Foto: Ilustrasi (ist)

(Untuk Bapak T. Rizal Nurdin, Raja Inal Siregar, Ustadz Abdul Halim Harahap dan seluruh korban kecelakaan pesawat terbang di manapun dan kapanpun. Semoga arwah mereka diterima di sisi Allah dan diberi balasan sesuai keyakinan dan amal ibadahnya)

11 Juli 1979
Lengkaplah sudah statusku sebagai orang yang sebatang kara di dunia. Sesungguhnya, bukan hanya aku yang mengingat tanggal kesebatangkaraan itu. Pada waktu yang sama, pesawat terbang Foker F-28 milik Garuda yang bernama Memberamo jatuh setelah menabrak Gunung Sibayak. Enampuluh satu penumpangnya tewas. Tentunya pada hari itu banyak yang kehilangan orang tua, suami, isteri atau anak serta saudara.

Aku masih kelas dua SMP, dan tidak memiliki sesiapa dan apapun lagi. Nekat, aku berangkat ke Medan. Satu tahun aku berhenti sekolah. Aku bekerja apa saja. Mulai dari mengumpulkan kertas bekas, mencuci piring di rumah makan, jadi kenek angkot dan juga mengasong di Sentral. Aku bisa tidur di mana saja. Di gerbong kereta api, di emperan bioskop dan di mana saja aku merasa harus tidur.

Atas ajakan seorang teman senasib, aku jadi penjual koran. Pagi sekali aku harus bangun dan mengecerkan koran. Seorang Satpam penjaga kantor koran, mengizinkan aku untuk menempati satu sudut kecil ruang bangunan yang dijaganya untuk tempat tidurku. Mungkin dia bercerita dan pemilik usaha itu tahu siapa aku, dan tidak mempermasalahkan statusku sebagai penghuni gelap tetap.

Tahun berikutnya aku mendaftar sekolah kembali. Pagi aku tetap berjualan koran dan siangnya sekolah. Entah mengapa, aku bersemangat sekali untuk tetap hidup dan memiliki kehidupan yang baik. Selain berjualan koran, bila libur aku juga bekerja semrawutan. Aku tidak pernah merasa hidupku berat, karena aku sadar bahwa itu memang takdirku. Aku hanya berusaha menempatkan diri sebaik-baiknya pada posisi terbaik dalam takdirku.

Setamat SMP, aku melanjutkan sekolahku. Masa puber aku lewati tanpa ada kesan berarti. Selain masalah hubungan sosial, aku bisa melewati sekolahku dengan baik. Aku tidak memiliki seorang teman yang kurasa atau merasa dekat. Khusus untuk masalah pendidikan, aku merasa beruntung karena aku diterima di perguruan tinggi negeri. Meski masalah ekonomi dan pendidikan dapat aku atasi, tetapi aku masih menghadapi masalah sosial. Aku tetap beranggapan tidak akan ada yang mau berteman dengan seorang penjual koran yang hidup sebatang kara. Aku hidup sendiri, dan terbiasa sendiri.

Siang itu hujan lebat sekali. Aku berteduh pada sebuah emperan rumah. Dalam guyuran hujan lebat, seorang gadis memasuki halaman rumah. Dia melirik kepadaku dan langsung masuk rumah. Aku tidak peduli, hanya aku berharap dia tidak mengusirku karena hujan masih lebat sekali. Tidak berapa lama dia keluar dan berusaha mengajakku masuk ke rumah.

”Masuk saja, Bang. Hujannya masih lama lagi!” katanya.
Aku menatap matanya dan aku melihat ketulusan ajakan itu. Entah mengapa, aku tidak bisa menolaknya.

”Namaku Ti. Begitu kawanku selalu memanggil,” dia memperkenalkan diri dan kemudian bercerita bahwa di rumah kos itu dia tinggal bersama lima orang temannya.

Waktu aku mengatakan tempat tinggalku, dia segera menyelutuk: ”Patut abang selalu kulihat lewat di jalan ini. Abang kuliah di Sastra kan? Aku beberapa kali melihat abang, tetapi tidak berani menegur karena kulihat abang tidak pernah berbicara. Bahkan aku fikir mungkin abang bisu,” dia terus menyerocos.

Ti bercerita bahwa dia ingin jadi wartawan. Orang tuanya di Jawa. ”Kita sama-sama sendiri di Medan bang,” begitu katanya mengajuk hatiku. Tampaknya berbicara merupakan salah satu kebutuhan dasar hidupnya.

Baca juga: http://www.gapuranews.com/cepren-jatuh-karya-jaya-arjuna-2/

Aku hanya berkomentar sesekali. Itupun berat sekali kurasa, namun hatiku senang sekali karena dia sangat ikhlas memanggil abang padaku. Sebagai orang yang tidak hidup pada sebuah institusi keluarga, pertuturan ikhlas begitu sangat terasa asing bagiku. Sewaktu hujan mulai reda, aku permisi pulang. Dia menyatakan kalau jumpa lain kali, aku harus menegurnya. Entah mengapa, aku mengiyakan saja.

Beberapa kali pertemuan membuat aku merasa dekat dengannya. Dia anggota aktif kelompok pencinta alam di kampus. Sewaktu diajak mengikuti kegiatan mendaki Gunung Sibayak, aku ikut saja. Aku bahkan berusaha mencari orang yang dapat menggantikanku untuk mengantar koran bila aku jalan dengan Ti. Dengan modal yang ada, aku berusaha membuka kios jualan koran. Ajakan Ti untuk mendaki gunung merupakan berita yang sangat berharga dan kutunggu. Aku tidak bisa menolak Ti membayar biaya perjalanan kami.

”Bukan aku tidak menghargai abang, tapi biarkan aku yang membayarnya. Kiriman uang dari orang tuaku cukup dan bahkan berlebih. Aku yakin abang punya cita-cita yang besar. Walau aku tidak tahu, anggap saja aku sangat mendukungnya. Abang gunakan uang itu nantinya untuk memberhasilkan cita-cita abang itu!”

Lama-lama aku merasa dekat dengan Ti. Bahkan sangat tergantung sekali dengan keberadaannya. Tapi aku tidak pernah berani mendefinisikan posisiku pada hati Ti. Semangat hidupku seakan baru lahir. Berdekatan dengan Ti membuat aku merasa berhak hidup dan mempertahankan hidupku di dunia ini.

Kuliahku bisa kuselesaikan dengan baik. Selain hubungan dengan Ti, masalah sosialku masih kental seperti semula. Walau aku berhasil menyelesaikan skripsi dengan baik menurut penilaian pembimbingku, aku sendiri tidak mengerti mengapa aku harus melakukan itu. Aku bahkan jadi bingung sekarang: selesai wisuda, apa yang harus kulakukan?

Hanya bertemu dengan Ti yang membuat kebingunganku hilang. Ti masih kuliah tiga semester lagi. Aku sangat takut kalau dia tamat nanti, tentu dia akan kembali ke Jawa. Sungguh. Aku tidak mau dan tidak siap kehilangan Ti. (bersambung/***

  • Karena panjang, maka Cerpen ‘Jatuh’ karya Jaya Arjuna dibagi dalam beberapa bagian-Redaksi
Foto: Jaya Arjuna (ist)
Foto: Jaya Arjuna (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR