Foto ilustrasi Gajah Mada (ist)

“Kidung Nusantara’ tidak semata bicara Patih Gajah Mada semata, tapi juga mengungkap kerajaan Singosari.

 

MALANG – Cukup banyak literatur tentang Patih Gajah Mada yang pernah ditulis dengan berbagai versi. Salah diantaranya, adalah buku ‘Kidung Nusantara’ yang ditulis oleh Dony Purniawan.

“Buku Kidung Nusantara ini menceritakan perjalanan Patih Gajah Mada, yang langsung saya tafsirkan dari kitab sutasoma dan juga Kitab Nagarakretagama” kata Dony, di Malang, Kamis (9/3/2017).

Sebagaimana penulis lainnya, Dony pun menginginkan bukunya booming dan dibicarakan kalangan akademis. Akan tetapi, nasib berkata lain, buku ‘Kidung Nusantara’, yang ditulisnya belum satupun penerbit yang meliriknya.

“Penerbit memang belum saya hubungi, dengan keterbatasan akses, sehingga belum ada yang tahu,” kata Dony.

Buku yang ditulis Dony, tidak semata bicara Patih Gajah Mada semata, tapi juga mengungkap kerajaan Singosari. Selain itu katanya, dalam bukunya Dony juga membiarakan masalah Bhinneka Tunggal Ika. Dimana paparnya, masih ada filosofi lainnya, yakni ‘Tan Hana Dharma Mangrwa’.

Foto: Dony Purniawan (alshafa)

“Tan Hana Dharma Mangrwa merupakan kelanjutan Bhinneka Tunggal Ika,” ucap alumnus Ilmu Hukum di Universitas Swasta Kota Malang ini.

Dony menilai, bahwa Bung Karno telah memenggal padanan kata tersebut, menjadi Bhinneka Tunggal Ika, namun sebenarnya ada kelanjutan dari kata Bhineka Tunggal Ika, yaitu Tan Hana Dharma Mangrwa. “Yang artinya tidak ada kebenaran yang mendua, sebagai perekat dan pemersatu bangsa,” tegasnya.

Meski belum dilirik penerbit, ‘Kidung Nusantara’ lanjut Dony sempat ditawar untuk dilayarlebarkan oleh seorang produser film, namun ditolak. Alasannya cukup sederhana, oleh sang produser nama penulis harus dihilangkan.

“Sebagai seorang penulis, saya harus punya sikap. Meski ada yang ingin melayarlebarkannya, tapi nama saya sebagai penulis harus hilang, ya saya tolak,” ujar pria kelahiran Surabaya, 2 Juli 1973 ini. (alshafa/gr)

TINGGALKAN KOMENTAR