buku sarinah peluncuran001
“Buku Sarinah” edisi terbaru oleh Dr. Ir. Sukarno

WANITA dan Sukarno memang tak dapat dipisahkan. Kecintaan Presiden Presiden Pertama RI pada wanita ini pulalah yang kemudian menjadi sorotan media Barat pada waktu itu. Tak terhitung banyaknya pemberitaan miring tentang kesukaan Bung Karno terhadap wanita.

Pernah satu kali Bung Karno mengeluh,”Ya, ya, ya aku mencintai perempuan, Ya, Aku mengakui itu. Tetapi aku bukanlah seorang playboy seperti yang mereka tuduhkan. Di Tokyo aku pergi dengan kawan-kawan ke suatu Rumah Geisha. Tidak ada sesuatu yang tidak sopan dari Rumah Geisah itu. Orang sekedar duduk, makan-makan, bercakap-cakap dan mendengarkan musik, Hanya itu. Tetapi dalam majalah-majalah Barat dikembangkan seolah-olah aku ini Le Grand Seducteur, Sang Perayu Agung,”

Pernah juga dalam suatu lawatan ke Filipina, Sukarno disambit dengan sebuah tarian tradisional Lenso sebagai bentuk penghormatan. “Dua orang gadis penari maju dan memintaku untuk ikut menari. Karena tidak mungkin menolaknya, aku mulai menari dan… Klik! Klik! Kilat lampu. Jepretan Kamera! Esoknya sebuah tulisan muncul di media: Inilah Sukarno, pemburu perempuan, beraksi lagi,” kisahnya.

Sukarno memang telah menjadi korban dari reputasinya. Tetapi seperti yang telah diakuinya, hal itu tidak akan menghentikannya untuk mencintai wanita. Salah satu bukti bentuk kecintaannya itu terhadap wanita, diwujudkan dalam sebuah buku ‘Sarinah’ yang diterbitkan pertama kali pada November 1947. Isinya merupakan kumpulan bahan pengajaran Bung Karno dalam kursus wanita.

Di dalam buk Sarinah inilah, kita akan banyak memahami arti sebanarnya wanita dalam sudut padang Sukarno. Tak seperti yang dilekatkan orang, Sukarno mencintai wanita bukan hanya secara lahiriah. Sukarno mencintai wanita dan mengharapkan peran aktif wanita dalam pembangunan Indonesia. Sejajar dengan kaum pria.

Mengapa buku ini, diberi judul Sarinah, Sukarno sendiri menulis, :Saya namakan kitab ini Sarinah sebagai tanda terima kasih saya kepada pengasuh saya ketika masih kanak-kanak. Pangsuh saya itu bernama Sarinah. Ia ‘mbok’ saya. Dari dia, saya banyak mendapatkan pelajaran mencintai ‘orang kecil’. Dia sendiri pun ‘orang kecil’, tetapi budinya selalu besar.”

Melalui buku ini, Bung Karno mengkritisi kebanyakn laki-kaki yang masih memandang perempuan sebagai “suatu blasteran antara Dewi dan seorang tolol.” Dipuji-puji bak Dewi, tetapi sekaligus dianggap tolol dalam beberapa hal lainnya.

Ini cuplikan rilis yang sampai Yayasan Bung Karno dalam peluncuran buku ‘Sarinah’ karya Ir. Sukarno di Gedung Juang, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (18/5).

“Pemikiran dan tulisan Dr. Ir. Sukarno atau Bung Karno mengenai wanita yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul ‘Sarinah’,” kata Pengawas Yayasan Bung Karno, Sukmawati Sukarno, dalam pemaparannya dalam peluncuran Buku ‘Sarinah’ yang pernah diterbitkan tahun 1947 ini.

buku sarinah peluncuran1
Sukmawati Sukarno tandatangai buku bagi peminat “buku Sarinah”

Sukmawati mengatakan, sangat perlu untuk diterbitkan kembali dan dibaca kaum wanita Indonesia.

“Buku ‘Sarinah’ ini pun menjadi bahan pedoman perjuangan wanita nasionalis Indonesia dalam mewujudkan harkat dan martabatnya sebagai bangsa yang merdeka, membangun masyarakat yang adil dan makmur, serta menciptakan ‘Dunia Baru’ yang damai,” kata Sukmawati.

BUNG KARNO MELAMPAUI

Lili Wahid dalam kesemapatan peluncuran ‘Buku Sarinah’ menilai,Jauh sebelum adanya kewjiban Kuota 30% untuk anggota DPR RI, Bung Karno sudah sangat peduli dengan wanita.

“Bung Karno sudah membuat konsepnya dengan Sarinah. Bung Karno menilai perempuan punya pontensi sendiri jika diberdayakan. Tahun 1952 didirkanlah Muslimat NU, itu adalah karena mengikuti konsep Bung Karno,” kata Lili Wahid.

Guruh Sukarno Putra dan Amelia A. Yani pun senada dengan Sukmawati dan Lili Wahid, bahwa ‘Buku Sarinah’ sangat layak untuk dibaca. Sebab, banyak manfaatnya bagi wanita Indonesia.(gardo)

TINGGALKAN KOMENTAR