Cerpen ‘Api Cinta Shinta’
Oleh:  Jaya Arjuna

SHINTA  sangat yakin, kobaran api yang menyala tidak akan menghanguskan tubuhnya. Tumpukan kayu yang menggunungi tubuhnya, dan sebentar lagi akan menjadi kobaran api tidak menggentarkan hatinya. Dia memang masih suci. Berbulan dalam cengkeraman Rahwana di Alengka, tidak segundah saat dia mulai merasakan Rama tidak mempercayainya lagi.

Rama, sang suami yang harus mengalahkan puluhan ksatria untuk dapat mempersuntingnya. Rama yang dicintainya sepenuh hati. Pria yang didampinginya selama empat belas tahun dalam pembuangan di hutan Dandaka. Mengapa Rama yang menentukan uji kesucian dengan membakar dirinya? Mengapa harus Rama sendiri yang memerintahkan dan mengawasi pengumpulan kayu? Mengapa Rama tidak berusaha membatalkan ujian kesucian ini? Apakah Rama memang tidak lagi mempercayai sumpah kesucian yang diucapkannya?

rama shinta

Bujukan Dewi Agni yang berjanji akan mendinginkan api, tidak menjanjikan kesejukan di hati Shinta. Memang, tubuhnya tidak terbakar. Namun tiada penawar bagi hatinya yang berkobar. Betapa tidak. Sebelum dibakar untuk menguji kesuciannya, dia masih sangat mengharapkan sebuah senyuman penguat hati dari Rama.

Tapi itu tak diperolehnya. Rama mengantarnya dengan pandangan dingin ketika menuju tumpukan kayu yang akan membakarnya. Pandangan mata itu dinilainya sangat angkuh. Dari sinar mata itu dia juga tahu, Rama ternyata mencurigai kesuciannya. Jadi, kata-kata Rama yang mengatakan bahwa ujian itu semata untuk membuktikan dan menenangkan hati rakyat adalah dusta. Kalau memang Rama tidak curiga, persetan dengan rakyat. Bukankah selama ini Rama juga lebih mengutamakan pikirannya dari kepentingan dan kemauan rakyat. Mengapa kali ini berlindung di balik nama dan atas kepercayaan rakyat.

Hangatnya lidah api yang mulai menjilati tubuhnya, menaikkan gairah Shinta. Gairah pengkhianatan! Butiran keringat di kening, erangan, tarikan nafas dan geliatan tubuhnya menyambut dengan sempurna pengkhianatan itu. Mungkin dari balik kobaran api Rama bisa melihat geliatannya. Juga rona muka yang memerah.

Ah, persetan dengan Rama. Di tengah kobaran api, Shinta kini menghadirkan Rahwana dalam angannya. Dia tidak merasa berdosa untuk itu. Shinta memang pernah hampir takluk tatkala ditawan di Alengka. Rahwana, raksasa berwajah dan berperangai buruk seperti gambaran semua orang, di matanya kini berubah menjadi lelaki ksatria. Shinta seakan sadar, Rahwana lebih ksatria dan berani menghadapi kenyataan daripada Rama.

“Oke. Aku memang berwajah dan berperangai buruk. Tidak segagah dan setampan Rama. Tapi, apakah aku tak berhak untuk mencintai seorang perempuan yang kukagumi,” Rahwana menyatakan cintanya terus terang.
“Mengapa harus aku. Aku sudah dimiliki Rama?”
“Mengapa harus Rama yang memilikimu, mengapa bukan aku?”
“Aku mencintai Rama, dan Rama mencintaiku.”
“Apakah kau yakin dia mencintaimu?”
“Mengapa tidak?”
“Kau ditinggal dengan seribu batasan dan kekangan. Dia pergi berburu untuk memuaskan hatinya. Apakah kau yakin Rama benar benar mencintaimu?”

