candi-sukuh2_1SEBELUM Candi Sukuh, di Kecamatan Ngargoyoso, dilakukan pemugaran total, sejumlah petugas melakukan pemetaan terhadap bangunan candi. Terkait itu, tim akan membedah fisik candi dan menyematkan teknologi perkuatan bangunan sebelum mengembalikannya seperti semula.

“Batu penyusun candi akan kami turunkan. Para pakar akan meneliti penyebab elevasi candi menurun. Kemudian merekomendasikan pemakaian bahan-bahan yang dapat memperkuat pada saat menyusun kembali batu-batu itu,” kata Suyadi, Pelaksana Lapangan Pemugaran Candi Sukuh dari BPCB Jawa Tengah, hari ini.

Untuk menjaga keutuhan dan keaslian bangunan purbakala ini, tim mengacu hasil rekaman tata letak tiap bongkah batu penyusun candi saat akan mengembalikannya seperti semula. Diterapkan pula metode penomoran bongkah batu di bangunan utama untuk memudahkan pemasangan kembali.

Dalam proses tersebut, lanjut Suyadi, tim akan melibatkan pakar geologi dan arsitek bangunan prasejarah dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Sejauh ini, tim merekomendasikan penggunaan hidraulic cement morta atau campuran berbahan lentur yang dapat merapatkan bongkahan batu

Menurutnya, kondisi bangunan utama Candi Sukuh cukup kritis. Candi bersejarah ini, mengalami penurunan level bagian penyusun candi karena termakan usia. Secara kasat mata, penurunan ini terlihat di dinding sisi selatan yang menggembung dan latar atap candi ambles di sisi yang sama.

“Dinding batu sisi selatan menggelembung. Air hujan melarut dari atas lewat sela-sela batu. Kemudian muncul rongga yang menyebabkan bagian atasnya ambles,” katanya.

Ditambahkannya, proses pengerjaan membutuhkan waktu selama 160 hari BPCB hanya menyelesaikan pembongkaran total dan pengembalian empat lapisan dasar candi. Sedangkan penyusunan utuh candi Hindu ini diperkirakan butuh waktu selama dua tahun. (gr)

Ilustrasi foto Candi Sukuh (ist)

TINGGALKAN KOMENTAR