsul masih dapat diselamatkan. Berarti di sekelilingku kini ratusan orang sedang berjuang melawan maut. Mungkin sebentar lagi rangkaian gerbong sudah menjadi kuburan massal dalam laut.

Sama seperti tahun 1986, waktu kejadian jatuhnya Marcos. Juga meledaknya Challenger. Berita televisi tidak pernah putus menyiarkan rinci-rinci informasi yang berhubungan dengan kejadian. Semua terlihat panik. Di kantor Perdana Menteri terlihat kesibukan yang luar biasa. Ratusan wartawan siap menunggu pernyataan Perdana Menteri. Aku dikejutkan dengan terlihatnya seorang yang kukenal turun dari mobil.

”Kurosaki San!” tanpa sadar aku memangil namanya. Dia menghadap kamera televisi dan berkata, ”Saya yakin anda masih selamat.” Aku merasa kata-kata itu pasti ditujukan pada seluruh penumpang. Ternyata Kurosaki San juga orang penting sehingga dilibatkan dalam operasi penyelamatan.

Televisi kembali menayangkan liputan kejadian di daratan. Gedung-gedung berantakan disapu gelombang pasang. Operasi penyelamatan dengan perahu karet dan helikopter yang berputar-putar mencari korban. Kesibukan di gedung parlemen. Sementara goncangan maupun getaran kecil sudah berhenti. Pemerintah mengumumkan hilangnya pulau Futaoi dari peta Jepang. Juga diumumkan bahwa gempa skala besar sudah berakhir dengan munculnya pulau baru dekat Futaoijima. Upaya penyelamatan penumpang kapsul sedang dibahas bersama dengan Kementerian Bela Diri Jepang.

”Pasukan Bela Diri? Bukankah itu sama dengan Angkatan Bersenjata Jepang? Mengapa mereka mesti terlibat? Bukankah kejadian ini akibat bencana alam dan bukan akibat perang?” tanpa sadar aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Pada layar televisi terlihat tayangan gambar dari satelit. Lokasi kejadian hampir mencapai tepi pulau Kyusu. Pengulas kejadian mengatakan bahwa hal itu menguntungkan., karena kalau tepat di tengah, mungkin kami sudah tertimbun habis.

”Ah, apa bedanya. Toh sekarang aku juga sedang tertimbun,” keluhku sambil mengulang segala macam doa yang kuhapal. Selanjutnya kamera televisi dizoom sehingga dapat dilihat posisi kami lebih rinci. Asyik juga menontonnya kalau bukan aku yang terlibat langsung dalam kejadian ini. Dan ini menyangkut nyawaku yang hanya satu dipinjamkan Tuhan.

Dari Kobe, dikabarkan kapal penyelamat khusus akhirnya didatangkan untuk penyelamatan penumpang kapsul. Keputusan itu diambil setelah perdebatan yang cukup alot dengan pejabat dari pasukan Bela Diri. Operasi penyelamatan ditangani langsung oleh Kepala Pasukan Bela Diri dan perencana kereta api kapsul: Kurosaki San!

Dua setengah jam berlalu. Dari panel informasi terdengar suara sirine dan kemudian ada tulisan menyatakan bahwa usaha penyelamatan akan segera dimulai. Setiap penumpang diminta untuk membuka tutup lampu baca yang berada pada bahagian atas kepala. Segera kulakukan. Ternyata lampu baca yang sebenarnya hanya berupa lampu sorot kecil yang terletak dua puluh lima centimeter dari reflektornya. Bahagian belakang reflektor merupakan panel kontrol rahasia. Aku segera mengikuti petunjuk yang terpampang pada panel informasi.

Perubahan rancang bangun yang terjadi dalam kapsul membuatku mulai mengerti mengapa operasi ini sampai melibatkan pihak militer. Kapsul ini ternyata sebuah pesawat selam mini. Lemari gantung pakaian turun ke bawah bersamaan dengan naiknya sebahagian tempat tidur menjadi sandaran. Di belakang lemari pakaian terdapat jendela pengamat. Waktu tombol pengatur stream line kupencet, bahagian depan dari kapsulku bergerak. Secara perlahan namun pasti terbentuk kerucut yang bisa berputar pada poros sehingga fungsinya merupakan bor.