Setiap pernyataan cinta yang dikeluarkan Rahwana terlihat sangat tulus. Rahwana juga menyatakan bahwa dia hanya membawa satu bibit cinta pada saat kelahirannya. Cinta itu hanya akan disemai bila Shinta menerimanya.
“Silahkan tanya para dewa di kahyangan. Apa mereka ada menghadirkan wanita lain dalam kehidupanku. Aku hanya sekali menyatakan cinta kepada wanita. Dan kaulah orangnya, kau harus hargai perasaanku padamu!” Kata itu selalu diulang Rahwana setiap Shinta menampik lamarannya.

Sesaat dia hampir terlena dengan sanjungan yang langsung menyergap seluruh celah hatinya. Rahwana yang kasar. Rahwana yang jantan, namun tidak pernah berusaha memaksakan kehendak syahwatnya. Rahwana yang sangat menghargai kewanitaannya. Rahwana yang sanggup menculiknya dari Rama sang raja perkasa hanya karena tergoda cinta. Kalimat itu kembali tergiang di telinga Shinta. Terngiang lagi. Kobaran api itu semakin tinggi. Gejolak benci juga semakin tinggi.

“Kau hanya simbol, Shinta. Bagi Rama kau adalah simbol kekuasaan dan kegagahannya. Aku membutuhkanmu karena kau memiliki segala keagungan, ketabahan, kesetiaan dan cinta yang didambakan laki-laki. Dalam sayembara perebutanmu, Rama bukan hanya berhasil memboyongmu ke Ayodya. Dia juga sangat menikmati kemenangan itu. Rama tak akan pernah bisa jujur menyatakan mana yang lebih membahagiakannya, memiliki kau sebagai hadiah atau memenangi pertandingan itu sendiri. Agar kau tahu, aku bertanding dengan kebenaran dan sejarah untuk merebut hatimu. Aku sadar berada di pihak yang kalah. Dewa-dewa tidak pernah berpihak kepadaku. Besarnya pengorbanan diriku untuk merebut cintamu juga akan dicatat sejarah…”

Kata kata itu diucapkan Rahwana dengan sungguh sungguh. Rahwana tidak menujukkan kekuasaannya sebagai maharaja di Alengka.

”Cinta yang tulus harus bebas dari tekanan dan kekuasaan,” begitu yang selalu diucapkan Rahwana.
Kobaran api masih tinggi. Dari balik jilatan lidah api, Shinta dapat melihat gambaran kecemasan dari wajah-wajah rakyat yang menyaksikan ujian kesuciannya. Wajah yang selalu menyanjung dan menyayanginya. Mereka semua kagum atas ketabahan Shinta mengikuti Rama dalam pembuangan. Mereka khawatir dan cemas Shinta akan hangus dalam api.

Wajah kecemasan itu tidak terlihat pada Rama. Yang terlihat hanya keangkuhan dan kepuasan hati. Angkuh sebagai raja yang telah berhasil menghancurkan Alengka dan membunuh Rahwana yang coba-coba menculik isterinya. Puas karena Shinta terpaksa harus diuji kesuciannya. Pantang Rama makan sisa. Wajah yang anggun dan berwibawa bagi rakyat. Tanpa rasa dan cinta bagi Shinta.

Panas api membara. Panas membara hati Shinta. Kebencian itu tak tersembunyikan lagi. Menyelimuti hati, mengaburkan mata. Perlahan wajah Rama terlihat berubah menjadi wajah Jatayu yang mengerang kesakitan karena sayapnya patah dipukul Rahwana. Kemudian berubah lagi menjadi wajah Hanuman.

Ah, kera yang kocak itu kini telah tiada. Terakhir kali dia melihatnya di Alengka. Kera itu menyerahkan cincin Rama, dan Shinta memberikan tusuk kondenya pertanda dia masih selamat. Apakah dia dicurigai terselingkuh karena menyerahkan tusuk konde yang biasanya dijadikan senjata terakhir wanita untuk bunuh diri bila dicemari? Kejamnya kecurigaan itu! Buat apa dia bunuh diri? Rahwana tidak pernah menyentuh tubuhnya.
“Aku meminta kau jadi isteriku, bukan memaksa. Aku ingin hatimu, bukan badanmu,” Rahwana mengatakan itu sewaktu dia dipanggil dalam status tawanan, dengan diiringi beberapa dayang ke dalam taman istana Alengka. Tidak di kamar.

