MEDAN – Kota Binjai, Sumatera Utara sebagai saksi berkumpulnya 100 penyair, yang diklaem Se-Indonesia itu meluncurkan sebuah buku ‘100 Penyair Indonesia Dalam Antologi Puisi Binjai’ oleh Komunitas Sastra Masyarakat Binjai (Kosambi).

Dalam kesempatan itu juga dideklarasikan Komunitas Sastra Masyarakat Binjai (Kosambi) dan mengenang Chairil Anwar, di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Binjai, Minggu (28/4/2019)

Ketua Panita Yunus Tampubolon mengatakan, terlaksananya kegiatan tersebut, tak terlepas dari pertemuannya dengan penyair Tsi Taura. Kemudian dia mengajak penyair yang juga jaksa itu, untuk kembali menghidupkan sastra di Binjai.

“Binjai adalah Kota Kebudayaan. Dari sini lahir Amir Hamzah. Maka semangat berkebudayaan harusnya tetap hidup di Binjai bersama ruh Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ” kata Yunus yang juga penyair ini.

Yunus Tampubolon yang dikenal sebagai penyair Binjai ini menegaskan, Binjai kini sudah jauh dari sebutan kota budaya. Sebab, semangat sastra dan kebudayaan telah meredup di kota yang dikenal sebaga ‘Kota Rambutan’ ini.

Silaturahmi sastrawan Binjai dan sekitranya (ayub badrin)

“Oleh karenanya dengan hadirnya Kosambi ini, kita kembalikan lagi semangat berpuisi dan berbudaya agar Binjai kembali menjadi kota yang mampu melahirkan sastrawan sastrawan bertaraf nasional, ” kata Yunus bersemangat.

Dalam kesempatan itu, tampil sebagai note speaker adalah Profesor Wan Syaifuddin, Mihar Harahap dan Damiri Mahmud. Acara yang cukup marathon, diawali pukul 9.00 tersebut berakhir hingga pukul 17.00 WIB .

Acara peluncuran buku yang berubah menjadi pertemuan para sastrawan itu menjadi menarik sebagai ajang silaturahmi menjelang Ramadhan. Hadir para pekerja seni, diantaranya Amran SD, tokoh Teater Nasional (TENA) Medan yang berdomisili di Binjai. Nampak juga sastrawan Sulaiman Sambas dari Deli Serdang, Hidayat Banjar dan Nasib TS tetapi tak terlihat penyair Sugeng Satya Dharma dan Mahyuddin Lubis.

Tampak juga selain, Yunus Tampubolon dan Tsi Tahura, Idris Pasaribu, Kajari Binjai Victor Antonius Saragih, Kadis Pendidikan Binjai, Indriani, Porman Wilson Manalu, Kuntara DM, Suyadi San, Agus Susilo, Jo Hendri Chaniago, penyair-penyair muda yang puisinya dimuat dalam buku tersebut.

Buku sastra yang diluncurkan. (ayub badrin)

Dalam pidatonya, penyair Tsi Tahura mengatakan, bahwa hukum mestinya tidak berdiri kaku melulu soal salah benar, tetapi seorang jaksa mestinya juga mengenal puisi. Perkara-perkara itu ada juga yang puisi.

Kata Taura yang juga menjadi Pengawas Kosambi, jika seorang nenek mencuri dua tiga potong semangkah lalu dibawa ke pengadilan, ini sebuah puisi. “Jadi tidak hanya menyangkut hukum positif saja tetapi juga hukum negatif, ” ujarnya.

Begitu juga jika menghadapi kasus pemerkosaan anak di bawah umur. Ini juga kata Tahura adalah puisi puisi.

“Kasus yang seperti ini hendaknya tidak dibawa kepengadilan. Ini puisi, ” ujarnya.

Jaksa Antonius sebagai Kajari dalam sambutannya, mengaku meminta agar acara ini diadakan di kantornya, mengatakan hukum adalah bagian dari kebudayaan. Jadi dalam keputusan satu perkara tidak terlepas dari kearifan lokal.