Instruksi-instruksi berikutnya kuikuti dengan mudah. Aku bersyukur sekali dengan adanya teknologi multipleks sehingga aku dapat membaca huruf kanji yang langsung berubah menjadi huruf romawi. Dari layar televisi ditayangkan posisi seluruh gerbong kapsul. Tidak ada yang berimpit atau paralel. Hampir satu jam kami diberi instruksi sekaligus simulasi. Akhirnya masing-masing dimintakan kesiapannya dengan memberi sinyal ke kapal penyelamat.

Tindakan pertama untuk melepaskan diri dari jebakan runtuhan kereta api maupun terowongan adalah dengan meledakkan dan menghancurkan semua penghalang. Segera setelah terjadinya lubang akibat ledakan, kami harus menekan tombol pelontar. Semuanya harus dilakukan secara serentak. Sebagai kapsul kereta api penumpang, aku tidak pernah mengetahui bahwa masing-masing unit kami dilengkapi dengan peluru penembak.

Jadi sejak dari Tokyo aku sebenarnya tidur di atas senjata maut. Namun sebagai senjata perang yang tersamar, aku baru menyadari betapa ampuhnya kalau negara lautan seperti Jepang ini dilengkapi dengan kapal selam mini yang punya daya hancur tinggi. Berguna di masa damai, perusak ampuh di masa perang.

Pengecekan terhadap kesiapan misil dilakukan secara otomatis. Segera di layarku terpampang tulisan ”ready”. Mesin kapsul juga siap dihidupkan. Semua instrumen tampaknya tidak terpengaruh terhadap goncangan. Ketebalan dinding penyekat antara kapsul menyelamatkan isinya dari kerusakan. ”Pantas mereka begitu yakin menyatakan bahwa penumpang dalam kapsul pasti selamat,” kataku memuji ketepatan perhitungan rancang bangun mereka.

Perhitungan turun untuk peledakan dan mulainya operasi telah dilakukan. Aku berpegangan kuat pada kemudi yang tadinya tersembunyi di bawah kaki tempat tidurku. Sistem peledakkan dan pelontaran dilakukan langsung dari kapal penyelamat. Kami hanya bertugas untuk menghidupkan mesin kapsul dan kemudian menekan tombol lampu infra merah agar lebih mudah dikontrol dari kapal untuk diselamatkan.

Melalui jendela pengamat, aku melihat gang yang membatasi dinding gerbong kereta api. ”Tentunya di balik dinding ini adalah dinding terowongan yang runtuh dan harus dihancurkan hingga aku dapat meluncur keluar,” kataku penuh keyakinan. Dengan memperteguh pegangan, aku membayangkan diriku sedang bersiap untuk menekan tombol peledak yang akan menghancurkan tembok pengurungku. Di luar sana akan ada kebebasan. Kemudian aku meluncur dengan kapal selam miniku. Asyik juga.

Waktu penembakan berlangsung, aku merasakan goncangan. Hanya sesaat, setelah itu aku seakan dilemparkan melalui lubang yang baru saja terbentuk oleh tembakan. Di kiri-kananku terlihat ratusan kapsul yang terlompat dari reruntuhan. Hanya selang beberapa detik, aku merasakan lagi goncangan. ”Syukur aku segera terlontar. Bila pelontarku macet, maka aku akan terbenam dalam reruntuhan terowongan,” aku kembali kagum dengan perhitungan mereka untuk memanfaatkan waktu persekian detik yang tersedia.

Ledakan pada satu sisi akan menyebabkan bahagian lain dari terowongan akan ambruk. Sesuai instruksi, aku menekan tombol yang menghidupkan mesin kapsul. Daya penggerak diperoleh dari pemanfaatan tekanan air laut pada membrane yang dipusatkan pada bahagian belakang kapsul. Mengagumkan. Berikutnya aku menghidupkan tombol pengirim sinyal ke kapal penyelamat. Setelah gelombang kapalku tertangkap pada layar mereka, peralatan penggerak otomatis mulai bekerja.

Aku melihat posisi kapsulku dan juga melihat posisi kapal penyelamat. Ratusan kapsul yang bergerak ke satu arah, membuatku lupa pada kejadian yang hampir merenggut nyawaku. Juga melupakan ratusan orang lagi di bawah sana yang tidak akan pernah dapat lagi naik ke permukaan. Hanya beberapa meter lagi aku sudah sampai ke permukaan laut. Aku dapat melihat sinar matahari yang menembus hingga posisi kedalamanku.

