Foto: Ilustrasi (ist)

4 April 1987
Siang itu aku kembali dari kampus. Di simpang kampus aku bertemu Ti. Dia mengajak aku mengantar temannya yang akan berangkat ke Jakarta. Kami ke Bandara Polonia naik beca. Dalam beca dia duduk rapat sekali. Aku jadi salah tingkah. Tidak lama memang, selanjutnya aku bahkan merasa sangat nyaman. Aku katakan nyaman karena aku bisa merasakan semua yang memenuhi daya pikir dan daya khayalku. Entah mengapa, sejak menyelesaikan  kuliah, tiba-tiba saja aku merasa sangat ingin bertanggung jawab. Sangat ingin melindungi.

Setelah temannya berangkat, kami masih duduk di ruang pengantar. Hujan. Padahal kami harus keluar jalan kaki dari areal bandara. Aku memang masih mau lama dekat Ti, sehingga hujan merupakan alasan yang sangat tepat untuk tidak segera berangkat dari Polonia. Kami tidak banyak berbicara. Aku sendiri tidak tahu apa yang kupikirkan, tentu saja aku tidak tahu apa yang Ti fikirkan.

Tiba-tiba terdengar benturan dahsyat.

”Ada apa, Ti ?” refleks bertanya.

”Entah, mungkin petir. Tadi kan ada kilat.”

”Petir bunyinya kok aneh,” aku kembali bertanya.

”Ada pesawat terbang jatuh!”

Tiba tiba semua orang berteriak dan memandang ke landasan pacu. Pesawat Garuda Flight 035 yang baru datang dari Banda Aceh ternyata gagal  mendarat mulus. Hujan lebat sekali. Sesekali terdengar petir menyalak. Salah satu petir ternyata telah menyambar badan pesawat dan menghempaskannya langsung ke bumi.

Kesibukan luar biasa terjadi di Polonia. Aku dan Ti bersama puluhan orang lainnya berlari ke lokasi jatuhnya pesawat. Kami terpana dengan pemandangan yang terpapar di hadapan kami. Puluhan mayat bergelimpangan. Barang penumpang dan serpihan badan pesawat bertabur.

Aku dan Ti membantu mengevakuasi korban sebisanya. Banyaknya orang yang membantu dan berusaha mengenali wajah korban mulai membuat aku sadar bahwa mereka sebagian adalah keluarga korban. Tadinya mereka juga sama-sama di ruang tunggu sama kami. Mereka tahu bahwa orang yang mereka jemput pasti berada dalam pesawat yang jatuh tersebut. Aku sendiri membantu hanya karena memang mau membantu. Dari informasi yang beredar, aku tahu bahwa seorang Konsul Muda Jepang bernama Abdul Rashid Onishi turut korban. Aku agak tertarik karena dia dikatakan lulusan pesantren Gontor.

Banyak orang yang kehilangan sanak saudara akibat bencana ini. Mereka sibuk mengenali tubuh korban yang bergelimpangan. Yang pasti, aku tidak kehilangan siapapun karena aku memang tidak punya siapapun. Tiba-tiba saja aku tercenung sendiri. Apa memang aku tidak punya siapapun di dunia ini?

Baca juga:  Cepren ‘Jatuh’ Karya Jaya Arjuna (1) http://www.gapuranews.com/cepren-jatuh-karya-jaya-arjuna-1/

Kalau aku mengalami kecelakaan seperti ini, tentu saja tidak akan ada yang mencariku. Tidak ada yang berusaha mengenaliku. Aku jadi panik sendiri dengan pikiran yang tiba-tiba merasukku.

Dari jauh aku memandangi Ti. Dia kelelahan. Aku juga. Aku mendekatinya. Kami terduduk berjajar di landasan. Aku menarik nafas dalam-dalam. Pandanganku menatap kosong ke arah ratusan manusia yang lalu lalang membantu korban.

”Ti, kau mau menikah sama aku?” tiba-tiba saja aku mengatakan sesuatu yang tidak kupercaya mampu keluar dari mulutku. Dia tersentak dan menatapku aneh. Aku membuang muka, dan sadar mungkin aku salah.

”Kok tiba-tiba abang terpikir mengatakannya?” dia bertanya heran.

”Aku takut, kalau aku mengalami kecelakaan seperti ini, tidak ada orang yang mencariku. Tidak ada yang merasa kehilangan…”

”Hanya itu? Egois sekali!” Menurut perasaanku, Ti marah sekali.
”Sudahlah Ti. Kalau kau tidak mau, tidak apa. Yang penting kau jangan marah. Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Kalau kau mau marah silahkan.
Tapi jangan benci aku…”

Dia tidak menanggapi. Kami sama-sama diam. Lelah sekali memang. Menjelang malam kami berpisah. Upaya evakuasi korban masih terus berjalan. Informasi yang kudapat, ada 24 orang penumpang dan 4 crew pesawat yang korban. Empat belas penumpang dan empat crew selamat. Tidak ada pembicaraan lanjut tentang ajakanku untuk menikah.