Memang. Belum pernah sekalipun Rahwana memaksa masuk ke kamarnya seorang diri. Harga dirinya sebagai wanita tetap dihargai tinggi oleh Rahwana. Rahwana tidak pernah mengambil tusuk konde itu karena curiga akan digunakannya sebagai senjata bunuh diri. Rahwana juga tidak curiga Shinta akan menggunakan tusuk konde itu untuk membunuhnya.

Kini Shinta sangat sadar bahwa kecurigaan Rama ternyata lebih menakutkan dari wajah Rahwana. Rahwana, sang raksasa berwajah bengis, tidak pernah mencoba untuk memperkosanya. Padahal, Rahwana memiliki kesempatan dan kekuasaan untuk berbuat semaunya atas diri Shinta. Dia tidak manfaatkan. Shinta terlalu angkuh dan juga terlalu setia kepada Rama. Rama yang kini tega memanggangnya dalam gejolak api membara. Rama yang selalu menuntut pengabdian dan kesetiannya. Rama yang selalu menganggapnya sebagai isteri, tak pernah sebagai kekasih.

Tumpukan kayu bakar mulai berkurang dimakan api. Tetapi tumpukan dendam dan benci dalam hati Shinta terhadap kecurigaan Rama justru makin tinggi. Shinta mendoakan semoga semua korban yang mati terbunuh dalam peperangan Alengka dan Ayodya tidak mengutuk dirinya.

Para korban itu harus tahu, mereka mati untuk Ayodya dan Ramanya, bukan untuk Shinta. Kumbakarna mati bukan membela Rahwana tetapi mati untuk Alengka. Sebagaimana juga Indrajit mati karena menjadi rakyatnya Rama, bukan untuk merebut Shinta. Ribuan mahkluk mati untuk mempertahankan prinsip, kepercayaan, harga diri dan keangkuhan. Rahwana juga mati karena para dewa lebih berpihak kepada Rama. Shinta mendoakan mereka dan sekaligus merapalkan penjelasan bahwa untuk kematian mereka, Shinta hanya pelengkap untuk sejarah, bukan penyebab.

“Ah kasihan kau Rahwana,” Shinta mengeluh dan menghadirkan terus bayang wajah Rahwana. Wajah sang pemuja, pemberi sanjungan yang belum pernah diterimanya dari Rama.

Gemeretik kayuan yang terbakar, meningkatkan irama pengkhianatannya di hati Shinta. Naik semua hasrat birahi menjulang bersama asap. Naik semua penyesalan yang telah mengabaikan cinta Rahwana. Cinta yang dibuktikan dengan upaya penculikan serta ucapan yang membara dan sangat menggoda. Disertai tarikan nafas dalam, Shinta berharap agar Rahwana dapat menyambut rasa penyesalannya “di atas” sana.

Satu-satu bara api mulai padam. Satu-satu bara birahi Shinta juga padam. Shinta tertidur lelap. Wajah Rahwana membuai dalam impiannya. Puas. Puas. Shinta dapat membuktikan bahwa kesuciannya memang tidak ternoda. Puas meraup arti cinta sejati dari bayang Rahwana.

Api yang berkobar menyala memang tidak mampu menghanguskan tubuhnya. Hanya kepercayaan dan cintanya kepada Rama yang menjadi abu. Dia tetap jadi Shinta, lambang cinta dan kesetiaan. Tetapi tidak ada yang tahu, cinta Shinta juga ada bagi Rahwana. (****)

CATATAN TENTANG PENULIS

Jaya Arjuna, putra Minang asli, dilahirkan di Bukittinggi 7 Oktober 1953. Bakat seni mengalir dari ayahnya, Djanain yang seorang pelukis. Cerpen pertamanya dimuat di harian Mimbar Umum tahun 1973 atas nama D.AR.D. Makewa, yang seterusnya membuat dia merasa nyaman menggeluti dunia sastra.