6 Oktober 1991, pagi.
Di bawah permukaan laut. Kapsulku terhisap dan masuk pada bahagian terbuka dari bawah geladak kapal penyelamat. Kurosaki San adalah orang yang pertama sekali bertemu denganku. Di sebelahnya berdiri seorang pria setengah baya. Berpakaian dinas. ”Selamat bertemu Arjuna San. Aku yakin Anda pasti selamat. Perkenalkan, ini Keisuke Kumazawa San, Kapten kapal penyelamat,” Kurosaki San gembira sekali memperkenalkan aku pada si Kapten. ”Kapten, inilah orang yang telah banyak kita bicarakan pada kejadian ini,” katanya sambil tersenyum padaku. Aku memberi hormat pada si Kapten. Kulihat banyak sekali dokter yang memeriksa setiap penumpang yang baru selamat. Aku juga diperiksa. Sehat.

Keluar dari kamar pemeriksaan, aku berjalan beriringan dengan Kurosaki San, ”Arjuna San, aku mengundangmu untuk mengucapkan terima kasih atas ide yang Anda berikan untuk pembuatan kapsul sebagai pengganti kamar pada Shindai Train,” ujar Kurosaki San sambil berkali-kali menepuk bahuku.
”Tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa kapsul itu bisa diubah menjadi kapal selam mini…”

”Memang tidak, idemu digabungkan dengan kebutuhan kami terhadap pertahanan Negara kami. Anda buktikan sendiri keampuhannya kan? Tanpa sinyal yang anda kirim, radar apa pun jenisnya tidak akan mampu melacak kehadiran kapal selam itu. Senjata yang dibawanya juga cukup ampuh. Sistem komunikasinya juga canggih. Walaupun anda berada jauh di permukaan laut, komunikasi tidak pernah terputus. Sayang aku belum bisa membuat sentral telepon yang menggunakan air sebagai media penghantar.”

”Terima kasih atas hasil ciptaanmu, Kurosaki San. Bila aku tidak dalam kapsul, aku tidak akan pernah kembali ke tanah airku,” aku benar-benar terharu bila teringat beberapa saat yang lalu.

”Sebentar lagi Anda akan bertemu dengan Kepala Pasukan Bela Diri Jepang. Juga beberapa pejabat penting dari Tokyo. Jangan lupa, di mata mereka Anda adalah perancang seluruh kapsul itu.”

”Mengapa demikian?” aku jadi bertanya dengan pernyataannya.
”Bila aku tidak mengatakan bahwa Anda merupakan sumber seluruh ide rancang bangun kapal tersebut, Anda tidak akan diselamatkan.”
”Mengapa demikian?” kembali pertanyaan yang sama aku ajukan.
”Bukankah pada waktu penyelamatan itu Anda diberitahu rahasia kapsul hingga rincian cara menggunakannya. Anda satu-satunya orang asing yang pernah naik kapsul itu. Dan hanya Anda. Sampai kapanpun. Bila tidak terjadi musibah itu Anda tidak akan pernah tahu rahasianya.”
”Siaran televisi itu?”
”Untuk dunia luar kami sudah membuat skenario yang lain. Tayangan gambarnya juga lain. Anda semua diselamatkan oleh kapal selam mini milik laboratorium Universitas Kyusu. Teknik pengambilan gambar sekarang dapat membuat apa saja terlihat realis. Tapi, lupakan saja itu. Sekarang kita akan ke ruangan pertemuan. Anda akan menjalani upacara ucapan terima kasih secara resmi di kapal ini. Tidak jadi di Beppu. Setelah itu kita ke Tokyo bertemu dengan cucuku. Himeneko sekarang sudah remaja, tapi masih manja.”

Kami jalan bersama melalui lorong-lorong menuju anjungan.

”Kurosaki San, mengapa anda yakin bahwa aku pasti selamat?”
”Anda pasti tetap dalam kapsul. Tidak ke bar. Aku yakin. Bukankah Anda mengatakan tidak suka sake? Tapi dalam upacara nanti anda harus minum sake. Walau sedikit. Orang Jepang harus bisa minum sake. Diri Anda hampir jadi milik lautan Jepang,” katanya sambil tersenyum padaku. Aku juga tersenyum. Kecut.

Medan, 1990

Juara Pertama Lomba Penulisan Cerita Pendek Menyambut Hari Ulang Tahun ke-4 Harian Umum Suara Pembaruan. Jakarta, 7 Februari 1991 H.B. Yasin, Satyagraha Hoerip dan Bur Rasuanto selaku dewan juri menyatakan cerpen Kapsul memenuhi semua persyaratan untuk jadi sebuah cerpen yang baik

 

TINGGALKAN KOMENTAR