Malam harinya, aku kembali terpikir dengan ucapanku tadi siang. Aku sadar telah salah kata. Sudah pasti Ti marah sama aku. Selama ini kami memang berkawan baik. Selalu pergi ke mana saja. Tetapi tidak pacaran. Mesra juga tidak. Aku belum pernah menyatakan suka sama dia.. Aku bahkan tidak berani membayangkan bahwa dia suka sama aku. Aku terlalu minder. Mungkin juga aku terlalu takut untuk menyakiti hatinya.

Aku tidak mau melihat dia marah padaku. Aku tidak siap bila Ti membenciku. Seharusnya aku sadar bahwa dia hanya berteman denganku. Dengan pikiran galau, aku mulai mengemasi barangku. Hanya satu tas kecil pakaian dan sedikit uang. Pagi sekali aku sudah berangkat ke stasiun bus tujuan Pekanbaru di jalan S.M. Raja.

Sebelumnya aku datang ke kampus. Aku berkeliling di kampus. Cukup lama aku jadi mahasiswa tanpa aku tahu apa yang sebenarnya membuat aku bisa bertahan di kampus itu. Aku bertemu teman Ti di kampus. Aku dapat kabar bahwa Ti demam. Mungkin karena kehujanan dan kelelahan semalam. Aku tidak berani bertemu Ti. Aku takut menghadapi kenyataan bila dia marah kepadaku.

Malam hari, aku berangkat ke Pekanbaru. Besok paginya sampai. Aku langsung menemui teman lamaku sewaktu SMP. Aku minta dicarikan kerja. Pesatnya pengembangan usaha perkebunan di Riau membuka kesempatan kerja yang cukup banyak. Aku segera diterima bekerja. Pekerjaanku tidak ada kaitannya dengan pendidikan yang kujalani di perguruan tinggi.

Aku mulai bekerja sebagai buruh kasar penebangan kayu yang memang tidak memerlukan ijazah. Aku sengaja membuang diri. Akhirnya aku dapat juga melupakan Ti. Aku sekarang bahkan merasa senang karena bisa meyakinkan diriku bahwa Ti sudah bahagia. Aku membenamkan diri dengan kerja. Tidak pernah peduli dengan ijazah yang belum kuambil. Aku juga tidak peduli dengan upacara wisuda yang seharusnya aku ikuti.

Perusahaan tempatku bekerja mendapat borongan untuk menyiapkan lahan perkebunan kelapa sawit. Lahan itu dulunya bekas hutan. Untuk membuka hutan, pengusaha berhasil mendapatkan kredit Bank. Mereka tebangi kayunya dan mereka jual. Tentu saja mereka mendapat uang hasil penjualan kayu yang kabarnya jumlahnya melebihi pinjaman mereka dari Bank. Pengusaha tersebut tidak merasa perlu membayar pinjaman bank dari hasil penjualan kayu. Cicilan bank akan mereka bayarkan tiga empat tahun lagi dari hasil produksi tanaman sawit. Mudah sekali memang meraup keuntungan dari bisnis seperti itu.

Untuk mempercepat pembukaan lahan, kami diperintahkan melakukan pembakaran. Cepat dan murah. Pembukaan lahan dengan cara membakar jauh lebih murah daripada pembukaan lahan secara mekanikal. Terkadang aku menangis sendiri melihat porak porandanya kehidupan hutan akibat kegiatan kami. Ribuan binatang hutan bertemperasan menyelamatkan diri sewaktu kami mulai menghidupkan api.

Sesekali muncul juga kesadaranku tentang lingkungan yang kuperoleh semasa mengkuti kegiatan kelompok pencinta alam. Namun, lama-lama kesadaran itu hilang sendiri seiring dengan makin luasnya hutan yang telah kami ubah jadi lahan perkebunan.

Api berkobar di mana-mana. Pada saat naiknya asap ke langit, aku membayangkan suasana puncak Sibayak. Walau kami pergi bersama dalam kelompok, aku hanya bisa membayangkan wajah Ti. Aku lupa yang lain. Mungkin aku sudah mati rasa. Tidak ada kenangan lagi dengan manusia lain. Tidak ada lagi rasa belas kasihan dengan makhluk lainnya. Tidak dengan pohon dan tidak juga dengan binatang. Aku hanya peduli dengan diriku dan kenangan yang ada dalam pikiranku. Materi juga tidak. Uang gajiku yang terkumpulpun tidak tahu akan kupergunakan untuk apa.

Tiba-tiba aku mendapat sepucuk surat dari Ti. Dari mana dia tahu alamatku?. Teman kerja banyak yang melihatku dengan aneh waktu menerima surat tersebut. Apalagi mereka tahu pengirimnya seorang wanita. Mereka mengenalku sebagai orang aneh. Aku memang tidak banyak bicara selama ini. Tidak ada yang tahu siapa aku dan bagaimana masa laluku.