jaya arjuna
Jaya Arjuna (ist)

Lulusan Fakultas Teknik Jurusan Teknik Mesin USU ini banyak aktif dalam kegiatan pencinta alam serta dunia tulis menulis di media masa semasa mahasiwanya. Latar belakang kegiatan pencinta alam ini juga mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan S2 di Fakulti Sains dan Alam Sekitar Universiti Putra Malaysia. Seluruh rangkaian kursus Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Audit lingkungan telah diikutinya. Pengalaman praktisnya tentang AMDAL tergambar dalam cerpen ”Nilai Tambah” pada buku ini. Dia juga mengikuti kursus pengolahan limbah di Jepang pada tahun 1985 yang mengilhaminya untuk menulis ”Kapsul”. H.B. Yasin, Satyagraha Hoerip dan Bhur Rasuanto menyatakan cerpen Kapsul memenuhi semua persyaratan untuk jadi sebuah cerpen yang baik. Toshihiro Kojima selaku Konsul Jenderal Jepang di Medan yang membaca Kapsul bahkan mengatakan gambaran dalam cerpen itu terlalu realis dan bukan Science Fiction.
Jaya Arjuna merasa tidak perlu memiliki ciri atau bidang khusus dalam menulis cerpen. Apa saja yang memberinya dorongan untuk menulis, dia akan tuliskan. Tentu saja sebagai orang yang banyak menggeluti masalah lingkungan, maka cerpennya juga banyak berlatar- belakang lingkungan. Selaku Kordinator Daerah Sumatera Utara Transparency International Indonesia yang merupakan gerakan anti korupsi, masalah korupsi juga menjadi sumber inspirasi bagi cerpen Tikus dan Tersangka. Pergerakkannya di bidang anti korupsi akhirnya dihentikannya sama sekali. Ada sesuatu yang membuatnya menganggap gerakan anti korupsi hanya pemicu gemuruh sesaat tanpa ada kesungguhan mewujudkan.
Untuk sebuah cerpen, dia bisa menyelesaikan dalam satu malam, dan juga bisa selama lima tahun. Cerpen Tikus sudah tertuang seluruh isinya dalam kata, dan baru setelah lima tahun menjadi bentuk tulisan. Kadangkala dia menghabiskan berbulan-bulan untuk mengumpulkan data bagi sebuah cerpennya. Cerpen Kapsul juga diselesaikan selama lima tahun dengan kajian setting yang cukup detil. Kota Shimonosheki sebagai salah satu kota yang diceritakan dalam cerpen tahun 1990 akhirnya memang luluh lantak dihantam Tsunami. Tsunami tahun 2011 di Jepang dikenang dunia sebagai bencana kebocoran reaktor nuklir di Fukushima Daiichi.
Jaya Arjuna telah aktif sejak semula Himpunan Sarjana Kesusateraan Indonesia (HISKI) ada di Sumatera Utara. Dia juga pendiri dan jadi staf ahli di Pusat Studi Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PSKLH) IAIN-SU dan Pusat Penelitian dan Informasi Lingkungan Hidup (PPILH) UISU. Staf pengajar Fakultas Teknik USU ini memiliki isteri Masnun Zain Nasution, tiga anak perempuan (Dina, Dinda, Dhiya’) dan satu laki-laki (Dinul Adli) serta dua cucu (Davina Atifa dan Aksara Langit) dan dua menantu. Tahun 1977, naskah dramanya ”Telah Gugur Hati Manusia” menjadi juara kedua dalam festival drama di Sumatera Utara, yang merupakan karya pertamanya dalam cerita serius, karena naskah lainnya lebih banyak berbentuk drama komedi. Kini, menulis cerpen yang merupakan himbauan bathinnya kadangkala lebih banyak mengalah oleh kegiatannya menulis masalah lingkungan. (***)

TINGGALKAN KOMENTAR