Para penyair yang puisinya dibukukan. (ayub badrin)

“Maka puisi menjadi penting dalam penegakan hukum. Bagaimana kearifan lokal dapat mempengaruhi prilaku berkebangsaan. Menanamkan rasa sopan santun pada generasi muda. Oleh karenanya, hukum dan kebudayaan serta kearifan lokal itu saling berhubungan, ” ujar Antonius.

Dalam diskusi yang melelahkan itu dibahas puisi puisi yang ada di dalam buku selain membacakannya. Dipertanyakan juga mengapa buku tersebut berjudul 100 penyair? Dan penyair menjadi pertanyaan di sana.

Profesor Wan Syaifuddin meminta agar orang hanya melihat puisi saja tanpa mempertanyakan apakah sipembuat puisi adalah penyair atau bukan.

Menurut profesor ini menjadi tidak penting, seorang penyair akan terseleksi oleh masyarakatnya sendiri. Dikotomi ini kemudian disepakati sebagai penyair dan penulis puisi.

“Pujangga itu, ia mampu mengungkapkan sejernih jernihnya terhadap seorang penguasa. Tetapi itu dahulu. Jadi jangan melihat penulisnya tetapi lihat puisinya saja, ” ujarnya.

Sekrataris Kosambi Suyadi San mengatakan, buku ini telah mengalami kurasi dengan sangat selektif. Sehingg buku ini hanya mengumpulkan energi positif. Karena buku ini akan menjadi sovenir untuk para turis yang berkunjung ke Binjai.

“Sehingga apakah yang menulis puisi di buku adalah penyair kita lihat ke depannya. Apakah dia memang benar benar penyair atau berhenti sampai di sini,” kata Suyadi.

Menurut Suyadi buku kumpulan puisi yang perdana ini setebal 392 halaman dengan 292 puisi dari 100 penyair seluruh Indonesia diantaranya ada dari Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, Riau, Lampung, Jawa Timur dan Maluku Utara.

Damiri Mahmud berpendapat Chairil Anwar adalah penyair yang mengidolakan Amir Hamzah. Penyair Medan. Puisi puisi Chairil Anwar tidak dipengaruhi oleh Barat.

“Di banyak sajaknya, akan mudah ditemukan nafas pantun, ungkapan, umpatan, diksi, dan idiom Melayu, yang khas Medan, seperti hambus, menginyam, menjengkau, sintuh, mengelucak, kupak, sekali tetak, bermuka-muka, remang miang..!”

Damiri menepis pandangan Teeuw, Goenawan, Yassin ,dan beberapa pihak yang mencap Chairil, yang lahir di Medan itu, banyak dipengaruhi Marsman, Slauerhoff, dan filsafat Barat.

“Sewaktu di Medan, sampai umur 20, kepenyairannya sebenarnya sudah penuh. Dengan kekayaan kata dan bahasa Melayu. Chairil sangat jelas dipengaruhi oleh budaya Melayu. Dengan lagak dan karakter Medan! Tujuh tahun di Jakarta, adalah periode ledakannya,” ujarnya.

Namun sempat dibantah oleh Siamir Maralafau. Dia menuding puisi Kerawang Bekasi merupakan puisi plagiat dari penyair Barat. Idris Pasaribu mempertanyakan. Menurutnya, Chairil Anwar bukan plagiat tetapi mendapat inspirasi dari sebuah buku yang mengulas peristiwa Kerawang Bekasi.

Acara yang dipandu oleh Jo Hendri ini juga di isi dengan pembacaan puisi oleh, Tsi Taura, Agus Susilo, Yunus Tampubolon, Siamir Maralafau dan musikalisasi puisi okeh SMK 2 Binjai, Teater Generasi dan SMK 1 Binjai.

Dipucuk acara Syarifuddin Lubis, wakil Sekretaris Kosambi, membacakan sebuah rekomendasi tentang Chairil Anwar yang diusulkan supaya menjadi pahlawan nasional dan nama salah satu jalan di kota Binjai. (ayub badrin)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here