Aku buka surat itu. Isinya juga ringkas. Dia menyatakan pernah melihat aku dalam tayangan televisi mengenai peristiwa kebakaran hutan. Dia lacak nama perusahannya dan mengirimkan surat itu. Setelah menamatkan kuliahnya, dia jadi reporter sebuah koran harian ibukota. Dia akan menghubungiku kembali.

Tiba-tiba hidupku mulai bergairah kembali. Aku bayangkan Ti dengan ransel kecil dan sebuah kamera. Keren. Aku tidak mau membunuh kegembiraanku dengan mambayangkan Ti sudah bekeluarga dan punya anak. Masa untuk berkhayal saja aku harus memikirkan orang lain?.

Surat demi surat berikutnya aku terima. Kalau ke Pekanbaru, aku menelepon Ti dari wartel. Kini aku tahu bahwa dia masih sendiri. Dia sangat kehilangan dan membenciku karena tiba-tiba saja menghilang. Dia juga mengatakan bahwa tidak pernah marah. Ajakanku untuk menikah membuatnya terkejut. Aku tidak pernah memberikan kesempatan kepadanya untuk menjawab.

Sebenarnya dia juga mencintaiku. Buktinya, hampir sepuluh tahun dia masih menungguku. Dia memilih pekerjaan jadi wartawan karena yakin suatu saat pasti akan bertemu denganku kembali. Dia tidak mau pekerjaannya jadi penghalang untuk menikah denganku. Kalau jadi wartawan dia bisa pergi ke mana saja dan bekerja di kota mana saja aku bekerja. Dia siap untuk ikut aku. Aku juga bercerita kepada Ti bahwa aku benar-benar telah siap untuk menikah sekarang. Aku mulai menghargai gaji yang kukumpul selama ini.

Kemarau panjang akibat El Nino mulai memberi dampak besar terhadap penurunan kualitas lingkungan hidup di Indonesia. Persiapan lahan yang kami kami lakukan dengan membakar hutan mulai jadi masalah. Hampir dua juta hektar lahan telah terbakar di pulau Sumatera. Kabut asap menyelimuti seluruh pulau Sumatera. Malaysia dan Singapura sudah sangat menderita. Mereka protes. Pemerintah mulai menyoroti kegiatan kami.

Entah karena Ti, atau karena mati rasaku mulai hilang, kesadaran lingkunganku berangsur pulih. Aku mulai menyadari luar bisanya dampak yang kami timbulkan dari membakar hutan. Anak anak sekolah tidak bisa lagi berolahraga di lapangan terbuka. Main sepak bola juga tidak bisa lagi. Semua orang keluar rumah harus menggunakan masker. Penyakit saluran pernafasan mulai meningkat. Jutaan binatang kehilangan habitatnya.

Pemerintah makin gencar bersuara untuk menindak pelaku pembakaran hutan. Aku cuma tertawa sinis. Omong kosong pemerintah tidak tahu siapa pembakar hutan. Dari kordinat lokasi kebakaran, pemerintah pasti tahu siapa pengelola lahannya. Gertak sambal pemerintah untuk menindak pengusaha bahkan jadi olokan di antara kami.

”Memang pemerintah itu siapa?. Paling-paling disogok sedikit aparatnya, lama-lama kasusnya jadi diam sendiri!”

Kami semua tahu, belum ada satu pun peraturan lingkungan yang dapat dijalankan dengan baik di negara ini. Selama penguasa masih jadi kacung pengusaha, maka lingkungan Indonesia tidak akan pernah mendukung kualitas hidup rakyatnya.

Tekadku untuk berhenti sudah bulat. Aku sudah memastikan untuk menikahi Ti. Dia juga setuju. Kami akan bertemu di Medan. Kebetulan dia juga ditugaskan untuk meliputi berita kabut asap di daerah Labuhan Batu.

Kawasan hutan di Labuhan Batu juga sudah dijarah untuk dijadikan lahan perkebunan Kelapa Sawit. Bahkan hutan lindung juga mereka habisi. Semua terlibat. Pengusaha dan penguasa sudah jadi satu kesatuan penjarah hutan. Rakyat kecil selalu jadi kambing hitam karena dituduh jadi penebang liar. Illegal loging.

Aku tidak setuju dengan istilah illegal, karena semua kegiatan penjarahan hutan itu diketahui, direstui dan hasilnya dinikmati oleh semua yang terlibat. Penegak hukum, eksekutif dan legislatif seakan menyatu sebagai tangan penjarah hutan. Aku juga. Untung saja aku tidak ditangkap sebagai pelaku penebang liar. Kalau pengusaha dan penguasa butuh kambing hitam, maka tentu aku sangat potensial jadi korban pertama. (Bersambung/***)

Foto: Jaya Arjuna (ist)
Foto: Jaya Arjuna (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR